Tinggalkan komentar

BANTAHAN ATAS PENDALILAN ISIS YANG MEMBAKAR TAWANAN HIDUP-HIDUP (Bag. 4)

Mereka (ISIS) berkata:

Ibnu hajar berkata, Yang menunjukkan bolehnya membakar dengan api adalah perbuatan para shahabat, perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang mencongkel mata kaum uraniyyin dengan besi panas, perbuatan Khalid Ibnu Walid yang membakar beberapa orang dari kaum murtadin dengan api. [Diringkas dari Fathul Baariy juz 6 hal 174]

Jawaban:

Subhanallah…!! Lagi-lagi ini adalah pengkaburan. Seolah mereka ingin menyampaikan pesan; “Ini lho.., Ibnu Hajar membenarkan apa yang kami lakukan“.

Padahal di halaman berikutnya (hal. 175) Ibnu Hajar rahimahullah menukil ucapan Ibnul Munir rahimahullah yang menyanggah pendapat Al-Muhallab rahimahullah. Kemudian Ibnu Hajar rahimahullah–di halaman yang sama–menuliskan kesimpulan finalnya yang justru besebrangan dengan apa yang diharapkan ISIS.

Wallahua’lam, keberanian mereka melakukan pengkaburan ilmiah ini apakah didasari oleh ketidaktahuan? Atau semata-mata karena suatu tujuan yang sering kali digambarkan oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam ungkapannya tentang Ahlul Bida’:

هم يذكرون ما لهم ولا يذكرون ما عليهم

“Mereka hanya menyebutkan hujjah yang menyokong mereka, namun menutupi hujjah yang memojokkan mereka.”

Apakah ulama-ulama majhul ISIS tidak membaca nukilan Ibnu Hajar rahimahullah atas ucapan Ibnul Munir setelah menukil ucapan Al-Muhallab di halaman berikutnya (hal. 175 jilid-6 Fathul Baari)…?? di mana beliau rahimahullah berkata:

وقال ابن المنير وغيره : لا حجة فيما ذكر للجواز ، لأن قصة العرنيين كانت قصاصا أو منسوخة كما تقدم

“Ibnul Munir dan ulama selain beliau berkata: ‘Tidak ada dalil tentang kebolehan hal tersebut. Karena kisah dicongkelnya Uraniyyin dengan besi panas punya dua kemungkinan: (1) itu adalah Qishash, balasan yang setimpal. Karena mereka sebelumnya telah mencongkel mata penggembala hewan Rasulullah dengan api. (2) itu sudah mansukh atau sudah dihapus hukumnya dan kini sudah menjadi haram.

Kemudian Ibnu Hajar rahimahullah menguatkan kemungkinan yang ke-2. Beliau rahimahullah berkata:

وأما حديث الباب فظاهر النهي فيه التحريم، وهو نسخ لأمره المتقدم سواء كان بوحي إليه أو باجتهاد منه ، وهو محمول على من قصد إلى ذلك في شخص بعينه

“Adapun hadits dalam bab ini (yang beliau maksud adalah hadits Abu Hurairah), maka zhahir larangannya bermakna pengharaman, yang me-nasakh atau menghapus perintah beliau shallallahu alaihi wasallam sebelumnya (saat beliau memerintahkan untuk membakar fulan dan fulan), sama saja apakah penghapusan hukum tersebut berdasarkan wahyu kepada Nabi ataupun karena ijtihad beliau (yang kemudian di-taqrir oleh Allah)”. Dan larangan tersebut, dibawa pengertiannya kepada larangan bagi seseorang untuk memaksudkan atau menargetkan person tertentu untuk dibakar.”   [Fathul Baari: 6/175]

Inilah kesimpulan hukum yang dipilih oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam masalah ini. Jauh berbeda dengan apa yang tergambar dan terkesankan dalam fatwa ISIS.

Lalu bagaimana dengan kisah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Khalid bin al-Walid radhiallahu’anhuma…??

Kita akui kisah pembakaran yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalid bin Walid radhiallahu’anhuma tertulis dalam kitab-kitab tarikh. Namun itu tidak menjamin keshahihannya. Tidak sedikit kitab-kitab tarikh yang ditulis oleh ulama-ulama ahlussunnah, -semisal ath-Thabari dan Ibnu Katsir rahimallaahul jamii’- berisi riwayat-riwayat yang lemah. Mereka menukil kisah-kisah tersebut lengkap dengan sanad-sanadnya dan apa adanya, untuk bisa diteliti oleh generasi ulama yang datang setelah mereka.

Tidak terkecuali kisah tentang pembakaran yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq dan Khalid bin al-Walid radhiallahu’anhuma. Semuanya adalah kisah yang lemah.

Ketika terjadi gelombang aksi murtad di jazirah Arab pada masa kekhalifahannya, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu’anhu dikisahkan telah membakar al-Fuja’ah as-Sulami, gembong kemurtadan di tanah arab ketika itu. Itu dilakukan sebagai bentuk hukuman, sekaligus demi memberikan efek jera bagi mereka yang ingin murtad dan memberontak sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Siapakah al-Fuja’ah as-Sulami ini?

Beberapa sejarawan Islam dari kalangan salaf menyebutkan beberapa versi nama asli al-Fuja’ah:

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutnya sebagai Iyas bin Abdillah bin Abdi Ya-lail [al-Bidayah wan-Nihayah: 6/319, al-Ma’arif-Beirut]. Ibnul Atsir rahimahullah menyebutnya; Iyas bin Abdi Ya-lail [al-Kamal fit-Tarikh: 2/237]. Ada lagi yang menyebutnya; al-Fuja-ah bin Abdi Ya-lail [Tarikh Ibn. Khaldun: 2/72]. Ada yang mengatakan dia dari Bani ‘Amiiroh yang bernama asli Bajir bin Iyas [an-Nasab: 253, Abu Ubaid al-Qosim bin Sallam]. Sementara itu Ibnu Hajar rahimahullah dalam Nuzhatul Albab fil Alqob (2/67) menyebutnya sebagai Bajir bin Iyas yang dibakar oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu’anhu karena terbukti telah melakukan liwath (homosex).

Dari sekian versi nama sosok al-Fuja’ah ini saja, seorang tholib pemula dalam ilmu periwayatan sudah bisa mencium ada aroma kegoncangan dan kesimpangsiuran seputar kisah pembakaran ini.

Studi Kritis Riwayat Pembakaran

Dalam sanad riwayat Tarikh ath-Thabari [3/264], ada perawi yang bernama Syu’aib bin Ibrahim. Padanya ada jahaalah sebagaimana disebutkan oleh adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar. Dan perawi bernama Sahl bin Yusuf, dia majhul (tidak dikenal), sebagaimana kata Ibnu Abdil Bar [al-Mizan: 2/255]. Kesimpulannya riwayat ini lemah dan sama sekali tidak bisa dijadikan dalil.

Dalam Tarikh ath-Thabari [3/265], kisah pembakaran ini juga disebutkan dari jalur periwayatan yang lain. Namun lagi-lagi dalam sanadnya ada nama-nama yang bermasalah. Di situ ada Ibnu Humaid yang dikatakan oleh al-Bukhari; “fiihi nazhor atau matruk (ditinggalkan) periwayatannya” [at-Tarikh al-Kabir: 1/69]. Di situ juga ada Salamah bin al-Fadhl, al-Bukhari berkata tentangnya: “fiihi manaakiir alias banyak kemunkaran dan kesalahannya dalam periwayatan” [at-Tarikh al-Kabir: 4/84]. Ada juga Muhammad bin Ishaq yang dikatakan oleh Ibnu Hajar sebagai mudallis dan tertuduh memiliki pemahaman Syi’ah-Qodariyyah [at-Taqrib: 825, no. 5762]. Kesimpulannya riwayat ini pun lemah, tidak bisa digunakan berdalil.

Catatan: seluruh nukilah ilmiah seputar lemahnya kisah pembakaran yang dilakukan oleh abu Bakar di atas, saya ringkas dari artikel ilmiah karya Ismail Sa’id Ridhwan, kuliah Ushuluddin – Universitas Islam Ghaza – Palestin, dengan judul “Marwiyyaat Ihrooq Abi Bakr –lil Fuja’ah as-Sulami—Jam’un wa Diroosah wa Naqd” diterbitkan oleh Majalah al-Jaami’ah al-Islaamiyyah (Silsilah ad-Diroosah asy-Syar’iyyah), jilid-13/vol.-2, hal. 211-259, Juni 2005. Bagi yang ingin menelaah lebih lanjut, silahkan download di sini.

Anggaplah Kisah Tersebut Benar Adanya…

Namun dalam Tarikh ath-Thabari sendiri [3/429], disebutkan riwayat bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu’anhu menyesal telah melakukan pembakaran tersebut.

Jika ada yang mengatakan: “riwayat penyesalan Abu Bakar tersebut dha’if (lemah)”. Maka kita katakan: “Benar, riwayatnya dha’if (justru menjadi suatu hal yang aneh jika riwayatnya shahih). Dalam sanadnya ada nama Ulwan bin Dawud yang disebut munkar periwatannya oleh para ulama [lih. Al-Mizan: 5/135, dan al-Lisan: 4/218]. Namun jika kalian bisa menerima kisah pembakaran yang dilakukan oleh Abu Bakar sebagai dalil sekalipun dha’if, lantas kenapa kalian tidak bisa menerima kisah penyesalan beliau…? Apakah dha’if yang itu boleh menjadi dalil, sementara yang ini tidak boleh…? Kaifa tahkumuun…??”

Adapun kita, dengan tegas mengatakan sejak dini; bahwa kisah pembakaran tersebut lemah, tidak bisa dijadikan dalil. Titik, selesai perkara.

Sementara kisah pembakaran yang dilakukan oleh Khalid bin al-Walid radhiallahu’anhu, juga terbantahkan dengan terbantahkannya kisah pembakaran di atas. Karena kisahnya satu paket. Khalid bin al-Walid ketika itu berada dibawah pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu’anhu. Kalaupun Khalid benar melakukannya, maka Khalid telah menyelisihi Khalifah.

Bagaimana dengan Kisah ‘Ali radhiallahu’anhu…?

Kisah pembakaran kaum zindiq yang dilakukan oleh ‘Ali radhiallahu’anhu lebih masyhur lagi. Ibnu Hajar rahimahullah meng-hasankannya dalam Fathul Bari (12/270). Namun tindakan Ali radhiallahu’anhu ini diingkari oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma. Ikrimah meriwayatkan:

أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ، فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ، فَقَالَ: لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ، لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ» وَلَقَتَلْتُهُمْ، لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ»

“Dihadapkan kepada Ali radhiallahu’anhu sekumpulan orang-orang zindiq (sesat). Lantas beliau pun membakar mereka. Kabar pembakaran tersebut sampai kepada Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, maka beliau berkata: ‘Adapun aku, maka aku tidak akan membakar mereka, dikarenakan larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; ‘Janganlah kalian mengadzab dengan adzab Allah’. Aku—lanjut Ibnu Abbas—hanya akan membunuh mereka (dengan cara biasa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” [Shahih al-Bukhari: 6922, dan 3017]

Kemudian apa yang diucapkan oleh Ibnu ‘Abbas tersebut, disampaikan kepada ‘Ali radhiallahu’anhuma, beliau pun berkata: “Benar, apa yang telah dikatakan Ibnu ‘Abbas.” Tambahan ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (1/275), kemudian beliau berkata: “Hadits ini hasan shahih.” [lih. Silsilah ash-Shahihah no. 487, al-Albani]

Dengan demikian terjawablah pendalilan menggunakan kisah ‘Ali radhiallahu’anhu. Beliau sendiri membenarkan pemahaman Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma tentang larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas. Ini sekaligus menguatkan pendapat bahwa larangan di sini bermakna pengharaman, bukan bermakna ketawadhuan sebagaimana yang dikatakan oleh al-Muhallab rahimahullah.

***

Bersambung Insya Allah >>

Akhukum fillaah…

Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

fb.com/jo.saputra.halim

Blog: https://kristaliman.wordpress.com
Page: http://fb.com/kristaliman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: