Tinggalkan komentar

Khutbah Jum’at: “Haditsul Bithoqoh (Kisah Secarik Kertas)”

Disampaikan oleh Jo Saputra “Abu Ziyan” Halim (semoga Allâh mengampuninya) di Masjid al-Ikhlas – Mataram, Jum’at, 09 Mei 2014.

***

Khutbah Pertama

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين وسلم تسليماً كثيرا.

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an…. mengawali majelis Jum’at yang mulia ini, marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita pada Allâh tabâraka wa ta’âla. Karena takwa adalah, bekal satu-satunya yang bisa menyelamatkan seorang hamba di akhirat kelak. Karena takwa, adalah pemberat timbangan kebaikan di hadapan Allah, Hakim alam semesta, yang akan mengadili segenap makhluk dengan seadil-adilnya.

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an….

Takwa yang paling agung adalah tauhid. Tidak ada ketakwaan yang melebihi ketakwaan di atas tauhid. Tidak ada hamba yang bisa dikatakan bertakwa, jika tidak bertauhid. Karena kita tercipta, demi mewujudkan tauhid. Langit ditegakkan, dihiasi dengan bintang-bintangnya, demi menjadi saksi akan tauhid. Bumi dihamparkan dengan segenap isinya, demi tauhid. Surga dihiasi, sebagai anugrah bagi muwahhiduun, orang-orang yang bertauhid. Neraka dinyalakan, untuk menghukum orang-orang yang enggan dan sombong menjalankan tauhid. Para Nabi dan Rasul diutus, dan kitab-kitab diturunkan, demi memaparkan tentang tauhid. Dan jihad tidaklah disyari’atkan, melainkan semata-mata demi menegakkan kalimat tauhid.

Lantas, ma’âsyirol muslimïn…, di manakah posisi kita saat ini dalam memaknai, dalam memahami, dan mengamalkan tauhid? Sudahkah kita, benar-benar bertauhid kepada Allâh?, Dzat yang menciptakan kita, dan memelihara kita?

Ma’âsyirol mukminïn… Esensi tauhid, terangkum dalam kalimat syahadat “Lâilâha illallâh”. Seuntai kalimat agung yang sarat akan fadhilah.

Dalam hadits Abdullâh bin ‘Amr bin al-’Ash radhiallâhu’anhuma, disebutkan sebuah kisah yang tersohor dengan sebutan hadïtsul bithôqoh. Kisah tersebut dituturkan sendiri oleh Rasûlulâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

يصاح برجل من أمتي يوم القيامة على رءوس الخلائق

Kelak di akhirat, akan dipanggil seorang laki-laki dari ummatku, di hadapan segenap makhluk.

فينشر له تسعة وتسعون سجلا كل سجل مد البصر

Maka dibentangkan di hadapannya 99 lembar catatan dosa, masing-masing lembar sejauh mata memandang.

ثم يقول الله عز وجل: هل تنكر من هذا شيئا؟

Lantas Allah berkata kepadanya; “apa ada yang engkau ingkari dari catatan-catatan itu sedikit saja?”

فيقول: لا يا رب.

Hamba laki-laki itu tertunduk hina dan pasrah seraya menjawab: “tidak, Yaa Rabb”.

فيقول: أظلمك كتبتي الحافظون؟ ثم يقول: ألك عن ذلك حسنة؟فيهاب الرجل فيقول: لا.

Kembali Allâh berkata kepadanya: “apa malaikat-malaikat-Ku yang bertugas mencatat amal ada melakukan kezaliman terhadapmu? Memanipulasi catatan-catatan amalmu? Apa engkau tidak memiliki catatan kebaikan? Dengan rasa takut yang memuncak, hamba tersebut menjawab: “tidak ada”.

فيقول: بلى إن لك عندنا حسنات وإنه لا ظلم عليك اليوم.

Allah jalla wa ‘alâ kemudian berkata kepadanya: ‘Ada, engkau di sisi Kami memiliki kebajikan-kebajikan, dan pada hari ini, tidak ada sedikitpun kezaliman atasmu.’

فتخرج له بطاقة فيها أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله.

Maka dikeluarkanlah untuknya secarik kertas, di dalamnya tertulis Asyhadu allâilâha illallâh wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasûluh.

قال: فيقول: يا رب ما هذه البطاقة مع هذه السجلات؟ فيقول: إنك لا تظلم، فتوضع السجلات في كفة والبطاقة في كفة فطاشت السجلات وثقلت البطاقة

Hamba itu berkata: ‘Yaa Rabb, apa artinya secarik kertas ini dibandingkan dengan catatan-catatan dosa itu?’ Allâh tabâroka wa ta’âla menjawab: ‘Sungguh, engkau tidak akan dizalimi.’ Maka diletakkanlah 99 catatan dosa itu di satu daun timbangan, dan secarik kertas itu di satu daun timbangan yang lain. Sembilan puluh Sembilan catatan dosa itu tiba-tiba melesat ke atas, karena beratnya timbangan secarik kertas yang bertuliskan kalimat tauhid.

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ahmad, al-Hakim, dan Ibnu Mâjah. [lih. Shahïhul Jâmi’: 1776]

Ma’âsyirol mukminïn…sidang Jum’at yang dimuliakan oleh Allâh. Kisah mengagumkan di atas, adalah satu di antara sekian banyak hadits yang berbicara tentang keutamaan dan keistimewaan kalimat tauhid “lâilâha illallâh”. Dalam hadits yang lain, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam diriwayatkan pernah bersabda:

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة

“Barangsiapa akhir ucapannya sebelum berpisah dengan kehidupan adalah “Lâilâha illallâh”, maka dia pasti masuk surga.” [HR. Abu Dawud, Shahih]

Dalam riwayat lain disebutkan:

من قال لا إله إلا الله ثم مات على ذلك دخل الجنة

“Barangsiapa mengucapkan “Lâilâha illallâh”, lantas di wafat keadaan itu, maka dia pasti masuk surga.”

Tentunya muncul di benak kita satu pertanyaan besar. “Apakah cukup dengan mengucap kalimat “Lâilâha illallâh” di akhir hayat, kita dengan mudahnya akan melenggang ke surga”. Jawabnya “Ya, memang benar. Ini disebutkan oleh Rasûlullâh dalam banyak haditsnya”. Namun yang menjadi permasalahan adalah; bisakah kita memastikan, adanya jaminan taufik Allah bagi kita, untuk mampu mengucapkan kalimat agung tersebut di akhir hayat kita..?? Tidak, sama sekali tidak.

Bahkan para ulama memaparkan, bahwa mereka yang diberi taufik untuk menutup usia dengan kalimat tauhid, hanyalah mereka yang menunaikan syarat-syarat kalimat tauhid tersebut.

Suatu ketika Tabi’in besar al-Hasan al-Bashri pernah ditanya:

إن ناسًا يقولون‏:‏ من قال‏:‏ لا إله إلا الله دخل الجنة!!،‏ فقال‏:‏ من قال‏:‏ لا إله إلا الله فأدى حقها وفرضها دخل الجنة

Orang-orang mengatakan: ‘barangsiapa mengucapkan lâilâha illallâh, maka pasti dia masuk surga’. Maka al-Hasan berkata: ‘Betul, namun bagi mereka yang mengucapkannya dengan disertai penunaian tuntutan dan konsekuensi-konsekuensi kalimat tersebut, merekalah yang akan pasti masuk surga’.

Ma’âsyirol mukminïn…sidang Jum’at yang dimuliakan Allâh. Jika kita menelaah penjelasan para ulama, tentang laki-laki pendosa yang bertemu Allâh dengan segunung dosa dalam Hadïtsul Bithoqoh di atas, maka kita dapati bahwa laki-laki tersebut, bukanlah sembarang laki-laki. Para ulama menjelaskan bahwa laki-laki tersebut, setelah bertaubat dari gelimang dosanya, maut keburu menjemputnya, dia belum sempat beramal. Satu-satunya amal yang dia miliki adalah ucapan kalimat syahadat, “lâilâha illallâh”. Kendati demikian, laki-laki tersebut tidak pernah sekalipun melakukan perbuatan-perbuatan kesyirikan yang bisa mengeluarkannya dari keimanan.

Bahkan, ketika mengucapkan kalimat tauhid, dia mengucapkannya dengan penuh keikhlasan, sarat keyakinan di dalam hati. Justru itulah, yang menjadikannya amat berbobot di sisi Allah. Yang pada akhirnya, mengalahkan 99 lembar rekam-jejak dosa-dosanya, di mana satu lembar catatan, sejauh mata memandang. Ia pun berbahagia meraih ampunan Allâh di akhirat:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa berbuat syirik pada Allâh, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat jauh.” [an-Nisa: 116]

Laki-laki tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, telah menunaikan syarat-syarat lâilâha illallâh. Itulah yang menjadikannya selamat dan meraih karunia Allâh. Kalimat tauhid yang dimilikinya, bukan hanya sekedar ucapan di lisan. Namun benar-benar menghujam ke dalam sanubarinya.

أقول ما تسمعون وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه يغفر لكم إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله عظيم الإحسان ، واسع الجود والفضل والامتنان ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ؛ صلى الله وسلم عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين.

Ammâ ba’du…Ma’âsyirol muslimïn rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an,

Melalui penilitian yang mendalam terhadap dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah, para ulama telah menyimpulkan apa saja syarat-syarat “lâilâha illallâh”. Semuanya terangkum indah dalam sebuah bait syair:

علم يقين وإخلاص وصدقك مع * محبة وانقياد والقبول لها

وزيد ثامنها الكفران منك بما * سوى الإله من دون الله قد ألها

Yang pertama adalah; ilmu, memahami maknanya. Yang kedua adalah; yakin dengan tauhid, tidak boleh ada keraguan. Yang ketiga adalah; ikhlas, tidak boleh ternodai oleh syirik sedikitpun juga. Yang keempat adalah; shidq, jujur, tidak mendustakan di dalam hati. Kemudian yang kelima adalah; mahabbah, mencintai Allâh melebihi apapun juga. Yang keenam adalah; al-Qobul, menerima kalimat tauhid dengan sepenuh hati, tanpa keangkuhan dan penolakan. Yang ketujuh adalah, kufur, mengingkari apa saja yang diibadahi selain Allâh. Dan yang terakhir adalah; inqiyâd, yaitu taat menjalankan konsekuensi-konsekuensi tauhid.

Inilah syarat-syarat kalimat tauhid yang harus diwujudkan agar mendatangkan manfaat bagi seorang hamba baik di dunia maupun di akhirat. Mempelajarinya lebih mendalam lagi, adalah sebuah kewajiban agama. Inilah yang dimaksud dengan perintah Allâh dalam al-Qur’an:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“ilmuilah, pelajarilah, tentang lâilâha illallâh…” [Muhammad: 19]

Ma’âsyirol mukminïn…Syarat-syarat lâilâha illallâh tersebut Ibarat gerigi kunci, tanpanya, kunci tidak akan berfungsi. Sungguh indah apa yang diungkapkan oleh Wahb ibnu Munabbih rahimahullâh, ketika beliau ditanya:

أليس لا إله إلا الله مفتاح الجنة؟ قال: بلى، ولكن ما من مفتاح إلا وله أسنان. وإن جأت بمفتاح له أسنان، فتح لك، وإلا لم يفتح لك.

“Bukankah ‘lâilâha illallâh’ adalah kunci surga..?? Beliau menjawab: ‘benar, namun setiap kunci tentu memiliki gerigi, jika engkau datang membawa kunci yang tepat dan sempurna, maka pintu surga akan terbuka untukmu, jika tidak, maka pintu surga tidak akan terbuka.”

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد ، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. اللهم إنا ظلمنا أنفسنا ظلماً كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفر لنا مغفرةً من عندك إنك أنت الغفور الرحيم. اللهم اغفر لنا ما قدّمنا وما أخّرنا وما أسررنا وما أعلنا وما أسرفنا وما أنت أعلم به منا أنت المقدِّم وأنت المؤخِّر لا إله إلا أنت، اللهم ألِّف بين قلوبنا وأصلح ذاتَ بيننا واهدنا سبل السلام وأخرجنا من الظلمات إلى النور، وبارك لنا في أسماعنا وأبصارنا وقُوَّاتنا أبداً ما أحْيَيْتَنا. اللهم إنا نعوذ بك من فُجَاءَةِ نقمتك ومن زوال نعمتك وتَحَوُّلِ عافيتك ومن جميع سخطك، ربنا إنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ، ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. عباد الله : اذكروا الله يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: