1 Komentar

Malapetaka Khilafah ISIS

Oleh:

Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbâd hafizhahullâh

-Ulama besar, ahlu ‘ilmi paling senior yang masih hidup di Kota Nabi-

Beberapa tahun lalu, lahir sebuah kelompok yang mengklaim diri sebagai Daulah Islamiyyah Iraq was Syam, mereka terkenal dengan nama “داعش“, akronim 4 huruf dari nama Daulah yang mereka dakwakan, (sementara di dunia internasional mereka dikenal dengan akronim ISIS; Islamic State of Iraq and Sham). Kelompok ini telah silih berganti dalam kepemimpinannya. Sebagaimana hal itu diungkapkan oleh sebagian pemerhati yang mengikuti kemunculan kelompok ini berikut sepak terjangnya.

Beberapa nama disebutkan untuk satu orang pemimpin mereka; Abu Fulan al-Fulani atau Abu Fulan Ibnu Fulan. Nama kun-yah yang disandarkan pada nama suatu negeri atau kabilah. Persis seperti kebiasaan orang-orang majhul (tidak dikenal) yang menyembunyikan identitas asli mereka dengan nama-nama kun-yah nasab.

Setelah beberapa waktu peperangan antara rezim Suriah dengan kelompok bersenjata yang ingin menumbangkannya, masuklah sejumlah orang dari kelompok ini (ISIS) yang tidak berperang melawan rezim. Mereka ini justru memerangi ahlussunnah yang tengah memerangi rezim. Dalam membunuh orang-orang yang mereka targetkan untuk dibunuh, kelompok ini terkenal membunuh dengan pisau, jenis alat pembunuh kaum adami yang paling buruk dan kotor.

Di awal-awal bulan Ramadhan, mereka berganti nama menjadi “al-Khilafah al-Islamiyyah“. Khalifah mereka yang bernama Abu Bakr al-Baghdadi telah berkhutbah di masjid jami’ kota Mosul, dan di antara isi khutbahnya dia berkata (menyitir khutbah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu’anhu ketika dipilih menjadi Khalifatu Rasulillah):

فقد وليت عليكم ولست بخيركم

“Aku telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian”

Dan dia (Abu Bakar al-Baghdadi) telah jujur dalam hal; dia bukanlah orang yang terbaik di antara mereka. Karena orang-orang yang mereka (ISIS) bunuh dengan pisau dan belati, jika hal tersebut diperintahkan atau diketahui atau diakui oleh Abu Bakar al-Baghdadi, maka jelaslah dia orang yang paling buruk di antara mereka, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه، لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

“Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikuti petunjuknya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang-orang tersebut. Dan barangsiapa menyeru kepada suatu peyimpangan, maka baginya dosa sebesar dosa orang-orang yang mengikuti penyimpangannya tersebut, tanpa sedikitpun mengurangi dosa orang-orang tersebut.” [Shahih Muslim: 6804]

Kalimat yang diucapkannya dalam khutbahnya tersebut, adalah untaian kalimat yang pernah diucapkan oleh Khalifah pertama Islam sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu’anhu. Dialah sebaik-baik manusia (setelah Rasulullah) di tengah sebaik-baik ummat. Abu Bakar ash-Shiddiq mengucapkan kalimat tersebut sebagai bentuk ketawadhu’an, padahal ia tahu, dan para sahabat yang lain pun tahu, bahwa dia adalah manusia terbaik (setelah Rasulullah) berdasarkan dalil-dalil dari ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Merupakan sikap yang baik, jika kelompok ini mau kembali kepada petunjuk, sebelum daulah mereka lenyap dihembus angin, sebagaimana yang telah menimpa para pendahulu mereka di era yang berbeda-beda.

Dan di antara perkara yang sangat disayangkan; fitnah kekhalifahan seumur jagung yang mengaku-ngaku ini mendapatkan tempat di hati sebagian pemuda belia di negeri Haramain (Saudi Arabia). Mereka menampakkan kegembiraan dan kegirangan terhadapnya sebagaimana girangnya orang-orang yang kehausan ketika mendapatkan minum. Di antara mereka (para pemuda belia ini) bahkan ada yang mengaku telah membai’at (janji setia dan taat) kepada Khalifah yang majhul (alias tidak jelas) ini. Lantas bagaimana bisa diharapkan kebaikan dari seorang (Khalifah majhul) yang kerjaannya melakukan takfir (pengkafiran) dan serangkaian pembunuhan dengan cara yang paling keji dan brutal ini?!

Wajib bagi mereka (para pemuda belia ini) untuk angkat kaki dari sikap membuntuti setiap orang yang berteriak menyeru (pada kesesatan). Hendaklah mereka kembali pada setiap tidak tanduk mereka, kembali pada apa-apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena padanya terdapat perlindungan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Hendaklah mereka kembali kepada ulama yang mencurahkan nasehat (tulus) kepada mereka dan kepada kaum muslimin.

Di antara kisah teladan tentang selamatnya orang-orang yang kembali kepada petunjuk ahlul ilmi setelah sebelumnya berpikir melakukan kesesatan, adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya (no. 191) dari Yazid al-Faqir, ia mengisahkan:

كنتُ قد شَغَفَنِي رأيٌ من رأي الخوارج، فخرجنا في عِصابةٍ ذوي عدد نريد أن نحجَّ، ثمَّ نخرجَ على الناس، قال: فمررنا على المدينة فإذا جابر بن عبد الله يُحدِّث القومَ ـ جالسٌ إلى ساريةٍ ـ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: فإذا هو قد ذكر الجهنَّميِّين، قال: فقلتُ له: يا صاحبَ رسول الله! ما هذا الذي تُحدِّثون؟ والله يقول: {إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ}، و {كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا}، فما هذا الذي تقولون؟ قال: فقال: أتقرأُ القرآنَ؟ قلتُ: نعم! قال: فهل سمعت بمقام محمد عليه السلام، يعني الذي يبعثه فيه؟ قلتُ: نعم! قال: فإنَّه مقام محمد صلى الله عليه وسلم المحمود الذي يُخرج اللهُ به مَن يُخرج. قال: ثمَّ نعتَ وضعَ الصِّراط ومرَّ الناس عليه، قال: وأخاف أن لا أكون أحفظ ذاك. قال: غير أنَّه قد زعم أنَّ قوماً يَخرجون من النار بعد أن يكونوا فيها، قال: يعني فيخرجون كأنَّهم عيدان السماسم، قال: فيدخلون نهراً من أنهار الجنَّة فيغتسلون فيه، فيخرجون كأنَّهم القراطيس. فرجعنا، قلنا: وَيْحَكم! أَتَروْنَ الشيخَ يَكذِبُ على رسول الله صلى الله عليه وسلم؟! فرجعنا، فلا ـ والله! ـ ما خرج منَّا غيرُ رَجل واحد، أو كما قال أبو نعيم )). وأبو نعيم هو الفضل بن دكين هو أحد رجال الإسناد، وهو يدلُّ على أنَّ هذه العصابةَ ابتُليت بالإعجاب برأي الخوارج في تكفير مرتكب الكبيرة وتخليده في النار، وأنَّهم بلقائهم جابراً رضي الله عنه وبيانه لهم صاروا إلى ما أرشدهم إليه، وتركوا الباطلَ الذي فهموه، وأنَّهم عدلوا عن الخروج الذي همُّوا به بعد الحجِّ، وهذه من أعظم الفوائد التي يستفيدها المسلم برجوعه إلى أهل العلم.

“Dulu aku pernah dijangkiti oleh pemikiran (sesat) Khawarij. Suatu ketika kami keluar bersama sekumpulan orang dengan tujuan mengerjakan haji. Setelah itu kami berencana untuk keluar di hadapan manusia (untuk menampakkan madzhab Khawarij dan menyerukannya—an-Nawawi). Sampailah kami di Madinah, ternyata di sana ada Jabir bin Abdillah radhiallâhu’anhu yang tengah duduk menghadap suatu pilar seraya menyampaikan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam di hadapan orang-orang.

Yazid barkata: ‘tiba-tiba saja ia (Jabir) berbicara tentang para penghuni Jahannam (yang akan dikeluarkan karena masih ada keimanan di hati mereka).

Maka aku pun berkata kepadanya: ‘wahai sahabat Rasulullah, apa yang tengah kau sampaikan ini? Sementara Allah telah berfirman: ‘Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka benar-benar telah Engkau hinakan ia’. (QS. Ali Imran: 192), dan Allah juga berfirman: ‘setiap kali mereka ingin keluar darinya (neraka), mereka dikembalikan lagi ke dalamnya.’ (QS. As-Sajdah: 20)

Lantas Jabir berkata: ‘apa engkau membaca al-Qur’an?’, aku katakan: ‘ya’. Jabir berkata: ‘apa engkau pernah mendengar tentang maqom mahmud? Ia sejatinya adalah kedudukan terpuji yang diberikan kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam, dengannya beliau bisa memberikan syafa’at agar Allah berkenan mengeluarkan penghuni neraka yang beliau syafa’ati.

Yazid berkata: ‘kemudian Jabir bertutur tentang sifat ash-Shiraath dan orang-orang yang akan melintasinya. Dan aku kuatir tidak bisa menghafal semua yang disampaikannya. Hanya saja yang aku bisa tangkap; Jabir mengatakan bahwa kelak akan ada segolongan kaum yang akan keluar dari neraka setelah mereka berada di dalamnya.  Jabir berkata: ‘mereka (penghuni neraka itu) akan keluar (dari neraka) layaknya tangkai biji wijen yang layu lagi hitam pekat. Lantas mereka mandi di salah satu sungai di antara sungai-sungai surga. Di saat mereka keluar dari sungai itu, mereka tampak putih seputih kertas’.

Maka kami pun kembali. Aku berkata (pada rekan-rekanku): ‘Celaka kalian! Apa kalian menganggap Syaikh (Jabir bin ‘Abdillah) akan berdusta atas nama Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam? (pertanyaan yang bermakna pengingkaran—an-Nawawi). Maka kami kembali (dari haji sekaligus rujuk dan taubat dari pemikiran Khawarij—an-Nawawi). Tidak—demi Allâh—tidaklah bertahan (di atas pemikiran Khawarij—an-Nawawi) kecuali hanya satu orang saja di antara kami’. (Selesai penuturan Yazïd al-Faqïr) kurang lebih demikian sebagaimana diceritakan oleh Abû Nu’aim al-Fadhl bin Dukain (Kakek guru dari Imam Muslim).

(asy-Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh kemudian mengatakan)

Riwayat di atas menunjukkan bahwa kelompok (Yazïd al-Faqïr) ini terfintah oleh rasa takjub akan pemikiran Khawarij dalam masalah takfïr (pengkafiran) orang-orang yang berbuat dosa besar dan anggapan bahwa mereka akan kekal di neraka. Namun melalui perjumpaannya dengan Jâbir bin ‘Abdillâh radhiallâhu’anhu dan penjelasannya, mereka lantas berpaling menuju petunjuk yang haq, dan meninggalkan kebatilan yang sebelumnya mereka pahami. Mereka pun berpaling dari niat memberontak yang akan dilakukan setelah berhaji. Inilah faidah terbesar yang diperoleh seorang muslim dengan kembalinya ia kepada ahlul ‘ilmi.

Dan (di antara dalil) yang menunjukkan betapa berbahayanya sikap ghuluw (melampaui batas) dalam beragama, melenceng dari kebenaran, dan menjauh dari jalannya ahlussunnah wal jamâ’ah adalah sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dari Hudzaifah (bin Husail) radhiallâhu’anhu:

إنَّ أخوفَ ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن، حتى إذا رُئيت بهجته عليه وكان ردءاً للإسلام، انسلخ منه ونبذه وراء ظهره، وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك، قلت: يا نبيَّ الله! أيُّهما أولى بالشرك: الرامي أو المرمي؟ قال: بل الرامي

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca al-Qur’an, sampai jika telah nampak pada diri laki-laki tersebut kegembiraan dengan al-Qur’an, dan pembelaan terhadap Islam, tiba-tiba ia menanggalkan al-Qur’an tersebut, lantas mencampakkannya ke belakang. Kemudian ia mengangkat pedang pada tetangganya dan menuduhnya telah berbuat syirik (kafir)”. Aku pun berkata: ‘Wahai Nabi Allâh..!! Siapakah di antara keduanya yang lebih layak dengan tudingan syirik tersebut?’ Rasûlullâh menjawab: ‘bahkan yang menuduh (tetangganya) syirik, (dialah yang justru lebih layak dengan tuduhan tersebut).” [al-Bukhâri dalam at-Târïkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân, dan al-Bazzâr. Lih. Ash-Shahïhah no. 3201, al-Albâni]

Usia muda belia, adalah habitat yang rentan dengan pemahaman yang buruk (tentang agama). Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam Shahihnya (no. 4495) dengan sanadnya yang sampai kepada Hisyâm bin ‘Urwah, dari ayahnya (‘Urwah bin Zubair, keponakan Ummul Mukminïn ‘Aisyah radhiallâhu’anha), dia mengisahkan:

قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ حَدِيثُ السِّنِّ -: أَرَأَيْتِ قَوْلَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى {إِنَّ الصَّفَا وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا [البقرة: 158]، فَلاَ أُرَى عَلَى أَحَدٍ شَيْئًا أَنْ لاَ يَطَّوَّفَ بِهِمَا، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: ” كَلَّا، لَوْ كَانَتْ كَمَا تَقُولُ: كَانَتْ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ لاَ يَطَّوَّفَ بِهِمَا، إِنَّمَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ فِي الأَنْصَارِ كَانُوا يُهِلُّونَ لِمَنَاةَ، وَكَانَتْ مَنَاةُ حَذْوَ قُدَيْدٍ، وَكَانُوا يَتَحَرَّجُونَ أَنْ يَطُوفُوا بَيْنَ الصَّفَا وَالمَرْوَةِ، فَلَمَّا جَاءَ الإِسْلاَمُ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى “: {إِنَّ الصَّفَا وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا} [البقرة: 158]

“Aku berkata kepada ‘Aisyah radhiallâhu’anha—istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam—dan saat itu, usiaku masih muda belia: ‘Beritahukan aku (wahai Ibunda ‘Aisyah) tentang maksud dari firman Allâh: ‘Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk di antara syi’ar-syi’ar Allâh, barangsiapa melaksanakan haji ke Baitullâh atau ‘Umrah, maka tidak ada dosa atasnya untuk melakukan sa’i antara keduanya (Shafa dan Marwah)’. [QS. 02: 158], saya kira (berdasarkan ayat ini), hukum sa’i itu adalah mubah saja (dalam artian; ia bukan rukun haji dan umrah). Maka ‘Aisyah radhiallâhu’anha berkata: ‘Tidak demikian. Andai seperti anggapanmu, maka ayat tersebut tentu akan berbunyi: ‘…maka tidak ada dosa atasnya untuk tidak sa’i antara keduanya’. Hanya saja ayat ini turun pada kaum Anshar, dulu (semasa Jahiliyah) mereka melakukan haji demi berhala Manat yang terletak di sekitar Qudaid (berhala Is-af di bukit Shafa dan berhala Nâ-ilah di bukit Marwah—Mukhtasar Tafsir Ibn Katsir) . Mereka ragu untuk sa’i antara kedua bukit tersebut (karena masih menganggap itu sebagai perbuatan Jahiliyah). Setelah Islam datang, mereka bertanya kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang hal tersebut, maka turunlah ayat: ‘Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk di antara syi’ar-syi’ar Allâh, barangsiapa melaksanakan haji ke Baitullâh atau ‘Umrah, maka tidak ada dosa atasnya untuk melakukan sa’i antara keduanya (Shafa dan Marwah)’. [QS. 02: 158]

‘Urwah bin Zubair (yang salah paham tentang ayat di atas), adalah salah seorang tabi’in yang terbaik, salah satu dari tujuh fuqoha di Madinah pada era Tâbi’ïn. Beliau telah mengakui kesalahpahamannya dikarenakan faktor usia yang masih muda belia. Riwayat tersebut sangat jelas dan gamblang menerangkan bahwa usia muda adalah masa yang rentan dengan buruknya pemahaman, dan pada masa-masa seperti ini, kembali kepada ahlul ilmi adalah jalan kebaikan dan keselamatan.

Dalam Shahih al-Bukhari (no. 7152), dari Jundab bin Abdillah, (diriwayatkan bahwa) ia berkata:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُنْتِنُ مِنَ الإِنْسَانِ بَطْنُهُ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ يَأْكُلَ إِلَّا طَيِّبًا فَلْيَفْعَلْ، وَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ يُحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجَنَّةِ بِمِلْءِ كَفِّهِ مِنْ دَمٍ أَهْرَاقَهُ فَلْيَفْعَلْ

“Sesungguhnya yang pertama kali membusuk dari tubuh manusia adalah perutnya. Maka barangsiapa bisa untuk tidak memakan kecuali yang baik, maka hendaklah ia lakukan. Dan barangsiapa mampu untuk tidak membendung antara dirinya dengan surga gara-gara menumpahkan darah (membunuh) tanpa hak, maka hendaklah ia lakukan.”

Al-Hâfizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bâri (13/130):

ووقع مرفوعاً عند الطبراني أيضاً من طريق إسماعيل بن مسلم، عن الحسن، عن جندب، ولفظه: (تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:  لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه)، وهذا لو لم يرِد مصرَّحاً برفعه لكان في حكم المرفوع؛ لأنَّه لا يُقال بالرأي، وهو وعيد شديد لقتل المسلم بغير حقٍّ

“Diriwayatkan secara marfu’ oleh ath-Thabrâni dari jalur Ismâ’ïl bin Muslim, dari al-Hasan, dari Jundub, dengan lafaz: ‘Tahukah kalian, bahwa sungguh aku telah mendengar Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jangan sampai seorang di antara kalian tercegah memasuki surga padahal ia telah melihat surga tersebut, gara-gara darah seorang muslim yang pernah ia tumpahkan tanpa hak’. Hadits ini, andaikata pun tidak secara tegas diriwayatkan secara marfu’, tetap ia dihukumi marfu’, karena riwayat yang (mengandung kabar ghaib tentang kejadian hari akhir) seperti ini, tidak mungkin berasal dari pendapat (akal). Hadits ini mengandung ancaman yang sangat keras terhadap pembunuhan seorang muslim tanpa hak.”

Penutup

Hadits-hadits dan atsar-atsar di atas, adalah sebagian riwayat yang telah aku cantumkan dalam artikelku yang berjudul: ‘Bi-ayyi ‘aqlin wa dïnin, yakûnu at-Tafjïr wa at-Tadmïr Jihâdan? Waihakum, Afïqû Yâ Syabâb (Akal Mana dan Agama Apa yang Menganggap Pemboman dan Penghancuran Sebagai Jihad..?? Celaka Kalian..!! Sadarlah Wahai Para Pemuda..!!)’. Di dalam artikel tersebut, terdapat beberapa ayat dan atsar yang banyak tentang haramnya membunuh diri (bom bunuh diri) dan membunuh orang lain tanpa hak. Artikel tersebut dicetak pada tahun 1424-H, dan kembali dicetak pada tahun 1428-H bersamaan dengan artikel yang berjudul: ‘Badzlu an-Nush wa at-Tadzkïr Libaqôyâ al-Maftûnïn bi at-Takfïr wa at-Tafjïr (Mengupayakan Nasehat dan Peringatan bagi Sisa-Sisa Mereka yang Terfitnah dengan Pengkafiran dan Pemboman)’.  Termaktub juga dalam kumpulan artikelku (yang telah dibukukan) jilid-6, hal. 225-279.

Kepada para pemuda yang begitu mudahnya terpengaruh oleh teriakan kelompok (ISIS) ini, hendaklah mereka kembali pada petunjuk. Jangan sekali-kali ada yang berpikir untuk bergabung dengan kelompok ISIS ini, lantas melakukan pembunuhan dengan sabuk-sabuk berbahan peledak yang mereka kenakan, atau membunuh dengan pisau-pisau yang menjadi ciri khas kelompok ini. Wajib atas mereka (para pemuda Saudi) untuk senantiasa mendengar dan taat (pada perkara-perkara yang ma’ruf) kepada Daulah Saudi Arabia, tempat mereka hidup, dan juga tempat ayah-ayah dan kakek-kakek mereka hidup dengan aman dan tentram. Daulah Saudi adalah negeri (yang untuk saat ini) paling afdhol dan paling baik, sekalipun dengan berbagai kekurangannya yang sebab terbesarnya adalah pengaruh negatif westernisasi, mengekor pada budaya barat dengan segala ragam keburukannya.

Saya memohon kepada Allâh untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin di setiap tempat. Semoga Allâh memberikan petunjuk kepada putra-putri Islam menuju kebaikan. Dan semoga Allâh menjaga negeri Haramain, baik pemerintah maupun rakyatnya, dari segala marabahaya. Semoga Allâh memberikannya taufik untuk melakukan segenap kebaikan. Semoga Allâh melindunginya dari kejahatan orang-orang yang jahat dan tipu daya orang-orang fajir. Sungguh, Dia Mahamendengar (do’a) dan Mahamengabulkan. Semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam, berikut keluarga dan para sahabatnya.

***

Penerjemah: Abi Ziyan Halim ( facebook.com/jo.saputra.halim )

Editor: Ustadzuna Masyhuri Badran, Lc.

Sumber: http://al-abbaad.com/index.php/articles/125-1435-09-28

Artikel:

https://kristaliman.wordpress.com

One comment on “Malapetaka Khilafah ISIS

  1. INDONESIA…
    LEBIH BAIK ALIRAN
    9 WALI … ATAU YG LBIH BAIK ALIRAN SUNAN KALI JAGA…
    BUKAN ALIRAN ALIRAN IBLIS TIMUR TENGAH YG TIDAK BERDASAR KN RASULLULAH.. SAW
    SY MENCINTAI HABIB HABIB ALLAH..
    YG ARTINYA ORG ORG YG BISA MENCINTAI ALLAH BERDASAR KN KASIH SAYANG..
    KEUTAMAAN DAN AWALAN ALQURAN..
    BISMILLAHIROHMANIRROHIM….
    KETHUILAH HABIB ALLAH BUKAN DARI KETURUNAN ALI ATAU FATIMAH.. YG MENGATAS NAMAKAN NABI ALLAH MUHAMAD SAW..
    AKAN TETAPI HABIB HABIB ALLAH SEMUA MANUSIA YG MENIRU RASULLULAH SAW DAN MEMBESAR KN ALLAH DGN CINTA DAN KASIH SAYANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: