Tinggalkan komentar

Wa-in Tashbiru Watattaqu (Tipu Daya Mereka tak Berarti)

Di masa-masa memanasnya suhu perpolitikan dan perebutan kekuasaan seperti saat ini, perang media dan teror informasi berseliweran menyibukkan akal-akal manusia. Tidak terkecuali kita kaum muslimin. Tanpa disadari, jiwa-jiwa kaum muslimin telah menjadi ladang bagi peperangan informasi–yang notebene disetir oleh kafirin–tersebut. Bagi seorang muslim yang masih memiliki patriotisme dan kecintaan terhadap Islam, namun minim ilmu, teror media adalah bencana yang bisa menggelincirkan mereka.

Jangan jauh-jauh. Sebagian pemuda Islam, yang terbakar oleh semangat patriotisme tanpa arah, telah melakukan apa yang mereka lakukan, berupa teror dan peledakan atas nama jihad. Mereka adalah satu dari sekian contoh korban perang informasi dan pemikiran yang dimainkan oleh Barat (baca: orang-orang kafir), yang memanfaatkan sisi keawaman berbalut kecintaan mereka terhadap Islam itu sendiri.

Ada lagi yang termakan oleh propokasi media dan jejaring sosial (semisal Facebook, Twitter, broadcast WhatsApp, dll), bahwa demokrasi adalah jembatan (berduri) satu-satunya yang harus ditempuh untuk meminimalkan kerusakan yang dihasilkan oleh demokrasi itu sendiri.

Di sini, kita tidak sedang membahas perbedaan pandangan para ulama’ tentang penerapan kaidah akhoffud dhara-rain (mengambil mudarat terkecil). Di sini, kita hanya akan memokuskan perhatian pada dampak “ketakutan berlebihan” sekaligus penyebaran wabah “ketakutan berlebihan” oleh media informasi, yang telah menimbulkan–sedikit tidak–keretakan pada tameng persatuan Islam, tidak terkecuali bagi persatuan antar sesama ahlussunnah.

***

al-Qur’an mengajarkan kita untuk bersikap tenang dan berjalan di atas petunjuk ulama rabbani dalam menyikapi informasi atau isu-isu yang bisa mengganggu stabilitas ketentraman dan persatuan kaum muslimin jika disebarluaskan.

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (ulama rabbani) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri/ulama rabbani). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [QS. an-Nisaa’: 83]

Namun sayang beribu sayang, isu-isu yang belum jelas kebenarannya, kita telan mentah-mentah begitu saja. Tanpa mau tatsabbut (kroscek). Boleh jadi isu-isu tersebut datang dari musuh-musuh Islam sendiri yang menginginkan timbulnya perpecahan di tubuh Islam.

Salah satu isu yang santer menghebohkan dan menjadikan ahlussunnah tidak bisa tidur nyenyak adalah, isu tentang bakal berkuasanya kekuatan kafir di Indonesia, yang telah sejak lama direncanakan oleh kaum Syi’ah, Liberal-Prularis, dan Mulhidiin.

Kita tidak memungkiri adanya upaya-upaya kaum kafir untuk merebut kekuasaan dari kaum muslimin. Tidak, sama sekali tidak. Karena itu adalah fakta tak terbantahkan. Toh, kalaupun kekuatan kafir bisa berkuasa di negeri ini, maka itu semata-mata disebabkan oleh jauhnya kaum muslimin dari Islam itu sendiri.

Kemustahilan orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang Islam, telah dinyatakan oleh Allah sendiri, tentunya dengan syarat; kita harus benar-benar menjadi mukmin yang sejati di mata Allah, bukan sekedar ber-KTP Islam–sebagaimana kata orang–.

“Allâh sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan (menguasai) orang-orang beriman.” [QS. An-Nisaa: 141]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا تبايعتم بالعينة و أخذتم أذناب البقر و رضيتم بالزرع و تركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم

“Jika kalian telah berjual-beli dengan cara ribawi, dan kalian telah mengekor di belakang ternak, telah ridha dengan pertanian (ini semua adalah gambaran kecintaan pada dunia dan jauh dari akhirat), dan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan, yang tidak akan dicabut, sampai kalian kembali pada agama kalian.” [Shahihul Jami’: 423]

Jika Allâh menjadikan orang-orang kafir atau fasiq berkuasa dan semena-mena terhadap kita, maka sungguh itu karena Allâh ingin mengadzab kita dikarenakan dosa-dosa yang kita perbuat, disebabkan kezhaliman yang kita lakukan, sehingga Allâh menghukum kita dengan berkuasanya penguasa yang zhalim.

“Dan demikianlah, Kami jadikan sebagian orang zhalim berkuasa atas sebagian mereka (yang juga zhalim) disebabkan apa-apa yang mereka usahakan (berupa maksiat dan kezhaliman).” [QS. Al-An’âm: 129]

Dalam tafsirnya, Al-A’masy rahimahullâh mengomentari ayat tersebut:

إذا فسد الناس أمّر عليهم شرارهم

“Jika manusia telah rusak, maka akan dijadikan untuk mereka pemimpin yang paling jahat di antara mereka.”

***

Ada satu ayat dalam al-Qur’an, terkait masa-masa fitnah seperti saat ini, yang sudah sepatutnya kita kaji dan kita resapi maknanya sedalam mungkin, untuk kemudian diaplikasikan sebagai wujud ats-tsiqah billaah, totalitas keyakinan kita akan janji-Nya subhaanhu wa ta’aala.

“Jika kamu (orang-orang beriman) memperoleh kebaikan, niscaya mereka (orang-orang kafir) bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” [QS. Ali ‘Imraan: 120]

Qatadah rahimahullâh menafsirkan:

“Jika mereka melihat persatuan dan soliditas orang Islam serta kejayaan mereka di atas musuh-musuhnya, maka mereka tersiksa karena benci. Sebaliknya jika mereka melihat perpecahan dan perselisihan di barisan orang Islam, atau sebagian kaum muslimin ditimpa musibah, maka mereka gembira….” [dinukil dari Tafsïr ath-Thabari: 7/155-156]

Bertolak dari tafsiran Qatadah di atas, maka persatuan dan soliditas ahlussunnah harusnya menjadi tujuan bersama yang mutlak untuk diperjuangkan. Karena inilah sasaran tembak utama moncong-moncong sentaja kuffâr untuk dilumatkan dan dihancurleburkan.

Namun jika kenyataannya, kita sendiri yang mengoyak-ngoyak persatuan dan soliditas ahlussunnah tersebut dengan ikut andil mempromokan propaganda rasa takut berlebihan akan berkuasanya orang-orang kafir di negeri ini, maka bersiaplah menggali lubang untuk diri kita sendiri.

***

Kemudian renungkanlah bagaimana janji Allah bagi orang-orang yang bersabar dan bertakwa (seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah dalam menjalani derita dakwah di periode Makkah). Sungguh tipu daya sehebat apapun dan master-plan kejahatan selicik apapun yang dicanangkan oleh musuh-musuh Islam, tidak akan mendatangkan mudarat berarti bagi Islam dan kaum muslimin. Syaratnya adalah (sebagaimana diungkapkan oleh al-Imam Ibnu Jariir ath-Thabari dalam Tafsir ath-Thabari: 7/155):

Pertama; bersabar di atas ketaatan pada Allah, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya berupa; loyalitas kepada orang-orang kafir, menjadikan mereka sebagai bithonah (teman kepercayaan), dan lebih mengutamakan mereka daripada orang-orang mukmin.

Kedua; bertaqwa kepada Allah dalam menunaikan hak-hak-Nya (berupa tauhid dan peribadatan yang murni) dan hak-hak Rasul-Nya (berupa sunnah).

***

Lombok, 20 Jumada ats-Tsâniah 1435 / 20042014

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

artikel: www.alhujjah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: