Tinggalkan komentar

Ritual “Sedekah Laut” di Mata Islam

Sinkretisme agama atau percampuran antar paham dan tradisi keagamaan kian hari kian mendapat sokongan. Dengan slogan “melestarikan budaya dan kearifan lokal”, sinkretisme tersebut seakan mendapatkan “sertifikat halal”. Ambil contoh; tradisi “sedekah laut” atau “labuhan laut”, yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, tidak diragukan lagi merupakan hasil kawin silang antara “Islam” dan ideologi syirik animisme. Bahkan itu murni animisme (ajaran sesajen) dengan sampul kalimat-kalimat berbau syariat.

Islam tidak pernah mengenal ajaran persembahan ke laut (sekalipun diniatkan untuk Allah), apalagi jika ditujukan sebagai bentuk pengagungan atau rasa syukur kepada selain Allah (semisal Nyi Roro Kidul yang dikeramatkan sebagai Penguasa Laut Selatan). Ritual sesajen semacam ini, tanpa keraguan lagi, adalah inti kesyirikan yang diperangi oleh Rasulullah r dan para sahabatnya.

Allah menitahkan kepada Nabi-Nya yang mulia;

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Qs. al-An’aam: 162-163).

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan antara perintah berkurban dengan perintah shalat yang ditujukan hanya kepada-Nya. Menunjukkan bahwa ibadah qurban juga hanya boleh untuk Allah semata (sebagaimana halnya dengan shalat):

“Maka, dirikanlah shalat karena Rabb-mu (Allah ) dan berkurbanlah (semata-mata hanya kepada-Nya).” (Qs. al-Kautsar: 2).

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Allah melaknat orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya.” [Shahih Muslim no. 1978]

***

Kemudian jika ditinjau dari perspektif aqidah, keyakinan yang melatarbelakangi ritual sedekah laut ini sangat kental dengan susupan-susupan aqidah luar yang sarat akan kesyirikan.

Kenapa persembahan tersebut dilakukan di laut? Karena ada keyakinan di tengah mereka bahwa alam memiliki roh (tuan penunggu) yang mampu mendatangkan maslahat dan mudarat. Dan sesajen adalah bentuk penghormatan kepada roh tersebut. Agar alam bisa bersahabat dan memberikan manfaat dengan mengeluarkan kekayaan buminya. Tidak marah lantas alam mendatangkan musibahnya. Maha Suci Allah pemilik alam semesta..!! Sungguh, inilah hakikat kesyirikan yang teramat dimurkai Allah. Tak ada bedanya dengan penyembahan berhala.

Alam tunduk di bawah kekuasaan Allah. “Roh, makhluk halus, penunggu laut, si mbah, atau apalah namanya, semuanya adalah makhluk yang kerdil nan hina, thogut yang tidak mampu mendatangkan secuil pun manfaat dan mudarat jika Allah tidak menghendaki. Jangankan sebatas lautan atau jin yang hidup di lautan, bumi dan langit yang berisi milyaran bintang saja tunduk dan taat kepada Allah.

فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Maka Allah memerintahkan kepada keduanya (bumi dan langit): “datanglah kalian berdua kepada-Ku, dalam keadaan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “kami datang dengan sepenuh hati.” [Qs. Fushilat: 11]

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Salman al-Farisi radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan:

“Ada seorang laki-laki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula laki-laki lain yang masuk neraka gara-gara seekor lalat.

Para sahabat bertanya, Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Ada dua orang laki-laki yang melewati suatu kaum penyembah berhala. Tidak ada seorangpun boleh melewati daerah itu kecuali jika dia berkorban (mempersembahkan sesaji) untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, ‘Berkorbanlah..!’ Ia pun menjawab, ‘Aku tidak punya sesuatu untuk dikorbankan’. Mereka mengatakan, ‘Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat’.

Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun mengijinkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Gara-gara itulah, ia masuk neraka. Mereka lantas memerintahkan kepada laki-laki yang lain, ‘Berkorbanlah’. Ia menjawab, ‘Tidak layak bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah azza wa jalla’. Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk ke dalam surga.” (Hadits Shahih, al-Hilyah Abu Nu’aim: 1/203, Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah: 6/477, 33028)

Camkanlah, itu baru seekor lalat, lantas bagaimana lagi jika yang dipersembahkan adalah seekor kambing atau kerbau..?? Na’udzubillah. Semoga Allah melindungi kita dari jurang gelap kesyirikan.

***

Seorang mukmin sejati, harus merasa marah dan risih dengan praktek kesyirikan yang masih dilestarikan. Karena hakikat kesyirikan adalah penghinaan pada Allah Sang Pencipta dan Pemelihara semesta alam. Dzat yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita.

Sebagai mukmin yang mengaku mencintai Allah, tentu akan merasa sakit manakala Dzat yang dicintainya dihinakan. Inilah bukti cinta sejati. Sikap tak ambil pusing dengan praktek kesyirikan yang terjadi di lingkungan sekitar, justru menjadi tanda tanya besar akan sejujur apakah ikrar keimanan kita.

Lihatlah Baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam! Sebagai hamba yang paling mencintai Allah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sangat anti dengan hal-hal yang bersinggungan dengan kesyirikan, sekalipun itu hanya sisa-sisa debu kesyirikan. Tsabit bin Dhohhak radhiallahu’anhu menuturkan: Dulu, ada seorang sahabat yang memiliki nadzar untuk menyembelih seekor unta di sebuah lokasi bernama “Buwanah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bertanya:

( هَلْ كَانَ فِيهَا وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ يُعْبَدُ ؟) قَالُوا: لَا، قَالَ: (هَلْ كَانَ فِيهَا عِيدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ ؟)، قَالُوا: لَا، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( أَوْفِ بِنَذْرِكَ ، فَإِنَّهُ لَا وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ ، وَلَا فِيمَا لَا يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ ).

“Apakah lokasi tersebut pernah menjadi salah satu tempat berhala di masa jahiliyyah?”, ia menjawab: “tidak”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kembali bertanya: “pernahkah lokasi tersebut, menjadi tempat perayaan orang-orang musyrik?” ia menjawab: “tidak”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “kalau begitu silahkan tunaikan nadzarmu di lokasi tersebut. Karena tidak ada penunaian nadzar pada perkara yang mengandung kemaksiatan pada Allah. Demikian pula pada hal-hal yang tidak sanggup diwujudkan oleh anak Adam.” [Abu Dawud: 3313, dishahihkan al-Albani]

Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kisah di atas akan menunaikan nadzar karena Allah, sama sekali tidak ada unsur syiriknya. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang penunaian nadzar tersebut jika dilakukan di lokasi yang pernah menjadi ajang kesyirikan nenek moyang. Ini, selain menunjukkan sikap tegas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menutup segenap celah yang mengarah pada kesyirikan, juga menunjukkan betapa benci dan antipatinya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hal-hal yang terpapar bau busuk kesyirikan (apalagi dengan syirik itu sendiri).

Hadits tersebut sekaligus membantah orang-orang yang menghalalkan kurban di tempat-tempat yang dikhususkan atau dikeramatkan tanpa dalil (seperti laut, makam, dll) dengan dalih “asal diniatkan karena Allah”. Tidak..!! Sekalipun diniatkan karena Allah, itu tetap terlarang, jika dilakukan di tempat-tempat tertentu, yang diistimewakan tanpa ada dalil syar’i, atau di tempat yang dulunya pernah menjadi tempat pengagungan pada selain Allah [Fatwa al-Lajnah ad-Daimah: 1/397-398]. Wallahua’lam.

***

Oleh: Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

fb.com/jo.saputra.halim

Artikel:

alhujjah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: