3 Komentar

BANTAHAN ATAS PENDALILAN ISIS YANG MEMBAKAR TAWANAN HIDUP-HIDUP (Bag. 3)

Bag. 1 dan 2:
di sini
—————————–

Mereka (ISIS) berkata:

Adapun sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam, “Dan sesungguhnya api itu, tidak boleh mengadzab seseorang dengannya kecuali Allah.” mereka menafsirkannya sebagai bentuk ketawadhuan. Al Muhallab berkata, Larangan ini bukan menunjukkan keharaman, akan tetapi sebagai bentuk ketawadhuan. [Lihat Fathul Baariy juz 6 hal 174]

Jawaban:

Baiklah… Kita sudah mulai masuk ke inti syubhat. Dengan pertolongan Allah, kebekuan syubhat ini akan lumer InsyaAllah.

Para ahli fiqih, di antaranya adalah al-‘Allaamah Masyhur Hasan Salman hafizhahullah, menegaskan bahwa perkara membakar dengan api bukanlah perkara ijtihadiyyah  [lihat http://youtu.be/24gI05XSZug].

Ada nash terang benderang yang mengharamkannya. Nash tersebut adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu berikut ini:

بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْثٍ فَقَالَ: «إِنْ وَجَدْتُمْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا فَأَحْرِقُوهُمَا بِالنَّارِ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَرَدْنَا الخُرُوجَ: «إِنِّي أَمَرْتُكُمْ أَنْ تُحْرِقُوا فُلاَنًا وَفُلاَنًا، وَإِنَّ النَّارَ لاَ يُعَذِّبُ بِهَا إِلَّا اللَّهُ، فَإِنْ وَجَدْتُمُوهُمَا فَاقْتُلُوهُمَا»

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah mengutus kami dalam sebuah operasi militer, lantas beliau bersabda: “Jika kalian mendapati fulan dan fulan, maka bakarlah keduanya dengan api”. Manakala kami hendak keluar (untuk menunaikan misi tersebut), Rasulullah kembali bersabda: “Sebelumnya aku telah memerintahkan kalian untuk membakar fulan dan fulan. Hanya saja, api tidaklah digunakan untuk menyiksa kecuali oleh Allah saja. Maka, jika kalian mendapati keduanya, bunuhlah keduanya (tanpa dibakar).” [al-Bukhari: 3016, Ahmad: 3/124, Abu Dawud: 2673, at-Tirmidzi: 1619]

Ungkapan Rasulullah “api tidaklah digunakan untuk menyiksa kecuali oleh Allah saja” dalam hadits tersebut tidak bisa dipalingkan substansi maknanya dari “larangan” kepada makna yang lain; seperti “tawadhu kepada Allah” misalkan. Lalu bagaimana dengan penjelasan Al-Muhallab yang dinukil ISIS di atas…??

Jika diuraikan, ungkapan Al-Muhallab rahimahullah tersebut, bermakna sebagai berikut;

“Nabi tidak sungguh-sungguh melarang kita mengadzab dengan api. Itu boleh dilakukan, tapi selayaknya dihindari sebagai bentuk ketawadhuan kepada Allah selaku Rabb api tersebut.”

Baik, kita akui pendapat seperti ini adalah fakta. Dicetuskan oleh salah seorang ulama pen-syarah Shahih al-Bukhari, bernama Al-Muhallab bin Ahmad bin Abi Shufrah rahimahullah (wafat: 435-H). Namun sudahkah ISIS menimbang sejauh mana tingkat kebenaran pendapat tersebut…? Sehingga dengan mudahnya dicomot sebagai pijakan untuk membakar manusia hidup-hidup lalu mengundang kemarahan dunia Islam dan stigma negatif di luar Islam sekaligus kegirangan musuh-musuh Islam karenanya…??

Dengan penuh keyakinan kita mengatakan bahwa pendapat Al-Muhallab rahimahullah tidaklah tepat dalam masalah ini, dengan beberapa alasan sebagai berikut:

Pertama: ungkapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersebut diistilahkan oleh para ulama ushul sebagai (الخبر يراد به النهي) “al-khobar yuroodu bihi an-nahy“, atau “ungkapan dalam konteks berita yang bermakna larangan”. Dan yang semisal dengan ini, banyak dalam al-Qur’an. Salah satunya dalam ayat:

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً

“Laki-laki pezina, tidak menikahi kecuali wanita pezina atau musyrik…” [Surat An-Noor: 3]. Ayat ini datang dalam konteks berita, namun substansinya bermakna larangan. Artinya; laki-laki muslim yang suci tidak boleh menikahi wanita pezina.

Nah, demikian pula halnya dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atas, benar-benar bermakna; larangan menggunakan api sebagai media untuk menyiksa.

Kedua: makna larangan dalam hadits Abu Hurairah di atas, adalah makna yang dipilih dan diungkapkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari. Namun entah kenapa, ini seakan menjadi samar dan ditutup-tutupi oleh fatwa ISIS yang hanya menonjolkan ucapan Al-Muhallab rahimahullah saja. Padahal tepat di halaman yang sama (Fathul Baari: 6/174), Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

قوله : ( وإن النار لا يعذب بها إلا الله ) هو خبر بمعنى النهي

“Sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: (sesungguhnya api, tidak digunakan mengadzab kecuali oleh Allah saja) adalah ungkapan berita yang bermakna larangan (bukan “ketawadhuan”-pen)”

Tidak cukup hanya itu, Ibnu Hajar rahimahullah kembali menegaskan kesimpulan beliau tentang makna hadits Abu Hurairah di atas:

وأما حديث الباب فظاهر النهي فيه التحريم

“Adapun hadits dalam bab ini (yang beliau maksud adalah hadits Abu Hurairah), maka zhahir larangannya bermakna pengharaman.” [Fathul Baari: 6/175]

Selanjutnya perlu dicatat bahwa di antara kebiasaan Ibnu Hajar rahimahullah ketika men-syarah Shahih al-Bukhari adalah beliau tidak jarang menukil ucapan para pen-syarah Shahih al-Bukhari sebelum beliau, termasuk syarah dari Al-Muhallab rahimahullah. Setelah itu, beliau menguatkan pendapat beliau dengan berbagai argumentasi. Jadi, penukilan Ibnu Hajar rahimahullah atas ucapan Al-Muhallab rahimahullah tidak mesti menunjukkan bahwa beliau sepakat dengan pendapat Al-Muhallab rahimahullah. Terbukti, kesimpulan hukum yang dituliskan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam masalah ini, jauh berbeda dengan apa yang diucapkan oleh Al-Muhallab rahimahullah. Sebagaimana yang akan anda baca sesaat lagi Insya Allah.

Ketiga: di antara hujjah pemutus yang menguatkan bahwa hadits Abu Hurairah di atas bermakna “larangan” dan bukan “ketawadhuan” adalah; adanya riwayat shahih lain yang menegaskan hal ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ

“Sesungguhnya, tidak boleh seorang pun mengadzab dengan api, kecuali Rabbnya api.” [Abu Daud,  Silsilah ash-Shahihah: 487]

Bertolak dari uraian di atas, jelaslah sudah bahwa pendapat Al-Muhallab tidaklah tepat. Kendati demikian kita tidaklah mengatakan beliau berdosa karena kekeliruan ini. Bahkan boleh jadi beliau meraih pahala ijtihad.

>>Bersambung Insya Allah

—————–
Akhukum fillaah
Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

Blog: https://kristaliman.wordpress.com
Page: http://fb.com/kristaliman

3 comments on “BANTAHAN ATAS PENDALILAN ISIS YANG MEMBAKAR TAWANAN HIDUP-HIDUP (Bag. 3)

  1. […] sy yg irjaa itu bahas IS(IS) di sini, secara bersambung. tapi dibahasannya itu, seperti biasa, ada yg disembunyikan, ada dalil yg […]

  2. Baik, kita akui pendapat seperti ini adalah fakta. Dicetuskan oleh salah seorang ulama pen-syarah Shahih al-Bukhari, bernama Al-Muhallab bin Ahmad bin Abi Shufrah rahimahullah (wafat: 435-H). Namun sudahkah ISIS menimbang sejauh mana tingkat kebenaran pendapat tersebut…? Sehingga dengan mudahnya dicomot sebagai pijakan untuk membakar manusia hidup-hidup lalu mengundang kemarahan dunia Islam dan stigma negatif di luar Islam sekaligus kegirangan musuh-musuh Islam karenanya…??

    Man anta ????? Subhanallah……. masalah timbang menimbang itu urusan Qadhi Syar’ie… berhubung si MURTAD kasabeh itu ditangkap oleh pihak Dawlah,maka yg menangani hukuman atasnya adalah Qadhi Syari Dawlah…..

    lalu siapa ente ???? ente keluarga korban serangan udara koalisi salib ??? sehingga ente berhak memaafkan si kasabeh dan meringankan hukuman nya ??? Mashaallah…..

    • Siapa saja Qadhi Syar’ie ISIS..?? Ini yg jadi pokok permasalahan. Kita tidak mengenal ada ulama dalam barisan mereka. Jika memang tidak sepakat dengan apa yang saya tuliskan, tolong dibantah juga dengan dalil. Insya Allah (saya mohon kepada-Nya), saya akan selalu tasliim pada dalil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: