Tinggalkan komentar

Wasiat Nabi Nuh ‘alaihissalam (Manhaj Pemersatu Ummat)

Ketika maut hendak menjemput Rasul Allah  yang pertama Nuh , tidak lupa beliau berwasiat kepada putranya. Kemudian setelah estafet nubuwwah jatuh ke tangan Rasul yang terakhir -Sayyidur Rasul wal Anbiya- Muhammad bin Abdillah , wasiat tersebut beliau sampaikan kembali kepada ummatnya. Begitu agungnya wasiat ini sehingga orang-orang yang enggan dengannya akan binasa, dan orang-orang yang memahaminya serta mengamalkannya akan bahagia.

Teks Hadits “Wasiat Nuh”

إِنَّ نَبِيَّ الله نُوحاً صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم لمَاَّ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لاِبْنِهِ: إِنِّي قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيْةَ، آمُرُكَ بِاثْنَتَينِ، وَأنْهَاكَ عَن اثْنَتَينِ، آمُرُكَ بِلاَ إِلهَ إِلاَّ الله، فَإِنَّ السَّموَاتِ السَّبْعَ وَالأرَضِيْن السَّبْعَ لَوْ وُضِعَتْ فِيْ كِفَّةٍ وَ وُضِعَتْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله فِي كِفَّةٍ رَجَحَت بِهِنَّ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله، وَلَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَالأَرَضِيْنَ السَّبْعَ كُنَّ حَلَقَةً مُبْهَمَةً قَصَمَتْهُنَّ، لاَ إِلهَ إِلاَّ الله، وَسُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ فَإِنَّهَا صَلاَةُ كُلِّ شَيْءٍ وَبِهَا يُرْزَقُ الْخَلْقُ وَأَنْهَاكَ عَنْ الشِّرْكِ وَالْكِبْر، قَالَ: قُلْتُ أَوْ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ الله هَذَا الشِّرْكُ قَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا الْكِبْرُ؟ قَالَ: أَنْ يَكُوْنَ لأَحَدِنَا نَعْلاَنِ حَسَنَتَانِ لَهُمَا شِرَاكَانِ حَسَنَانِ؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: هُوَ أَن يَكُونَ لأَحَدِنَا حِلَّةٌ يَلْبِسُهَا؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: الكِبْرُ هُوَ أَن يَكُونَ لأَحَدِنَا دَابَّةٌ يَرْكَبُهَا؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: أَفَهُوَ أَن يَكُونَ لأَحَدِنَا أَصْحَابٌ يَجْلِسُونَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: لاَ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ الله فَمَا الْكِبْرُ؟ قَالَ: سَفْهُ الْحَقِّ وَغَمْصُ النَّاسِ

“Sesungguhnya Nabi Allah Nuh ‘alaihissalam tatkala hendak wafat, ia berkata kepada putranya: ‘Sungguh aku hendak berwasiat kepadamu. Aku memerintahkan kepadamu 2 perkara, serta aku melarangmu dari 2 perkara. (Perintah pertama) Aku memerintahkan kepadamu kalimat laa ilaaha illallaah;karena sesungguhnya ketujuh langit dan ketujuh bumi jika diletakkan pada satu daun timbangan, serta kalimat laa ilaaha illallaah diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka kalimat laa ilaaha illallaah akan lebih berat timbangannya. Dan andaikata ketujuh langit serta ketujuh bumi dalam keadaan terbelenggu dan terkunci; niscaya kalimat laa ilaaha illallaah akan mematahkan belenggu kunci tersebut.(Perintah kedua) kalimat subhaanallaahi wa bihamdihi; sesungguhnya kalimat tersebut adalah sholatnya segala sesuatu, dengan kalimat tersebut setiap makhluk diberi rizki. (Larangan pertama) Dan aku melarangmu dari kesyirikan dan (larangan kedua) kesombongan. Ada yang berkata kepada Rasulullah:’Wahai Rasulullah..! Kami sudah mengenal tentang kesyirikan, namun bagaimana dengan kesombongan?’ Apakah (termasuk kesombongan) bila salah seorang diantara kami memiliki dua buah sandal yang indah? Rasulullah menjawab: ‘Tidak..!’. Ia bertanya lagi: ‘Apakah (termasuk kesombongan) bila salah seorang diantara kami mengenakan pakaian yang indah?’ Rasulullah menjawab: ‘Tidak..!’. Ia bertanya lagi: ‘Apakah kesombongan itu bila seorang diantara kami memiliki hewan tunggangan (kendaraan)?’ Rasulullah menjawab: ‘Tidak..!’. Ia bertanya lagi: ‘Apakah kesombongan itu bila seorang diantara kami memiliki teman-teman yang duduk dihadapannya?’ Rasulullah menjawab: ‘Tidak..!’ Lalu ditanyakan kepada beliau: ‘Lalu apa sebenarnya yang dikatakan sombong (al-Kibr) itu? Beliau menjawab: ‘(al-Kibr adalah) menolak kebenaran dan meremehkan manusia”

.: Derajat Hadits & Referensinya

Hadits ini SHAHIH. Al-Imam ar-Rabbani Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad (548), Ahmad (2/169-170 no. 225), al-Baihaqi dalam al-Asma (79-Hindiah) dari Zaid bin Aslam .” [lihat ash-Shahihah no. 134]

.: Syarh & Fawaid Hadits

Wasiat Nabi Nuh  dalam hadits di atas, sarat akan ilmu dan hikmah yang berharga. Berikut ini adalah beberapa permasalahan pokok yang terkandung dalam wasiat terakhir tersebut.

PERTAMA: Pelajaran Berharga Tentang “Manhaj Dakwah Pemersatu Ummat” Ada beberapa kalimat sentral yang menjadi poros sekaligus muara dari tulisan ini. Kalimat-kalimat tersebut adalah: “Pada fase awal dakwah Islamiah, para Rasul senantiasa membangun dan mengawalinya dengan kalimat tauhid (laailaaha illallaah). Di tengah perjalanan dakwah, para Rasul tetap konsisten menyuarakan esensi kalimat tauhid. Di penghujung hayat-pun, Rasul Allah masih berwasiat dengan kalimat tauhid”. Inilah kalimat-kalimat yang mungkin tampak sepele bagi kebanyakan orang, namun pada hakikatnya, kalimat inilah yang menjadi garis pembeda antara golongan Ahlussunnah wal Jama’ah dengan berbagai kelompok Islam serta partai dakwah lainnya. Munculnya berbagai aliran serta aneka corak dakwah, sungguh telah menggiring kaum muslimin menuju lembah perpecahan. Parahnya lagi, lembah perpecahan itu mereka gelari dengan sebutan “Rahmat”, ada lagi yang menghiasinya dengan kata “Toleransi”, sementara orang-orang berdasi memberinya label “Proses Alami Demokratisasi”.

Sudah saatnya ummat Islam bangkit mempersatukan gerak-langkah dakwah Islamiah, dan itu tidak mungkin terwujud kecuali dengan manhaj dakwah yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul. Manhaj itu adalah satu-satunya jembatan dakwah yang -telah ditetapkan Allah- akan mengantarkan Islam dan kaum muslimin pada kemenangan. Allah berfirman: “(Artinya) Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [QS. al-Mujaadilah: 21]

“(Artinya) dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. [QS. Al-An’am: 53]

Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh seorang penyair: تَرْجُوا النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا :: إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِى عَلَى الْيَبَس “Kalian menginginkan keselamatan, namun tidak menapaki jalan keselamatan” :: “Sungguh, bahtera tak akan pernah berlayar di atas daratan” “Tak Boleh Ada Satu Malam pun Berlalu, Tanpa…” Sesungguhnya perkara pokok yang didakwahkan oleh Nabi Nuh  selama hidupnya adalah “Tauhid”, yaitu mengesakan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang berhak disembah dengan benar, sekaligus kufur terhadap tuhan-tuhan batil yang diibadahi selain Allah. Kalimat tauhid inilah yang beliau perjuangkan pada fase awal dakwah. Ar-Rohman berfirman: “(Artinya) Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” [QS. al-A’raaf: 59].

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: “(Artinya) Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu. Sembahlah olehmu Allah semata (Tauhidullah), bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.” [QS. Nuh: 2-3] Dan jika Anda bertanya “Apa gerangan penyebab banjir bandang super dahsyat di zaman Nuh  ?” Maka jawabannya adalah tidak lain karena keengganan ummat menerima ajakan Tauhid dari Nuh . Simaklah bagaimana Allah mengabarkan betapa bebalnya ummat Nabi Nuh  dalam menolak dakwah tauhid: “(Artinya) Dan mereka (kaum Nuh) berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” [QS. Nuh: 23]

Dalam suatu riwayat yang shahih [Bukhari no. 4920] dari Ibnu Abbas  disebutkan bahwa Wadd, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr adalah nama-nama orang shalih (Waliyullah) yang dikultuskan dan diagungkan oleh kaum Nabi Nuh  sepeninggal mereka. Inilah sikap kaum Nabi Nuh  sebagai jawaban atas ajakan Nabinya kepada Tauhidullah, mereka lebih memilih tahgut (kesyirikan). Inilah esensi perjuangan dakwah Nabi Nuh  yang juga menjadi inti dakwah Rasul-Rasul Allah lainnya. Allah berfirman tentang hal ini: “(Artinya) Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (kesyirikan) itu.” [QS. an-Nahl: 36]

Simak pula perjuangan dakwah para Rasul yang dikisahkan Allah dalam surat al-A’raaf. Diawali dengan kisah Nabi Nuh, lalu kisah Nabi Hud, Shaleh, dan Syu’aib, mereka semua menyerukan suara dakwah yang sama, yaitu: “(Artinya) “Wahai kaumku sembahlah Allah semata, sekali-kali tak ada sesembahan yang lain bagimu selain-Nya.” [QS. al-A’raaf: 59, 65, 73 dan 85].

Inilah agama peratuan para Nabi dan Rasul, mereka dipersatukan Allah di bawah naungan panji tauhid, sekalipun syari’at mereka berbeda-beda. Satu hal yang menarik untuk dikaji berkaitan dengan wasiat Nabi Nuh  di atas adalah; Perjuangan dakwah tauhid Nabi Nuh  yang berproses begitu panjang, toh juga pada akhirnya ditutup dengan wasiat tauhid pula. Allah mengabarkan kepada kita bahwa proses panjang tersebut memakan waktu 950 tahun, sebagaimana firman-Nya: “(Artinya) Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun (950 tahun). Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” [QS. al-Ankabut:14].

Bayangkanlah setiap detik waktu di zaman Nabi Nuh  sebagai buku harian yang mencatat segenap momen perjuangan dakwah beliau selama 950 tahun. Niscaya anda tidak akan mendapati satu halaman pun dalam buku harian tersebut, melainkan dipenuhi oleh pesan-pesan Tauhid kepada Rabb semesta alam. Sampai-sampai pada halaman terakhir dari buku harian tersebut, ditulisi dengan kalimat:

آمُرُكَ بِلاَ إِلهَ إِلاَّ الله، فَإِنَّ السَّموَاتِ السَّبْعَ وَالأرَضِيْن السَّبْعَ لَوْ وَضَعَتْ فِيْ كِفَّةٍ وَوَضَعَتْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله فِي كِفَّةٍ رَجحَت بِهِنَّ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله

“Aku memerintahkan kepadamu kalimat laa ilaaha illallaah;karena sesungguhnya ketujuh langit dan ketujuh bumi jika diletakkan pada satu daun timbangan, serta kalimat laa ilaaha illallaah diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka kalimat laa ilaaha illallaah akan lebih berat timbangannya” Pesan-pesan Tauhid inilah yang juga disampaikan oleh Nabi Ya’qub  dalam wasiat terakhirnya. Allah telah mengabarkannya kepada kita: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” [QS. al-Baqarah: 133]

Alhasil, jika pada fase awal terbitnya dakwah harus diawali dengan tauhid dan pada fase akhir juga harus diakhiri dengan tauhid, maka sudah sepantasnya kalimat berikut ini menjadi pelajaran berharga bagi segenap da’i dan aktivis di medan dakwah: “Tidak boleh ada satu malam pun yang berlalu di atas panggung dakwah, tanpa terisi oleh esensi dakwah tauhid”. Kalimat tersebut bukanlah mengharamkan muatan dakwah Islam lainnya semisal akhlak, muamalah dan penyucian jiwa -pada hakikatnya hal-hal tersebut merupakan cabang dari tauhid juga-. Namun yang diinginkan kalimat tersebut adalah; agar dakwah tauhid menjadi prioritas pertama dan utama di mata para da’i dan aktivis dakwah. Disebutkan dalam hadits Anas bin Malik  yang diriwayatkan di dalam Ash-Shahihain [Bukhari-Muslim], bahwa Rasulullah  ketika mengutus Muadz  ke Yaman, beliau bersabda: “Artinya : Hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah pesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, maka jika mereka mentaatimu dalam hal itu ….. dan seterusnya sampai akhir hadits.” [Bukhari no.1395, Muslim no.19]

Manhaj Inilah yang Akan Mempersatukan Kita

Di tengah kocar-kocirnya barisan dakwah Islam saat ini, kebutuhan akan manhaj pemersatu ummat adalah sebuah harga mati. Tidak terbayang di benak kaum muslimin jika seruan dan slogan-slogan “Persatuan Islam” justru meluncur dari lisan-lisan para da’i yang memecah belah ummat dengan manhaj dakwah mereka yang beraneka ragam. Untuk mempersatukan ummat di bawah satu panji, tidak bisa tidak, kita harus berkumpul di atas manhaj nubuwwah. Yaitu manhaj dakwah yang dibina langsung oleh Allah melalui Rasul-Rasul-Nya. Manhaj dakwah yang kami maksudkan adalah memprioritaskan aqidah dan tauhid di atas segala-galanya. Berikan porsi yang besar terhadap dakwah aqidah dan tauhid, barulah seiring dengan itu kita membangun sisi yang lain semisal akhlak, dakwah sosial, dakwah tentang ekonomi Islam, sistem politik Islam dan lain-lain. Karena aqidah dan tauhid adalah asas bangunan Islam, bukankah suatu bangunan akan rapuh jika asasnya tidak kokoh? Demikian pula halnya dengan wacana-wacana Islam tentang politik, ekonomi Islam, Khilafah Islamiah, Jihad dan sebagainya; semua hal ini tidak akan tegak dengan kokoh jika asasnya –yaitu aqidah dan tauhid- tidak dibangun dengan ekstra kokoh. Tataplah ayat berikut ini dengan mata hatimu –wahai para da’i di jalan Allah!- lalu renungkan maknanya yang terdalam: “(Artinya) Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan (yang diibadahi) selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [QS. Ali Imran: 64]

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan Rasulullah  untuk mengajak Ahlul Kitab (Yahudi-Nasrani) untuk bersatu di bawah satu panji yaitu panji tauhid. Lalu alasan apakah yang kita miliki di hadapan Allah kelak, jika para da’i Islam justru enggan mengajak ummatnya sendiri kepada tauhid? Bukankah ummat Islam saat ini dilanda krisis tauhid yang terparah sepanjang zaman? Bukankah mereka meminta kepada selain Allah? Meminta di kuburan orang shalih, memohon dan takut pada batu atau pohon yang dianggap keramat? Bukankah mereka ber-istigotsah, ber-qurban, ber-nazar kepada selain Allah atau dengan niat selain Allah? Bukankah mereka berhukum selain dengan hukum Allah? Berdasarkan ayat tersebut (QS. Ali Imran: 64), bisa ditarik korelasi yang jelas antara tujuan dan sarana untuk mencapai tujuan. Jika tujuan kita adalah mempersatukan dakwah Islamiah, maka sarana yang harus ditempuh terlebih dahulu adalah bersatu dalam memprioritaskan dakwah aqidah dan tauhid.

KEDUA: Keagungan Kalimat Tauhid Terdapat banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentang keutamaan kalimat tauhid (laailaaha illallaah). Dalam hadits di atas, dijelaskan bahwa kalimat tauhid lebih berat timbangannya di sisi Allah jika dibandingkan dengan ketujuh langit dan ketujuh bumi sekaligus. Pada pembahasan kali ini, kita akan mencoba menelusuri literatur ayat, hadits serta karya tulis ulama-ulama salaf untuk menemukan jawaban Al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziah rahimahullah memilki deskripsi yang indah tentang keagungan kalimat ini. Beliau berkata: ….. (Bersambung Insya Allah) ***

(Tulisan lama -8 Maret 2007-, sambungannya ga ketemu)

Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

fb.com/jo.saputra.halim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: