Tinggalkan komentar

BANTAHAN ATAS PENDALILAN ISIS YANG MEMBAKAR TAWANAN HIDUP-HIDUP (Bag. 5 – Habis)

Mereka (ISIS) Mengatakan:

Sebagian Ahlul Ilmi berpendapat bahwa membakar dengan api hukum asalnya adalah Haram, akan tetapi boleh kalau untuk melakukan pembalasan yang setimpal. Sebagaimana perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wasallam kepada kaum Uraniyyin di mana beliau mencongkel mata mereka dengan api -sebagai bentuk balasan yang setimpal- sebagaimana diriwayatkan dalam ash shahih. Dan ini adalah perkataan yang paling jelas dari pengumpulan dalil dalil yang ada.

Jawaban:

Kini fatwa ISIS beralih ke pendalilan dengan Qishash. Dengan alasan, Pilot Yordan yang mereka bakar hidup-hidup telah lebih dulu membom dan membakar kaum muslimin—tidak terkecuali wanita dan anak-anak—di wilayah kekuasaan ISIS.

Memang benar, kita tidak mengingkari ayat-ayat tentang Qishash (al-Baqarah: 194, an-Nahl: 126) dan juga keabasahan hadits tentang Uraniyyin. Kita juga mengakui ada khilaf fiqhiy dalam masalah Qishash menggunakan api [lih. Al-Haawi al-Kabiir: 12/139-140, al-Imam al-Maawardy].

Namun pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan tidak bolehnya Qishash menggunakan api.

Melegitimasi perbuatan membakar manusia hidup-hidup dengan bersandarkan hadits Uraniyyin—sebagaimana yang menjadi sandaran fatwa ISIS—tidaklah tepat, ditinjau dari beberapa sisi berikut ini:

Sisi-1:

Apa yang dilakukan Nabi bukanlah tahriiq (membunuh dengan api). Nabi hanya melakukan “سمل” mencongkel mata si pelaku dengan besi panas karena dia telah melakukan hal yang sama kepada seorang muslim. Demikian yang diungkapkan oleh asy-Syaikh DR. Muhammad Hasan Abdul Ghaffar ketika membantah pendalilan pendapat bolehnya Qishash dengan membakar. [lih. https://www.youtube.com/watch?v=_zuhGXq7ewE]. Terbukti, si pelaku tersebut tewas di tempat pembuangan (sebagaimana dalam hadits Anas radhiallahu’anhu). Dalam artian, dia tidak tewas karena terbakar.

Kesimpulannya, Nabi tidak pernah membakar orang hidup-hidup. Nah, manakala terjadi khilaf apakah membakar dibolehkan dalam masalah Qishash atau tidak, maka sudah seharusnya kita kembali kepada sabda Nabi yang muhkam, jelas dan terang benderang yang melarang mengadzab dengan api. Ini tentu lebih selamat.

Sisi-2:

Mengadzab dengan api diharamkan secara dzatnya berdasarkan hadits Abu Hurairah dan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhuma. Dan ulama tidak membolehkan Qishash dengan sesuatu yang terlarang secara dzatnya di mata syara’.

Sebagai contoh pendekatan, asy-Syaikh DR. Muhammad Hasan Abdul Ghaffar menyebutkan sebuah analog kasus: “Jika si A membunuh si B dengan cara memaksa si B menenggak miras/khamr sampai tewas, apakah si A harus di-Qishash dengan cara yang sama…??” Jawabnya: “Tentu tidak, karena ada larangan khusus perihal khamr. Nah, demikian pula membakar dengan api, ada larangannya secara khusus.”

Kendati demikian, saya mengakui sebagian ulama tidak menerima analogi seperti di atas. Karena mereka menganggap hadits larangan membakar (dari Abu Hurairah) tidak bermakna pengharaman. Namun anggapan tersebut sudah terbantahkan. Lagi pula jika ditilik dari sisi ‘illah (sebab) larangan, semakin menguatkan argumentasi bahwa larangan membakar adalah larangan pada dzatnya. ‘Illah tersebut menyebutkan:

التعذيب بالنار من اختصاصاته ولأن في ذلك تجويز التشبه بالله تعالى في أفعاله. فيُنهَى عنه.

“Mengadzab dengan api termasuk kekhususan bagi Allah. Di situ ada unsur pembolehan tasyabbuh (menyerupakan diri) dengan sebagian perbuatan Allah. Maka, ia pun terlarang.”

Dengan demikian, maka analogi atau qiyas di atas bisa diterima.

Sisi-3:

Ayat dan hadits tentang Qishash, semuanya mengandung ihtimal (kemungkinan-kemungkinan lain) dan bersifat umum, sementara dalil larangan mengadzab dengan api bersifat muhkam dan khusus (tidak bisa dikecualikan dengan ayat Qishash yang bersifat lebih umum). Kesimpulannya, hadits larangan mengadzab dengan api adalah nash pen-takhshiish yang mengecualikan keumuman ayat tentang Qishash (membalas dengan semisal dan setimpal). Imamnya para Taabi’iin, Mak-huul rahimahullaah mengatakan:

القرآن أحوج إلى السنة من السنة إلى القرآن

“al-Qur’an lebih butuh kepada as-Sunnah, jika dibanding kebutuhan as-Sunnah kepada al-Qur’an (karena as-Sunnah adalah penafsir dan penjelas apa yang masih umum dan samar dari ayat-ayat al-Qur’an-pen)”. [al-Kifaayah fii ‘Ilmil Riwaayah: 30, al-Khathiib al-Baghdaadi]

Sisi-4:

Kita tidak bisa menutup mata dari pendapat-pendapat ulama yang menyatakan bahwa hukum mengadzab dengan api yang dipetik dari kisah Uraniyyin telah terhapus (mansuukh) dengan nash larangan yang datang setelahnya (yaitu hadits Abu Hurairah). Dan Ibnu Hajar rahimahullaah mendatangkan bukti sejarah akan hal ini. Beliau rahimahullah mengatakan:

يَدُلُّ عَلَيْهِ مَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الْجِهَادِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي النَّهْيِ عَنِ التَّعْذِيبِ بِالنَّارِ بَعْدَ الْإِذْنِ فِيهِ وَقِصَّةُ الْعُرَنِيِّينَ قَبْلَ إِسْلَامِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ حَضَرَ الْإِذْن ثمَّ النَّهْي وروى قَتَادَة عَن بن سِيرِينَ أَنَّ قِصَّتَهُمْ كَانَتْ قَبْلَ أَنْ تَنْزِلَ الْحُدُودُ وَلِمُوسَى بْنِ عُقْبَةَ فِي الْمَغَازِي وَذَكَرُوا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْمُثْلَةِ بِالْآيَةِ الَّتِي فِي سُورَةِ الْمَائِدَةِ وَإِلَى هَذَا مَالَ الْبُخَارِيُّ

“Yang menunjukkan bahwa itu sudah mansuukh adalah riwayat al-Bukhari dalam (bab) “al-jihad” dari hadits Abu Hurairah perihal larangan mengadzab dengan api setelah sebelumnya beliau (Nabi) mengizinkannya. Sementara kisah Uraniyyin, terjadi sebelum Abu Hurairah masuk Islam. Di mana dalam hadits (Abu Hurairah) tersebut pada mulanya ada izin untuk membakar namun kemudian dilarang. Qotadah meriwayatkan dari Ibnu Sirin bahwa kisah Uraniyyin terjadi sebelum turunnya ayat tentang hudud. Demikian juga Musa bin ‘Uqbah dalam “al-Maghozi”, mereka menyebutkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mutslah (mencincang musuh) dengan ayat yang ada dalam Surat al-Ma-idah, dan al-Bukhari condong pada pendapat ini.” [Fahtul Baari: 1/341]

Ini menunjukkan bahwa larangan membakar dengan api muncul belakangan, setelah kejadian Uraniyyin. Tentu saja ini menguatkan pendapat yang menyatakan mansuukh.

Sisi-5:

Pendapat mansuukh memang termasuk metode tarjiih. Namun ulama yang menempuh metode ini bukan berarti jahil dengan kaidah: “metode kompromi antar nash (jama’), lebih didahulukan di atas metode tarjiih selama masih memungkinkan”. Justru metode tarjiih mereka ambil, karena mereka mengetahui bahwa mengecualikan larangan dalam hadits Abu Hurairah dan—terlebih lagi Hadits Ibnu Mas’ud—adalah suatu hal yang mustahil untuk ditempuh.

Karena dengan redaksi “Laa yanbaghi an yu’adz-dziba bin naar illaa Robbun naar” dalam Hadits Ibnu Mas’ud, sudah tidak ada celah untuk mengatakan; “kecuali pada kasus Qishash”, karena jika ada pengecualian, tentu Nabi akan mengecualikannya saat itu juga. Sebab kaidah ushul mengatakan:

لا يجوز تأخير البيان عن وقت الحاجة

“Tidak boleh, menunda (atau menyimpan) penjelasan saat penjelasan tersebut dibutuhkan”

Ini semakin menguatkan bahwa hadits larangan membakar, adalah nash yang mengecualikan ayat-ayat tentang Qishash. Artinya, pembalasan atas suatu pembunuhan dilakukan dengan setimpal, semisal dengan semisal, kecuali pembalasan menggunakan api atau cara lain yang terlarang secara dzatnya.

Sisi-6:

Lagi pula, membalas menggunakan api, rentan dengan kezaliman. Dalam artian, kadar pembalasannya susah untuk diukur, rentan melebihi kadar yang seharusnya. Boleh jadi, terbakar hidup-hidup lebih menyakitkan daripada terkena bom, tewas seketika lebih dulu, baru kemudian jasad terbakar oleh api.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

قال: لِأَنَّ الْقَتْلَ بِغَيْرِ السَّيْفِ وَفِي غَيْرِ الْعُنُقِ لَا نَعْلَمُ فِيهِ الْمُمَاثَلَةَ، بَلْ قَدْ يَكُونُ التَّحْرِيقُ وَالتَّغْرِيقُ وَالتَّوْسِيطُ وَنَحْوُ ذَلِكَ أَشَدَّ إيلَامًا

“Ulama (yang berpendapat tidak boleh Qishash dengan api) beralasan: ‘karena Qishash bukan dengan pedang dan selain tebasan di leher, tidak kita ketahui apakah sudah setimpal atau tidak. Bahkan bisa jadi; membakar dengan api, menenggelamkan di air, atau memotong badan menjadi dua, atau yang semisalnya, boleh jadi ini semua lebih menyakitkan…” [Majmuu’ al-Fataawa: 18/168]

Namun—sebagai wujud amanah ilmiah—saya akui Ibnu Taimiyyah rahimahullah pribadi lebih condong pada pendapat bolehnya Qishash dengan selain pedang, asalkan semisal dan setimpal, tidak melebihi kadar penyiksaan dari yang seharusnya. Dan persyaratan tersebut sepertinya tidak terwujud dalam kasus pembakaran Pilot Yordan oleh ISIS.

Sisi-7:

Para ulama membedakan antara tahriiq dengan mutslah. Mutslah punya larangan tersendiri sebagaimana tahriiq ada larangannya secara tersendiri pula. Tahriiq adalah membakar atau mengadzab dengan api. Sementara mutslah—dalam pembahasan fiqih secara umum—adalah memotong-motong anggota tubuh mayat yang sudah terbunuh (bandingkan dengan tindakan ISIS yang membakar hidup-hidup).

Namun anehnya, ISIS—ketika membakar Pilot Yordan—justru berdalih dengan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah tentang mutslah. “Bener-bener ga nyambung”. Tapi baiklah, anggap saja analogi tersebut “nyambung”. Maka ada baiknya kita telaah semua ucapan Ibnu Taimiyyah rahimahullah tentang mutslah yang dinukil oleh ISIS. Di sini saya hanya akan memberikan kesimpulannya saja. Pembaca dipersilahkan merujuk referensi-referensi dari karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah berikut ini;

  • al-Ikhtiyaaroot al-Fiqhiyyah, hal. 610, Cet. Daarul Ma’rifah – Beirut, th. 1397-H/1978
  • al-Fataawa al-Kubro: 5/540, Cet.1, Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah th. 1408-H/1987
  • al-Mustadrok ‘alaa Majmuu’ al-Fataawa: 3/223, Cet.1, th. 1418-H/1997

Dan berikut adalah kesimpulan pendapat Ibnu Taimiyyah rahimahullah dari ketiga referensi tersebut tentang masalah ini:

Ditinjau dari hukum asal, Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengharamkan mutslah. Namun dalam kondisi manakala musuh (orang kafir) lebih dulu melakukan mutslah pada seorang muslim, beliau membolehkan pembalasan dengan mutslah dalam konteks Qishash dan penegakan hukum (had). Kendati demikian, beliau menetapkan beberapa batasan berikut ini:

  • Bersabar dan tidak melakukan mutslah dalam Qishash tetap lebih afdhol. Inilah yang dilakukan oleh Nabi ketika Hamzah radhiallahu’anhu dicincang tubuhnya oleh musyrikin ketika perang Uhud. Beliau shallallahu’alaihi wasallam tidak melakukan pembalasan yang semisal. Artinya, melakukan mutslah dalam Qishash tidaklah wajib menurut Ibnu Taimiyyah rahimahullah.
  • Jika melakukan qishash dengan mutslah bisa mendatangkan maslahat (menimbulkan efek jera dan bisa mengerem musuh), maka lebih afdhol bagi seorang Imam untuk menegakkannya. Sekali lagi, inipun tidak berarti wajib menurut Ibnu Taimiyyah rahimahullah.
  • Jika qishash dengan mutslah tersebut justru mendatangkan dampak negatif atau bertambahnya tekanan bagi jihad dan mujahidin, maka bersabar dan tidak melakukan mutslah pada kondisi seperti ini hukumnya wajib.

Jadi urusan Qishash jika ingin ditegakkan dengan api (selain dengan pedang)—kalaupun kita menerima pendapat yang membolehkan—, maka urusannya dikembalikan kepada Imam yang kemudian menimbang antara maslahat dan mafsadatnya. Jika mafsadatnya lebih besar, maka meninggalkan Qishash menggunakan api dan beralih kepada cara biasa adalah wajib. Ini semua—saya ingatkan kembali—dalam konteks Ibnu Taimiyyah rahimahullah tengah berbicara tentang hukum mutslah kepada orang kafir. Maka bagaimana kiranya dengan seorang muslim..??

Sisi-8:

Anggaplah pendapat yang membolehkan Qishash dengan api merupakan pendapat yang lebih kuat secara fiqih. Namun apakah penerapannya bisa semudah apa yang diterapkan oleh ISIS tanpa mempertimbangkan maslahat dan mafsadat…?? Lihatlah bagaimana eksekusi pembakaran manusia hidup-hidup tersebut dipertontonkan secara vulgar pada dunia layaknya reality show yang wah nan megah…?? Justru semakin menambah kebencian dunia Islam kepada daulah mereka. Tidakkah mereka berpikir akan mafsadat yang bakal timbul di hari kemudian bagi daulah yang mereka rintis dan bagi muka Islam di belahan bumi lain…??

Beberapa hari setelah aksi pembakaran itu, pesawat pembom justru tambah mendatangkan kehancuran yang lebih besar bagi kaum muslimin yang ada di daerah kekuasaan mereka. Tawanan yang ingin mereka bebaskan dari Yordania justru tewas dieksekusi setelah kejadian pembakaran tersebut. Belum lagi muka Islam dan para Salaf yang mereka coreng namanya, yang semakin menjadikan para pembenci Sunnah bersorak kegirangan. Akibat kebengisan mereka dengan mengatasnamakan imam-imam Salaf, dakwah tauhid dan sunnah diberbagai belahan dunia kini semakin mendapat tekanan. Para pembenci dakwah tauhid dan sunnah semakin mendapat angin segar untuk mengaitkan para da’i dan pecinta sunnah dengan terorisme dan radikalisme. Inikah yang disebut dengan faqiih…??

Jadi, praktis tidak ada maslahat yang mereka peroleh sama sekali, baik secara politik maupun siasat perang, selain berhasil menampilkan kebengisan di hadapan dunia, kemudian berharap dengan itu dunia akan takut dan surut untuk membombardir daulah mereka. Namun nyatanya…?? Bertolak belakang seratus delapan puluh derajat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ الْخَيْرَ مِنْ الشَّرِّ وَإِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ خَيْرَ الْخَيْرَيْنِ وَشَرَّ الشَّرَّيْنِ

“Tidaklah seseorang dikatakan berakal (faqiih) jika dia hanya mampu membedakan mana yang maslahat dari yang mafsadat, namun dia baru disebut faqiih manakala ia mampu membedakan yang lebih maslahat di antara dua maslahat dan yang lebih mendatangkan mafsadat di antara dua mafsadat.” [Majmuu’ al-Fataawa: 20/54]

Sisi-9:

Anggaplah secara fiqih, pendapat yang membolehkan Qishash dengan api merupakan pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran. Namun ini runtuh dengan sendirinya, karena ISIS—sebagaimana dikatakan oleh para ulama—merupakan Khawarij abad ini. Sementara Khawarij, diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibasmi. Ini berarti model sistem “syar’i” yang mereka terapkan, pun harus terbasmi.

Ini sudah cukup menjadi dalil, bahwa segenap aksi penegakan had (termasuk Qishash) yang mereka lakukan, tidak sah, karena dibangun di atas ideologi Khawarij yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk diperangi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا، لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika kalian mendapati mereka (Khawarij), maka perangilah mereka. Karena ada pahala di sisi Allah di hari kiamat bagi yang memerangi mereka.” [Shahih Muslim: 2/746]

Saya tahu, ISIS dan simpatisannya akan berteriak keras, tidak terima disamakan dengan Khawarij. Namun kita memiliki bukti-bukti yang kokoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa merekalah Khawarij di era ini. Hanya saja, di sini bukan tempatnya untuk memaparkan semua itu panjang lebar.

Agar lebih ringkas, saya sodorkan 3 alasan sederhana yang menunjukkan bahwa mereka adalah Khawarij di zaman ini, yang tidak diperkenankan oleh Nabi untuk tegak daulah dan kekuatannya:

Pertama: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ينشأ نشء يقرءون القرآن لا يجاوز تراقيهم، كلما خرج قرن قطع حتى يخرج في أعراضهم الدجال

“Akan muncul suatu generasi yang gemar membaca al-Qur’an namun apa yang mereka baca tidak melewati tenggorokan mereka (tidak sampai ke hati, dalam artian mereka tidak memahami dengan benar apa yang mereka baca-pen). Setiap kali generasi ini muncul, mereka akan terbasmi. Sampai nanti Dajjal akan muncul dari pasukan besar mereka.” [Ibnu Majah: 1/74, Silsilah ash-Shahihah no. 2455]

Al-‘Allaamah Al-Muhaddits asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbaad hafizhahullah ketika ditanya apakah Khawarij ada pada hari ini..?? Beliau menjawab bahwa mereka akan senantiasa ada sampai nanti pasukan terakhir mereka akan muncul di era munculnya Dajjal. [lihat https://www.youtube.com/watch?v=8ind4vNj8Gc]

Nah, jika di zaman ini kelompok ISIS bukanlah Khawarij, maka kita tidak tahu lagi kelompok mana yang bisa disebut Khawarij—dengan sifat-sifat mereka yang identik dengan; gampang mengkafirkan, menghalalkan darah muslimin, mayoritas anak-anak muda yang bodoh, dll sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits tentang sifat Khawarij—. Sementara hadits Nabi (riwayat Ibnu Majah) di atas menegaskan bahwa Khawarij akan senantiasa ada di setiap zaman.

Kedua: Sebagaimana tidak ada satu pun Sahabat Rasulullah yang berada di barisan Khawarij di awal-awal kemunculannya di zaman Khalifah ‘Ali radhiallahu’anhu, maka di zaman ini pun, kita tidak mengetahui ada ulama besar Rabbani berada bersama mereka dan mendukung mereka. Ini adalah dalil terbesar bahwa gerakan mereka berada di atas jalan yang menyimpang.

Ketiga: Para tokoh takfiri yang dianggap ikon pergerakan jihad saat ini semisal Abu Muhammad al-Maqdisi hadahullah malah menganggap ISIS sebagai pendusta, tidak mengerti maslahat dan mafsadat [lih. https://www.youtube.com/watch?v=XFh6gMKSGmA]. Ayman az-Zhawahiri (pemimpin al-Qaeda saat ini) menolak kedaulatan ISIS di Syam [https://www.youtube.com/watch?v=pbhVd0NSpV8]. Ketua Dewan Syari’ah Jabhah Nushrah, DR. Sami al-Uraydi, justru dengan tegas menyebut ISIS sebagai Khawarij [lih. https://www.youtube.com/watch?v=aIrnl_Rhsgg]. Jika kita mengambil kriteria fatwa tentang jihad yang sah menurut kaum takfiri semisal ISIS, maka apa yang dikatakan oleh DR. Sami al-Uraydi adalah fatwa dari ahli tsugur yang layak mereka dengar dan seharusnya mereka hiraukan.

Kalimat Penutup

Demikianlah apa yang bisa saya tuliskan dalam jawaban yang jauh dari selayaknya ini. Dan sebelum mengakhiri tulisan ini, saya tegaskan, bahwa tulisan ini bukanlah wujud penolakan terhadap kekhalifan yang haq sebagaimana yang dijanjikan oleh Nabi. Bukan juga penolakan terhadap syari’at jihad. Bukan pula penolakan terhadap usaha penegakan hukum Allah (jika demikian, tentu saya telah mensejajarkan diri dalam barisan orang-orang yang telah murtad dari agama-Nya yang haq. A’udzubillaah…!!)

Tulisan ini juga bukan untuk memberi angin segar kepada mereka yang ingin mendiskreditkan hukum Allah dengan mendompleng kampanye penolakan terhadap ideologi ISIS. Bukan pula saham bagi mereka yang membenci dakwah kepada tauhid dan sunnah.

Tulisan ini, tidak lebih dari sekedar nasehat kepada saudara-saudara kami simpatisan ISIS, yang terfitnah dengan harapan semu di lembah fatamorgana bernama ISIS. Tulisan ini, semata-mata demi membersihkan lumpur hitam yang dituangkan oleh musuh-musuh Islam di pakaian agama-Nya yang suci lagi penuh rahmat. Tulisan ini adalah harapan. Ya, secercah harapan akan terbitnya kekhalifahan yang sesungguhnya, yang lahir dari dakwah tauhid dan sunnah, dari rahim Islam yang mengajarkan rahmat, kelembutan dan kasih sayang, berdasarkan ilmu, keyakinan, perjuangan dan kesabaran.

Tak ada yang bisa kuusahakan melalui tulisan ini selain mewujudkan perbaikan semampuku. Maka atas segenap huruf yang merangkai khilafku di dalamnya, aku beristighfar pada-Nya Ilahi Robbi, aku berlepas diri dari kekhilafan itu, dan bersyukur atas mereka yang menasehatiku akannya.

***

Selesai ditulis, 04 Jumadal Ula 1436 | 23022015

Akhukum fillah

Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

fb.com/jo.saputra.halim

Blog: https://kristaliman.wordpress.com
Page: http://fb.com/kristaliman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: