Tinggalkan komentar

Keagungan Dzulhijjah

Ajakan untuk bertakwa pada Allah.

Masyirol muslimin, seindah-indah perhiasan bagi seorang mukmin, adalah perhiasan iman. Dan sebaik-baik bekal bagi setiap mukmin adalah bekal takwa. Rabb kita, Pencipta kita Yang Mahasempurna telah menyampaikan wasiat agung-Nya kepada kita semua:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. QS. 2:197.

Maka melalui sidang Jum’at yang mulia ini, marilah kita senantiasa menjadi orang-orang yang berakal di mata Allah, dengan senantiasa menyegarkan dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya tabaroka wata’ala. Karena dalam ayat di atas, perintah takwa diserukan kepada orang-orang yang masih memiliki akal. Mafhumnya adalah, mereka yang tidak menjalankan ketakwaan, pada hakikatnya adalah orang-orang yang tidak memfungsikan akal mereka sebagaimana mestinya, betapapun tinggi tingkat keilmuan mereka.

Ma’asyirol mukminin. Selanjutnya marilah kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya, khususnya, nikmat iman, dan nikmat berjumpa kembali dengan Dzulhijjah, bulan ketaatan, bulan ibadah, bulan yang mulia di sisi Allah.

Allah bersumpah dg sepuluh awal Dzulhijjah

Ma’asyirol muslimin. Dzulhijjah adalah momentum ketakwaan yang agung. Begitu agungnya sampai-sampai Allah bersumpah dalam al-Qur’an:

وَالْفَجْرِ. وليال عشر. والشفع والوتر.

Para ulama menafsirkan: “Demi fajar Dzulhijjah. Demi sepuluh malam Dzulhijjah. Demi yang genap, yaitu hari ke-10 Dzulhijjah. Dan demi yang ganjil, yakni hari ke-9 Dzulhijjah.

Sumpah Allah tersebut, cukup menjadi bukti bahwa Dzulhijjah, adalah momentum yang agung. Karena Allah yang Mahaagung, mustahil bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung.

10 hari pertama Dzulhijjah, adalah hari yang terbaik secara mutlak.

Ma’asyirol muslimin. Sepuluh hari pertama Dzulhijjah, adalah rangkaian hari yang paling agung dalam setahun. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah bahkan pernah mengatakan:

أيام عشر ذي الحجة أفضل من أيام العشر من رمضان، والليالي العشر الأواخر من رمضان أفضل من ليالي عشر ذي الحجة

Sepuluh hari pertama Dzulhijjah, lebih afdol dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sebaliknya, sepuluh malam terakhir Ramadhan, lebih afdol dari sepuluh malam pertama Dzulhijjah.

Ma’asyirol muslimin. Kenapa para ulama menobatkan 10 hari pertama Dzulhijjah sebagai hari yang terbaik dalam setahun? Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya Fathul Baari memberikan jawaban;

لمكان اجتماع أمهات العبادة فيه، وهي الصلاة والصيام والصدقة والحج ، ولا يأتي ذلك في غيره

“Karena pada rangkaian hari tersebut, berkumpul ummahaatul ‘ibadah, ibadah-ibadah induk, yaitu sholat, puasa, sedekah qurban, dan haji. Dan keistimewaan ini tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.”

Pada rangkaian hari tersebut ada talbiyah, ada tahlil, ada tahmid dan ada takbir yang menggema di angkasa. Ada wukuf di arofah, tempat berkumpulnya manusia di atas ketaatan pada Allah, dalam jumlah yang tak pernah tertandingi dalam sejarah, miniatur padang mahsyar yang mengingatkan kita akan hari pengadilan akbar di akhirat kelak.

Pada rangkaian hari tersebut ada puasa Arofah bagi mereka yang tidak mampu berhaji. Ganjarannya:

يكفر السنة الماضية والباقية

Menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu, dan setahun yang akan datang.

Dan puncak rangkaian hari tersebut, adalah Solat ‘Ied dan qurban, yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Tegakkanlah solat, dan berqurbanlah demi Rabbmu. (QS. al-Kautsar: 2)

Amal Shalih yang paling dicintai adalah amal shalih di bulan Dzulhijjah.

Ma’asyirol muslimin. Demikian agungnya rangkaian 10 hari pertama Dzulhijjah, sampai-sampai Rasulullah bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا: يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلاّ رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء». رواه البخاري

Tidak ada amal shalih pada suatu rangkaian hari, yang lebih dicintai Allah dari amal shalih yang dikerjakan di sepuluh hari Dzulhijjah. Para sahabat bertanya, “tidak pula jihad fi sabilillah wahai Rasulullah?”, Nabi menjawab: “tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali orang yang berjihad dengan jiwa-raga dan hartanya, lalu ia tidak kembali, tidak dengan hartanya, tidak pula dengan jiwanya.” HR. al-Bukhari.

Salafus Shalih sangat mengagungkan sepuluh awal Dzulhijjah.

Ma’asyirol muslimin. Para pendahulu kita yang shalih, sangat memahami keagungan sepuluh hari Dzulhijjah. Salafush Shalih memuliakan sepuluh hari Dzulhijjah, tidak hanya dengan qiayamul lail, puasa, dan dzikir, bahkan mereka memuliakan Dzulhijjah dengan sikap yang tidak biasanya. Diriwayatkan bahwa Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah di sepuluh hari Dzulhijjah pernah ditanya tentang hadits Ibnu Abi Halah perihal karakteristik Nabi. Pada sanad hadits tersebut, terdapat rawi yang meragukan di mata beliau, Abu Zur’ah ar-Razi. Maka beliau menolak untuk menyebutkan hadits tersebut. Murid beliau terus merayu dan mendesak beliau untuk menyebutkan hadits tersebut. Maka beliau pun berkata:

فأخِّرْه حتى تَخْرُجَ العَشْرُ , فإني أكره أن أُحَدِّثَ بمثل هذا في العَشْر

“Tangguhkan hal ini sampai berakhir sepuluh hari Dzulhijjah. Aku tidak suka menyebutkan hadits-hadits meragukan seperti ini di sepuluh hari Dzulhijjah.”

Inilah bentuk pengagungan mereka Salafunas Shalih terhadap syi’ar-syia’r Allah, sebagai bukti kadar takwa yang bersemayam di hati mereka.

وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS. al-Haj: 32]

Lantas di manakah pengagungan kita terhadap rangkaian hari yang mulia ini? Sudahkah kita bertekad untuk mengisinya dengan ibadah dan ketaatan? Di mata kita, bulan ini hanyalah bulan biasa. Di benak kita, momen Dzulhijjah seolah hambar dan datar. Alih-alih ibadah yang meningkat, yang ada justru dosa dan maksiat yang berlipat.

Musim-musim berladang amal shalih, silih berganti menghampiri kita. Setelah Ramadhan dan Syawwal kita lalui, kini datang Dzulhijjah yang mulia. Maka merugilah mereka yang melalui Ramadhan dan Syawwal tanpa hasil yang berarti, lantas ia bertemu dengan Dzulhijjah, namun pundi-pundi bekalnya, masih juga belum bertambah dengan takwa.

Seorang yang bijak pernah berkata dalam syairnya:

إذَا الرَّوْضُ أَمْسَى مُجْدِبًا فِيْ رَبِيْعِهِ       فَفِيْ أَيِّ حِيْنٍ يَسْتَنِيْرُ وَيَخْصِبُ

“Saat kebun menjadi tandus di musim semi ** Lantas, di musim mana lagi ia dapat berkilau dengan buahnya yang melimpah?”

مَنْ فَاتَهُ الزَّرْعُ فِيْ وَقْتِ الْبِدَارِ فَمَـا       تَــرَاهُ يَحْصِدُ إلاَّ الْهَـــَّ وَالنَّدَمَـــــــا

“Siapa saja yang terlewatkan menanam benih di musim menanam benih ** Niscaya engkau tak akan melihatnya menuai, melainkan kesedihan dan penyesalan”

أقول ما تسمعون….

Khutbah Kedua

Ma’asyirol muslimin. Pada kesempatan khutbah yang kedua ini, mari sejenak kita merenungi betapa Syari’at Islam sangat menekankan persatuan dan kesatuan jama’ah dalam ibadah-ibadah yang bersifat induk, seperti sholat ‘ied. Untuk mewujudkan persatuan tersebut, maka Allah memerintahkan kita untuk taat kepada ulil amri dalam perkara-perkara yang ma’ruf:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً ﴿٥٩﴾

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” [an-Nisa: 59]

Atas dasar ini, marilah kita bersama-sama untuk menunaikan sholat ‘Idhul Adh-ha pada waktu yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu pada hari Ahad, 5 Oktober 2014. Karena Nabi bersabda:

الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون، والأضحى يوم تضحون

“Puasa itu adalah saat kalian semua berpuasa, Idul Fithri adalah hari di mana kalian semua melaksanakan ‘Idul Fithri, dan ‘Idhul Adh-ha adalah hari di mana kalian semua melaksanakan ‘Idhul Adh-ha’.

Adapun mengenai perbedaan ijtihad yang terjadi, maka selayaknya kita kembalikan kepada Ulil Amri selaku hakim, karena para ulama menyebutkan:

حكم الحاكم يرفع الخلاف

“Ketetapan hakim bersifat mengikat dalam memutus silang pendapat ijtihadiah.”

Ma’asyirol mukminin. Semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengerjakan amal-amal shalih di hari-hari yang penuh keberkahan ini.

***

Diambil dari Khutbah Jum’at 01 Dzulhijjah 1435-H yang disampaikan oleh:

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

fb.com/jo.saputra.halim

di Masjid ‘Aisyah Lawata – Mataram NTB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: