3 Komentar

BANTAHAN ATAS PENDALILAN ISIS YANG MEMBAKAR TAWANAN HIDUP-HIDUP (Bag. 1 & 2)

Demi membenarkan aksi bakar manusia hidup-hidup yang mereka lakukan, dengan tanpa rasa malu ISIS mengeluarkan fatwa sandaran yang sangat rapuh.

Mereka berkata (dalam Fatwa Resmi yang dikeluarkan oleh ISIS)[i]:

1-hPara ulama madzhab Hanafi dan Syafi’i berpendapat bolehnya membakar dengan api secara Mutlak. Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Dan sesungguhnya api itu, tidak boleh mengadzab seseorang dengannya kecuali Allah. mereka menafsirkannya sebagai bentuk ketawadhuan. Al Muhallab berkata, Larangan ini bukan menunjukkan keharaman, akan tetapi sebagai bentuk ketawadhuan. [Lihat Fathul Baariy juz 6 hal 174]

Ibnu hajar berkata, Yang menunjukkan bolehnya membakar dengan api adalah perbuatan para shahabat, perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mencongkel mata kaum uraniyyin dengan besi panas, perbuatan Khalid Ibnu Walid yang membakar beberapa orang dari kaum murtadin dengan api. [Diringkas dari lihat Fathul Baariy juz 6 hal 174]

Sebagian Ahlul Ilmi berpendapat bahwa membakar dengan api hukum asalnya adalah Haram, akan tetapi boleh kalau untuk melakukan pembalasan yang setimpal. Sebagaimana perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wasallam kepada kaum Uraniyyin di mana beliau mencongkel mata mereka dengan api -sebagai bentuk balasan yang setimpal- sebagaimana diriwayatkan dalam ash shahih. Dan ini adalah perkataan yang paling jelas dari pengumpulan dalil dalil yang ada.

Wallahu a’lam, semoga shalawat tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya.

***

Ad Daulah Al Islamiyyah (alias ISIS-pen)

Lembaga Penelitian dan Fatwa

Imam Asy Syaukani berkata : Abu Bakar telah membakar dengan api dan disaksikan oleh para sahabat, Khalid bin Walid telah membakar beberapa orang dari kaum murtadin. begitu juga Ali Radhiyyallahu ‘anhu membakar dengan api sebagaimana disebutkan dalam bab Hudud. Nailul Authar: 7/250 Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : Semua hal ini agar orang orang arab yang murtad yang mendengarnya dapat mengambil pelajaran. Al Bidayah wa Nihayah 6/351

***

Sanggahan:

Sebelum masuk ke inti sanggahan ilmiah, pertanyaan mendasar perlu kita sampaikan kepada ISIS ataupun kepada para loyalis dan simpatisannya terkait fatwa tersebut; “Siapakah ulama di balik lembaran fatwa yang hanya satu halaman tersebut? Kemanakah nama-nama mereka? Kenapa mesti malu-malu kucing untuk menampilkan nama-nama pencetus fatwa tersebut agar ummat dan ulama dunia bisa menimbang; siapa mereka dan sejauh mana kapasitas keilmuan mereka. Pasalnya mereka berani membawa-bawa nama ulama salaf, demi membenarkan hawa nafsu mereka, namun pengecut untuk mempertanggungjawabkan amanah ilmiah penukilan mereka. Karena etika ilmiah penulisan (terlebih lagi dalam penulisan dan penyebaran fatwa), menuntut seseorang untuk siap bertanggung jawab secara ilmiah atas tulisan atau dakwaannya, dan itu tidak mungkin terwujud manakala si penulis tidak bisa dikenali. Ini yang pertama. Kemudian sikap ISIS yang menyembunyikan siapa ulama mereka, bertentangan dengan spirit hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menegaskan bahwa para ulama dari kalangan ath-Tha-ifah al-Manshurah (golongan yang selamat dan tertolong) adalah ulama yang senantiasa nampak (zhahir) di atas al-haq. Bukan “ulama jadi-jadian” yang tidak jelas identitas dan kapasitasnya, plus bersembunyi di bawah tanah.

وعن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق حتى تقوم الساعة ) .

“Senantiasa ada sekolompok orang dari ummatku yang zhahir di atas kebenaran sampai datangnya kiamat.”[ii] [Silsilah ash-Shahihah: 1/270, al-Albani]

وعن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ( لا يزال من أمتي قوم ظاهرين على الناس حتى يأتيهم أمر الله )

“Senantiasa ada dari ummatku suatu kaum yang mana mereka itu zhahir di tengah-tengah manusia sampai datang kepada mereka keputusan Allah (ajal atau kiamat).”[iii] [Shahih al-Bukhari no. 6929] Para ulama menjelaskan bahwa di antara makna zhahir dalam hadits-hadits tersebut adalah[iv]:

الوضوح والبيان وعدم الاستتار فهم معروفون بارزون مستعلون

“Jelas, terang lagi nampak, tanpa ada kesamaran dan tidak sembunyi-sembunyi. Mereka itu dikenal dan diketahui secara masyhur, dan berkedudukan tinggi.” [http://islamqa.info/ar/206] Dari sisi (ketidak-pede-an ISIS dalam berdalil dan berfatwa) ini saja, bau tak sedap sudah bisa tercium. Kita sudah bisa menakar dan merasakan ada suatu yang salah dengan fatwa tersebut. Dan faktanya memang berbicara demikian, sebagaimana yang sesaat lagi akan anda baca dalam tulisan ini.

Mereka (ISIS) berkata:

Para ulama madzhab Hanafi dan Syafi’i berpendapat bolehnya membakar dengan api secara mutlak.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah Menjawab:

Siapa yang mereka maksud dengan ulama mazhab Hanafi dan Syafi’i? Lagi-lagi samar mengawang-awang, sesamar mereka menyembunyikan “ulama” mereka yang mengeluarkan fatwa tersebut. Sampai-sampai (ketika membaca kalimat mereka tersebut) al-‘Allaamah al-Faqiih Masyhur Hasan Salman hafizhahullah tersenyum seraya berkata: “‘ajiiib…!! (aneh)” dengan mimik penuh keheranan. [http://youtu.be/24gI05XSZug] Betapa tidak, karena al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah sendiri, selaku tokoh sentral dan rujukan utama dalam mazhab Syafi’iyyah, ternyata tidak sejalan dengan mereka (ISIS) dalam masalah ini. Coba baca dengan seksama ungkapan Imam kita yang mulia asy-Syafi’i rahimahullah berikut ini lalu bandingkan dengan klaim ISIS di atas:

يَكُونُ لَهُ أَنْ يَرْمِيَ الْمُشْرِكَ بِالنَّبْلِ وَالنَّارِ وَالْمَنْجَنِيقِ فَإِذَا صَارَ أَسِيرًا فِي يَدَيْهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ وَكَانَ لَهُ قَتْلُهُ بِالسَّيْفِ وَكَذَلِكَ لَهُ أَنْ يَرْمِيَ الصَّيْدَ فَيَقْتُلَهُ فَإِذَا صَارَ فِي يَدَيْهِ لَمْ يَقْتُلْهُ إلَّا بِالذَّكَاءِ الَّتِي هِيَ أَخَفُّ عَلَيْهِ

“(di medan jihad/perang), prajurit muslim boleh melempar musuh yang musyrik dengan panah, bola api, dan manjanik (pelontar peluru atau batu). Jika si musyrik itu sudah tertawan dalam kekuasaannya, maka ia tidak boleh melakukan hal tersebut (membunuh dengan api-pen), dia boleh membunuhnya dengan pedang. Demikian halnya dengan hewan buruan, boleh dilempar/ditembak (saat diburu), namun jika telah tertangkap maka tidak boleh dibunuh kecuali dengan penyembelihan (yang disyari’atkan) yang lebih ringan (sakitnya bagi hewan buruan tersebut)…” [Al-Umm: 4/274, Darul Ma’rifah – Beirut, asy-Syamilah] Lihatlah bagaimana al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah hanya membolehkan melempar dengan api di medan tempur dan hanya kepada target musuh yang musyrik alias kafir. Lalu bagaimana dengan Pilot Mu’adz rahimahullah? Kalian bakar dia hidup-hidup dalam statusnya sebagai tawanan (bukan di medan tempur), dan lahiriyahnya bersaksi bahwa dia adalah seorang muslim. Oya, kalian menganggapnya kafir-murtad. Lantas bolehkah membakar tawanan kafir menurut asy-Syafi’i…? Jangankan kepada manusia, kepada hewan pun beliau tidak membolehkannya. “Duhai Allah, Dzat yang membolak-balikkan akal. Kokohkanlah akal kami di atas agama-Mu yang lurus.” [diadopsi dari ucapan Syaikh Masyhur Hasan Salman ketika mengomentari tindakan ISIS]

Ijma’ Ulama Menjawab:

Anggaplah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu’anhu memang benar diskisahkan pernah menetapkan hukuman dengan membakar (sekalipun riwayat tentang kisah ini sebenarnya lemah dan masih dipertanyakan sanadnya). Namun kita jangan menutup mata bahwa di antara ulama madzhab, ada yang menukil ijma’ tentang keharaman mengadzab dengan api. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:

أما العدو إذا قدر عليه فلا يجوز تحريقه بالنار بغير خلاف نعلمه ، وقد كان أبو بكر الصديق –رضي الله عنه- يأمر بتحريق أهل الردة ، وفعل ذلك خالد بن الوليد بأمره ، فأما اليوم فلا أعلم فيه بين الناس خلافاً

“Seorang musuh, jika sudah tertangkap dan dikuasai, maka tidak boleh membakarnya dengan api tanpa ada selisih pendapat dalam masalah ini sepengetahuan kami (dengan kata lain; sudah terjadi ijma’). Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu’anhu pernah memerintahkan untuk membakar orang-orang yang murtad. Khalid bin Walid radhiallahu’anhu juga pernah melakukannya atas perintah dari beliau. Namun saat ini, aku tidak tahu ada khilaf tentang keharamannya di tengah-tengah masyarakat…” Ungkapan Ibnu Qudamah rahimahullah di atas menegaskan bahwa sekalipun di era Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu’anhu hal tersebut pernah dibolehkan sesuai dengan sikon saat itu, namun setelah beberapa kurun waktu, tercapai konsensus (ijma’) akan keharamannya berdasarkan nash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ijma’ semacam ini, semisal dengan ijma’ para ulama yang mengharamkan khuruj (memberontak dengan mengangkat senjata) pada penguasa yang zhalim, karena besarnya mafsadat yang dilahirkan. Sekalipun pada era sebelumnya, sebagian salaf ada yang membolehkan khuruj tersebut. [Syaikh DR. Ahmad bin Nashir al-Ghamidi dalam paper ilmiahnya yang berjudul; “at-Tahriiq bin Naar[v]] Setali dua uang dengan Ibnu Qudamah rahimahullah yang mermadzhab Hambali, al-Imam Ibnu Ashbagh al-Azdy rahimahullah (wafat: 620-H), seorang ulama ahli hadits dari madzhab Maliki, dalam kitabnya “al-Injaad fii Abwaabil Jihaad[vi] [hal. 243], juga menukil adanya ijma’ tentang keharaman membakar individu kafir (apalagi seorang muslim..?!) jika ia sudah dikuasai. Beliau berkata:

اختلفوا في قتل العدو بغير السلاح، كالتحريق بالنار والتغريق، وما أشبه ذلك من ضروب القتل التي فيها تعذيبٌ أو تمثيل، فأما المقدور عليه منهم فلا أعلم في ذلك خلافاً، وأنه لا يجوز تحريق أعيان العدو إذا أمكن قتلهم بغير ذلك، ولم يكونوا هم حرقوا أحداً من المسلمين

“Mereka (para ulama memang) berbeda pendapat tentang hukum membunuh musuh tanpa senjata (ketika pertempuran terjadi), seperti; membakar dengan api, menenggelamkan, atau yang semisalnya berupa pengeksekusian dengan menyiksa atau memotong anggota badan. Namun saat musuh dikuasai (atau tertawan), maka di situ, aku tidak mengetahui adanya khilaf bahwasanya; tidak dibolehkan membakar individu musuh (yang kafir, apalagi muslim…?!) jika memungkinkan untuk dieksekusi dengan cara lain. Dan mereka (para salaf) sama sekali tidak pernah membakar seorang muslim.” Kemudian asy-Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah, murid senior al-Imam al-Albani rahimahullah, pen-tahqiq kitab al-Injaad fii Abwaabil Jihaad menambahkan referensi dari kitab-kitab madzhab, tidak terkecuali dari madzhab Hanafi dan Syafi’i, yang menyokong nukilan ijma’ di-atas. Bagi yang ingin meneliti secara langsung, silahkan merujuk referensi-referensi induk madzhab berikut ini:

«المبسوط» (10/31) ، «بدائع الصنائع» (6/62) ، «المدونة» (2/25) ، «الذخيرة» (3/408) ، «الخرشي» (4/15) ، «الأم» (4/243) ، «روضة الطالبين» (10/244) ، «المبدع» (3/ 321)، «كشاف القناع» (3/377) ، «فتح الباري» (6/185)

Sekarang, pembaca bisa menilai sendiri. Sejauh mana kadar kebenaran dari ungkapan tidak bertanggungjawab ISIS di atas. Benarkah ulama madzhab Hanafi dan Syafi’i membolehkan secara mutlak membakar dengan api? Subhanallah…!! Ini adalah tuduhan yang keji.

>> Bersambung Insya Allah…

Akhukum filaah..

Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

Blog: kristaliman.wordpress.com

Page: fb.com/kristaliman

Catatan Kaki:

[i] Diambil dari terjemahan (web simpatisan ISIS): isdarat.daulahislamiyyah.com [ii] Silsilah ash-Shahihah: 1/270, al-Albani. [iii] Shahih al-Bukhari no. 6929. [iv] http://islamqa.info/ar/206 [v] Anehnya, simpatisan ISIS menjadikan artikel ini sebagai salah satu sandaran ilmiah mereka. Padahal jika mereka membaca dengan sabar, tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, justru isi artikel ini adalah bumerang yang membantah mereka. [vi] di-tahqiq oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman.

3 comments on “BANTAHAN ATAS PENDALILAN ISIS YANG MEMBAKAR TAWANAN HIDUP-HIDUP (Bag. 1 & 2)

  1. ustaz bagaiman kondisi simuaz yang membunuh kaum muslimin didaulah islam menggunakan rudal (kebanyakan warga sipil n anak2) ??…. wajar si muaz diqisas seperti itu.. kelakuannya bukan seorang muslim apaligi simuaz dan pemerintahnya berkualisi dengan amerik dn yahud… dan itu kesaksian simuaz sendiri (dan simuaz sadar atas tindakannya itu)…kesimpulannya ulama yang berada dibawah ketiak pemerintah thogut dengki sekali dengan Daulah Islam..OK USTAZ

    • Saya tidak menolak dalil Qishash. Qishash itu haq. Namun Qishash dg api, terbentur dg hadits larangan dari Ibnu Mas’ud. Para ulama mengatakan, pada kasus orang yg memaksa orang lain menenggak khamr sampai tewas, : “tidak boleh menqishash orang tsb dg hal serupa, Krn khamr ada larangannya. Demikian pula halnya dg membunuh dg api, ada larangannya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: