Tinggalkan komentar

Fiqih Ringkas Qurban

Keutamaan Qurban

Ibadah qurban tentu saja memiliki fadhilah yang agung. Mereka yang menunaikannya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi, akan memperoleh pahala mentaati perintah Allah (dalam QS. al-Kautsar: 2). Di samping pahala mengikuti sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Belum lagi pahala sosial yang bisa menjadi lumbung keberkahan. Banyak fakir miskin yang tersantuni. Do’a dan rasa syukur dari mereka kaum dhu’afa untuk mereka yang berqurban, silih berganti menjulang ke langit. Silaturahmi dan ikatan ukhuwwah akan semakin kokoh, karena keluarga, kerabat, dan tetangga mendapatkan hadiah daging qurban. Sungguh itu semua merupakan fadhilah yang tak terbayangkan batasannya.

Adapun riwayat atau hadits yang beredar tentang fadhilah qurban secara khusus, maka tidak lepas dari status dha’if (lemah). Imam Ibnul Arabi al-Maliki mengatakan:

ليس في فضل الأضحية حديث صحيح و قد روى الناس فيها عجائب لم تصح

“Tidak ada hadits yang shahih yang berbicara tentang fadhilah qurban. Sungguh orang-orang telah meriwayatkan fadhilah-fadhilah menakjubkan yang tidak shahih.” [’Aridhotul Ahwadzi: 6/288]

Hukum Qurban

Para ulama berbeda pendapat perihal hukum qurban, apakah wajib ataukah sebatas sunnah yang ditekankan (mu-akkadah). Mayoritas ulama seperti Imam Mâlik, asy-Syâfi’i, dan Ahmad berpendapat bahwa ibadah qurban adalah sunnah mu-akkadah. Di zaman ini, yang berpendapat demikian adalah al-Imâm Ibnu Bâz rahimahullâh.

Dalil-dalil yang mereka bawakan dari praktek dan riwayat para sahabat cukup kuat. Di antaranya adalah atsar dari sahabat Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam yang bernama Abu Mas’ûd al-Anshâri radhiallâhu’anhu, beliau berkata: “Sesungguhnya aku tidak akan berqurban (tahun ini). Padahal aku sedang lapang (punya kelebihan harta untuk berqurban). Itu aku lakukan semata-mata karena aku kuatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu wajib atasku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi, sanad shahih).

Sebagian ulama yang lain seperti; Rabï’ah (guru dari Imam Mâlik) dan Abu Hanïfah mengatakan bahwa hukumnya adalah wajib bagi yang punya kelapangan harta. Demikian pula pendapat al-Auzâ’i, Laits bin Sa’ad dan Ibnu Taimiyyah. Di antara ulama kontemporer di zaman ini yang berpendapat demikian adalah; al-‘Utsaimïn dan al-Albâni rahimahumullâh. Pendapat mereka didasarkan pada hadits:

“Barangsiapa punya kelapangan (harta) namun tidak mau melakukan qurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672, derajatnya Hasan menurut al-Imam al-Albani).

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan wajibnya qurban bagi mereka yang memiliki kelapangan rizki untuk berqurban. Di samping pendapat ini juga selaras dengan keumuman perintah dalam al-Qur’ân: “Maka shalatlah hanya untuk Tuhanmu dan berqurbanlah.” [QS. Al-Kautsar: 2]. Wallâhua’lam.

Ketentuan Hewan Qurban

Hewan yang boleh diqurbankan terbatas pada hewan ternak atau bahimatul an’am yang disebut dalam al-Qur’an (al-Hajj: 34) yaitu; onta, sapi, kambing, atau domba. Tidak boleh berqurban dengan kuda, sekalipun nilai seekor kuda lebih mahal-misalkan-daripada onta atau sapi.

Bagaimana dengan kerbau? Para ulama ada yang menganggap sapi dan kerbau adalah satu jenis, sehingga hukumnya sama, dan boleh dijadikan hewan qurban. [Mausu’ah Fiqhiyyah Quwaithiyah: 2/2975]

Syari’at juga sudah menetapkan usia hewan yang sah untuk diqurbankan. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jangan kalian menyembelih hewan qurban kecuali yang musinnah (sudah mencapai usia dewasa; 5 tahun untuk onta, 2 tahun untuk sapi, 1 tahun untuk kambing), kecuali jika kalian kesulitan, maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah (usia 6 bulan).” [al-Bukhari-Muslim] (lih. Syarhul Mumthi’: 3/410)

Untuk pengadaannya, satu kambing/domba untuk satu orang pengorban. Untuk sapi, bisa ditanggung oleh maksimal 7 orang (urunan), dan untuk onta, maksimal 10 orang.

Cacat pada Hewan

Ada 4 jenis cacat hewan qurban yang menjadikan qurban tidak sah; (1). Buta sebelah dan jelas kebutaannya, (2). Sakit dan jelas sekali sakitnya, (3). Pincang dan tampak jelas pincangnya, (4). Terlalu tua, kurus, sampai-sampai tidak punya sumsum tulang. Jika ada cacat yang melebihi di atas, maka lebih tidak layak lagi diqurbankan. Namun jika tidak separah di atas, maka hukumnya makruh (lih. Shahih Fiqih Sunnah: 2/373 & Syarhul Mumti’: 3/294). Intinya, pilihlah hewan qurban yang terbaik, tidak ada cacatnya, dan banyak dagingnya.

Beberapa Pantangan

Bagi orang yang hendak berqurban, ada larangan untuk mencabut atau memotong rambut/bulu dan kulit/kuku. Berdasarkan hadits: “Jika engkau telah memasuki 10 hari pertama (Dzulhijjah) dan di antara kalian ada yang hendak berqurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.” [HR. Muslim]

Waktu Qurban

Qurban dilakukan sejak hari ‘ied (10 Dzulhijjah) selesai sholat ‘Idul Adh-ha ditambah 3 hari setelahnya yang disebut sebagai Hari Tasyriq. Jadi rentang waktu pemotongan qurban adalah 4 hari. Dibolehkan pemotongan di malam hari, namun yang lebih utama tentu saja di siang hari.

Tata Cara Penyembelihan

Disunnahkan bagi yang berqurban untuk menyembelih sendiri qurbannya. Boleh juga diwakilkan pada orang lain atau Panitia Qurban. Ketika menyembelih membaca; “Bismillaahi wallaahu akbar” kemudian diikuti “haadza minka wa laka” [Abu Dawud: 2795], atau berdo’a seraya menyebutkan nama pengorban atau keluarga secara umum; “Allaahumma taqobbal minnii (atau min fulan) wa min ahli baitii (fulan)”.

Untuk orang Kafir?

Sebagian qurban boleh dikonsumsi oleh pemilik qurban berikut keluarganya, dalam artian tidak diinfakkan atau dihibahkan semuanya. Bahkan sebagian ulama mewajibkan hal tersebut. Sebagian lagi untuk fakir miskin, dan sebagiannya lagi untuk dihadiahkan, untuk orang kaya, kerabat dan tetangga. Namun semakin banyak daging qurban yang diberikan kepada yang membutuhkan tentu lebih baik.

Fatwa Lajnah Daimah (no. 1997) bahkan membolehkan sebagian qurban diberikan kepada orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin, dengan tujuan mendakwahi mereka, atau karena status mereka sebagai orang yang fakir miskin, kerabat, atau tentangga.

Bagi yang Meninggal?

Satu anggota keluarga yang berqurban sebenarnya sudah mencukupi untuk seluruh anggota keluarga, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal, plus muslim lain yang diniatkan. Demikian pula mereka yang urunan untuk satu sapi atau onta. Masing-masing meraih pahala untuk dirinya dan seluruh keluarganya.

Adapun mengkhususkan qurban murni untuk kerabat yang sudah meninggal saja, maka ini tidak memiliki landasan secara syar’i. Karena Nabi punya paman, istri dan anak-anak yang sudah meninggal, namun tidak ditemukan adanya riwayat bahwa beliau pernah mengkhususkan qurban untuk mereka. Kecuali jika mayit pernah berwasiat untuk berqurban sebelum wafatnya, maka ini boleh ditunaikan. Demikian penjelasan al-Imam Ibnul ‘Utsaimin. [sahab.net/home/?p=555]

Solusi Masalah Kulit

Seluruh bagian qurban termasuk kulit, tidak boleh diuangkan oleh pengorban atau Panitia Qurban. Adapun penerima qurban, maka boleh. Panitia Qurban bisa menjadi wakil bagi penerima kurban untuk menjualkan kulit tersebut. Atau, Panitia menyerahkan kulit secara utuh ke lembaga sosial seperti panti asuhan yang nanti akan menjualnya lalu membagikan hasilnya. [lih. Fatwa Lajnah Da-imah no. 16411, alifta.net]

Daging Qurban Kalengan

Asalnya, daging qurban harus dibagikan sebelum hari tasyriq ke-3 (13 Dzulhijjah) berakhir. Namun jika ada kebutuhan, ulama membolehkannya untuk disimpan (bahkan dikalengkan) dan didistribusikan setelah hari tasyriq. Dalilnya adalah hadits berikut:

“Barangsiapa yang menyembelih hewan qurban, janganlah dia menyisakan sedikitpun dagingnya di dalam rumahnya setelah hari (Tasyriq) yang ketiga.” Ketika tiba hari raya qurban tahun berikutnya, para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kami harus bagikan sebagaimana tahun lalu?” Beliau menjawab: “(Tidak), kali ini, silahkan kalian makan, berikan kepada yang lain, dan boleh kalian simpan. Karena pada tahun lalu, manusia ditimpa paceklik, sehingga aku ingin kalian membantu mereka”. (HR. Bukhari no. 5249, dan Muslim no.1974).

Dalam fatwa asy-Syabakah al-Islamiyyah no. 70808 (islamweb.net) disebutkan bolehnya menyimpan daging qurban untuk dibagikan kepada orang lain setelah hari tasyriq berlalu.

***

Jo Saputra Halim (Abi Ziyan)

fb.com/jo.saputra.halim

Artikel:

http://alhujjah.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: