Tinggalkan komentar

Solusi Perpecahan di Tengah Badai Fitnah Politik yang Menimpa Ahlussunnah

Persatuan kaum muslimin, solidnya tautan hati kaum mukminin, dan kokohnya barisan mereka, adalah salah tujuan syari’at Islam yang terbesar. Allah jalla wa ‘ala, amatlah mencintai persatuan, dan sangat membenci perpecahan yang terjadi di tengah-tengah kaum mukminin, terlebih lagi perpecahan di antara mereka yang telah lama mengkaji dan mendalami ilmu-ilmu sunnah dan keindahan ajarannya:

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١٠٥﴾

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” [Ali Imran: 105]

Dalam ayat yang lain, Allah menerangkan, bahwa perpecahan adalah penyakit yang bisa melemahkan kekuatan Islam dan muslimin:

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴿٤٦﴾

“Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [al-Anfâl: 46]

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an….

Putusnya tali persaudaraan, retaknya ukhuwwah imaniyyah, dan hancurnya kasih sayang antar sesama ahlussunnah, adalah satu di antara sekian target dan cita-cita syaitan yang terbesar:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء…﴿٩١﴾

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian …” [al-Mâ-idah: 46]

Cita-cita keji tersebut, kemudian dibisikan dan ditularkan kepada kawanan mereka, syaitan-syaitan manusia, dari kalangan; kâfirïn (orang-orang kafir), munafiqïn (orang-orang munafik), dan mulhidïn (orang-orang yang menyimpang dan sesat):

إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُواْ بِهَا.. ﴿١٢٠﴾

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya….” [Ali Imran: 120]

Ma’âsyirol muslimïn… Dalam menfasirkan ayat tersebut, al-Imâm Ibnu Jarïr ath-Thabari menukil ucapan Qotâdah rahimahullâh yang mengatakan:

فإذا رأوا من أهل الإسلام أُلفةً وجماعةً وظهورًا على عدوهم، غاظهم ذلك وساءهم، وإذا رأوا من أهل الإسلام فُرقةً واختلافًا، أو أصيب طرف من أطراف المسلمين، سرَّهم ذلك

“Manakala mereka, kafirin dan munafiqin, melihat soliditas persatuan kaum mukminin dan keunggulan mereka, maka orang-orang kafir dan munafik itu pun marah, merasa sakit. Namun jika mereka melihat di tengah-tengah kaum muslimin terjadi perpecahan dan keretakan, atau sebagian mereka tertimpa kekalahan, maka mereka pun gembira bukan kepalang…” [Tafsir ath-Thabari: 7/155-156]

Demikianlah Ma’âsyirol muslimïn…, meletupnya api perpecahan di tengah-tengah kita, merupakan tujuan dan cita-cita yang amat diidam-idamkan oleh musuh-musuh Islam.

Maka setiap upaya untuk memecah barisan kaum muslimin, meruntuhkan benteng persatuan mereka, adalah termasuk upaya yang melicinkan jalan syaitan dan musuh-musuh Islam dalam menggapai targetnya. Dan ini sudah barang tentu, adalah keharaman yang besar.

Ma’âsyirol mukminïn rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an…

Di era kecanggihan dan kebebasan informasi seperti saat ini, media masa dan jejaring social di internet, telah menjelma menjadi senjata musuh-musuh Islam yang ampuh, untuk menjebak kau muslimin dalam kubangan fitnah perpecahan.

Terlebih lagi di saat-saat fitnah seperti sekarang ini, di saat suhu pergolakan politik tengah memanas di negeri ini, sebagian kaum muslimin begitu mudahnya menelan mentah-mentah, lantas menyebarkan setiap informasi yang mereka dapatkan dari media-media social di internet.

Melalui jejaring social, setiap orang, tidak terkecuali orang-orang jahil, dengan mengatasnamakan pembelaan terhadap Islam, begitu mudahnya, begitu bebasnya, mereka menyebarkan kabar-berita yang meresahkan kaum muslimin, mereka menebarkan pesimisme dan rasa takut, mereka menggambarkan masa depan Islam yang suram di negeri ini.

“Orang-orang kafir akan berkuasa…, Syi’ah akan membantai kita…, kaum liberalis akan menghancurkan kita…, partai anti Islam akan menjadikan negeri ini, bukan lagi negeri kaum muslimin…,” inilah segelintir gambaran kicauan mereka di dunia maya.

Akibatnya, merebaklah keresahan, terjadilah gejolak di tengah-tengah kaum muslimin, bahkan antar sesama ahlussunnah, pro-kontra mencuat, ghibah semakin marak, debat kusir semakin dahsyat, bantah-bantahan antar juhala, berakhir dengan kebencian satu sama lain. Belakang hari, kebencian tersebut akan ditularkan pada komunitas ahlussunnah di tempat masing-masing. Sampai di sini, api fitnah yang berkobar sudah terlambat untuk bisa dipadamkan. Nas-alullâhas salâmah wal ‘âfiyah, fid dun-ya wal âkhiroh.

Wahai ahlussunnah, Wallâhi…. Demi Allah, orang-orang kafir tidak akan pernah menguasai kita, selama kita konsisten di atas tauhid dan sunnah.

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Allâh sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” [QS. An-Nisaa: 141]

Wahai ahlussunnah… yakinlah akan janji Allah:

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” [Ali Imran: 120]

Sejarah telah membuktikan, bahwa tidaklah kaum muslimin berada di bawah orang-orang kafir kecuali dikarenakan tauhid dan sunnah telah menjadi asing di tengah-tengah mereka. Karena pemimpin yang zhalim, tidaklah diangkat, melainkan sebagai hukuman dan teguran bagi rakyat yang zhalim. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah, Kami jadikan sebagian orang zhalim berkuasa atas sebagian mereka (yang juga zhalim) disebabkan apa-apa yang mereka usahakan (berupa maksiat dan kezhaliman).” [QS. Al-An’âm: 129]

Dalam tafsirnya, Al-A’masy rahimahullâh mengomentari ayat tersebut:

إذا فسد الناس أمّر عليهم شرارهم

“Jika manusia telah rusak, maka akan dijadikan untuk mereka pemimpin yang paling jahat di antara mereka.”

Yaa Allâh, hati-hati kami berada dalam genggaman-Mu, satukanlah hati kami, segenap hati kami Ya Rabb, di atas shirotol mustaqim, jalan persatuan yang engkau ridhai.

أقول ما تسمعون وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه يغفر لكم إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله عظيم الإحسان ، واسع الجود والفضل والامتنان ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ؛ صلى الله وسلم عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين.

Ammâ ba’du…Ma’âsyirol muslimïn rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an,

Al-Miqdad ibnul Aswad radhiallâhu’anhu pernah mengisahkan sebuah hadits dari Baginda Rasûl shallallâhu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّالسَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ

“Pada hakikatnya, orang yang berbahagia adalah orang yang diajuhkan dari fitnah…. Baginda Rasul mengulang-ulang sabdanya ini sampai 3x, sebagai bentuk penegasan..” [al-Imam al-Albani rahimahullâh mengatakan bahwa hadits ini shahïh, sesuai dengan syarat Imam Muslim, ash-Shahihah: 976]

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan fitnah dalam hadits tersebut bersifat umum, mencakup; ujian dan musibah, termasuk fitnah perpecahan, sebagaimana yang kita saksikan bersama telah menimpa kaum muslimin di berbagai belahan dunia saat ini.

Ma’âsyirol mukminïn…., tentunya muncul dalam benak kita pertanyaan yang besar, bagaimana kita bisa selamat dari fitnah? Apa yang harus dilakukan oleh seorang mukmin, agar termasuk orang yang berbahagia sebagaimana hadits di atas?

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam telah memberikan solusinya kepada kita, beliau bersabda:

عليكم بالجماعة، وإياكم والفرقة، فإن الشيطان مع الواحد، وهو من الإثنين أبعد. ومن أراد بحبوحة الجنة، فعليه بالجماعة.

“Hendaklah kalian senantiasa bersama al-Jamâ’ah, awas..!! Jauhi perpecahan, jangan sekali-kali kalian menyempal, karena orang-orang yang mengambil jalan sendiri, syaithan bersama mereka. dan Syaithan sedikit menjauh dari 2 orang yang bersatu dalam jama’ah. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga yang paling megah, maka hendaklah dia selalu bersama al-Jamâ’ah.”

Dalam hadits yang lain, Rasûlullâh menjelaskan makna al-Jamâ’ah:

ما أنا عليه اليوم وأصحابي

Al-Jamâ’ah adalah jalan yang ditempuh oleh Rasûlullâh dan para Sahabatnya dalam memahami dan mengamalkan agama ini.

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, mengabarkan tentang fitnah yang bakal terjadi, para Sahabat bergegas menanyakan kepada beliau: “Yaa Rasûlullâh, jiwaku sebagai tebusannya, apa yang harus kami lakukan saat fitnah itu terjadi? Rasûlullâh menjawab:

الْزَمْ بَيْتَكَ، وَامْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَخُذْ مَا تَعْرِفُ، وَدَعْ مَا تُنْكِرُ، وَعَلَيْكَ بِأَمْرِ خَاصَّةِ نَفْسِكَ، ودع عنك أَمر الْعَامَّة.

“Diamlah di rumahmu, jangan engkau keluar menuju fitnah, tahan lisanmu, pegang erat kebenaran yang telah engkau ketahui, tinggalkan apa yang engkau kenali sebagai kemunkaran, urus dirimu masing-masing dengan menunaikan kewajiban asasimu sebagai hamba Allâh, dan tinggalkan hiruk-pikuk manusia yang menceburkan diri mereka ke dalam fitnah.” [as-shahihah: 205]

Diriwayatkan bahwa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda:

ستكون فتنة، لا ينجي منها إلا دعاء كدعاء الغريق

“Akan terjadi fitnah, tidak ada yang mampu menyelamatkan dari fitnah tersebut, selain do’a, layaknya do’a orang-orang akan tenggelam.” [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, dan dishahikan oleh al-Hakim]

Di masa-masa fitnah seperti saat ini. Sudah selayaknya kita menyibukkan diri dengan Kewajiban asasi kita, yaitu senantiasa menyempurnakan penghambaan dan ibadah kita kepada Allâh. Bersegera kembali pada Allâh, bergegas memanjatkan taubat kepada-Nya, menyegarkan kembali hubungan kita dengan-Nya, Menguatkan kembali tali penghambaan kita kepada-Nya. Inilah yang dituntunkan oleh Rasûlullâh dalam sabda-Nya:

بادروا بالأعمال فتن كقطع الليل المظلم

“Bergegaslah kalian melakukan amal-amal shalih, sebelum datangnya fitnah-fitnah yang gelap gulita, seperti gelapnya kepingan malam (yang–bahkan–banyak menjadikan orang-orang berilmu tidak lagi mampu melihat mana yang haq dan mana yang bathil, apalagi orang-orang awamnya).” [al-Hadïts]

***

[*] Bersumber dari Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Jo Saputra “Abu Ziyan” Halim (semoga Allâh mengampuninya) di Masjid Aisyah – Lawata Mataram, 23 Mei 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: