Tinggalkan komentar

Nasehat Menghujam bagi Diri (dan Segenap Penulis)

Menulis itu seharusnya menjadi kebutuhan diri, jauh sebelum ia menjadi hadiah yang bermanfaat bagi orang lain.

Muhammad bin Ya’qub mengisahkan sosok Muhammad bin Nashr rahimahullah:

ما رأيت أحسن صلاة منه، كنا نتعجب من حسن صلاته وخشوعه وهيئته للصلاة!
ويزول عنا العجب حين نعلم بأنه صاحب الكتاب العظيم: “تعظيم قدر الصلاة”

“Aku tak pernah melihat shalat yang lebih baik dari shalat yang ia kerjakan. Kami begitu takjub dengan kekhsyu’annya dan cara ia menghayati shalatnya. Ketakjuban itu pun termaklumi manakala kami mengetahui bahwa ternyata; dialah penulis buku yang berjudul “Ta’zhiimu Qodri ash-sholat” (pengagungan terhadap kedudukan shalat)”–[as-Siyar, adz-Dzahabi]

Seorang salaf berkata:

“العلم خادم العمل، والعمل غاية العلم، فلولا العمل لم يطلب علم، ولولا العلم لم يطلب عمل. ولأن أدع الحق جهلاً به أحب إلى من أن أدعه زهداً فيه”

“Ilmu adalah abdi bagi amal. Amal ada tujuan ilmu. Kalau bukan karena amal, maka ilmu tidak dituntut. Jika bukan karena ilmu, amal pun tidak dituntut. Aku meninggalkan al-haq (amal) gara-gara tidak tahu, lebih aku sukai daripada meninggalkannya karena–merasa–tidak butuh padanya”.

Wallaahi, ayyuhal ahbaab, ini ancaman yang keras buat para penulis. Jangan sampai orang lain justru mendahului kita dalam mengamalkan apa yang kita tulis.

***

Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)
http://fb.com/jo.saputra.halim

Artikel:
https://kristaliman.wordpress.com

FB Page:
http://fb.com/kristaliman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: