Tinggalkan komentar

Membantah Takfiri #01: Benarkah Berhukum dengan Selain Hukum Allah Termasuk Kufur Akbar Secara Jenis..?? (Faidah dari Syaikh Masyhur Hasan Salman)

Ciri khas Khawarij sejak dulu–hingga hari ini (sebagaimana yang dipertontonkan ISIS)–adalah mereka begitu gampang memvonis “kafir” para penguasa muslim dan aparaturnya yang tidak berhukum dengan hukum Allah, dan itu mereka lakukan tanpa perincian.

Padahal Allah merinci hal tersebut. Demikian juga para ulama telah menjelaskan bahwa berhukum dengan selain hukum Allah adalah jenis kemaksiatan besar yang pelakunya bisa menjadi, kafir, fasiq, atau zalim. Tergantung keadaan orang yang berhukum tersebut.

Dari perspektif jinsul ‘amal (jenis amal), berhukum dengan selain hukum Allah dikategorikan oleh Turjumanul Qur’an, Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma sebagai “kufrun duuna kufrin”, alias kufur kecil yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam (murtad).

Artinya, berhukum dengan selain hukum Allah secara “jenis” sama dengan kemaksiatan lainnya. Ambil contoh: zina. Seseorang tidak serta merta menjadi murtad gara-gara berzina, kecuali jika si pelaku telah menganggapnya halal, atau ia lakukan sebagai wujud protes, bentuk penentangan dan kebencian pada syari’at, dll yang semisal. Maka pada keadaan tersebut, si pelaku bisa kafir.

Nah, demikian pula halnya dengan jenis maksiat yang bernama “berhukum dengan selain hukum Allah”. Jika si pelaku melakukannya karena menganggap itu sebuah kehalalan, atau berpendapat hukum buatan manusia setara atau lebih baik daripada hukum Allah, atau menganggap hukum Allah telah usang dan tidak cocok dengan tuntunan zaman, maka pada kondisi seperti ini, barulah si pelaku bisa kafir.

Kesimpulan dari dua buah hadits yang akan anda baca sejenak lagi, adalah faidah berharga dari seorang ‘aalim. Menjadi bukti sekaligus argumentasi kokoh yang menunjukkan bahwa “berhukum dengan selain hukum Allah” bukanlah jenis maksiat yang bertaraf kufur akbar sehingga bisa mengeluarkan pelakunya dari agama semata-mata karena perbuatan si pelaku.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dari Sa’ad radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam suatu ketika memasuki masjid Bani Mu’awiyah lalu shalat dua raka’at. Para sahabat pun ikut melakukan shalat. Di situ Nabi berdo’a kepada Allah dengan do’a yang panjang. Kemudian beliau mendatangi para sahabatnya lantas bersabda:

سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ, وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً. سَأَلْتُ رَبِّي أَلَّا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا, وَسَأَلْتُهُ أَلَّا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرَقِ, فَأَعْطَانِيهَا, وَسَأَلْتُهُ أَلَّا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ, فَمَنَعَنِيهَا

“Aku meminta pada Rabbku tiga hal, Allah mengabulkan hanya dua saja di antaranya. (Yang pertama) aku meminta Rabbku agar ummatku tidak dibinasakan dengan kemarau-paceklik, Allah mengabulkannya. (Yang kedua) aku meminta kepada-Nya agar ummatku tidak dibinasakan dengan ditenggelamkan, Allah pun mengabulkannya. (Yang ketiga) aku meminta kepada-Nya agar tidak menjadikan ummatku saling bertikai dan membinasakan satu sama lain, namun Allah tidak mengabulkannya.” [Shahih Muslim: 2890]

Dari hadits yang mulia tersebut, garisbawahilah kata-kata “ummatku”…!! Karena sejenak lagi kita akan mendapatkan kesimpulan yang menakjubkan setelah merenungkan korelasi hadits tersebut dengan hadits berikut ini.

يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن ،وأعوذ بالله أن تدركوهن ، الحديث وفي آخره :
وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيروا مما أنزل الله إلا جعل الله بأسهم بينهم

“Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara jika kalian diuji dengannya, dan aku berlindung pada Allah kalian akan mendapatinya….. (di akhir hadits beliau menyebutkan)… dan tidaklah para pemimpin mereka tidak berhukum dengan Kitabullah dan mereka memilah-milih hukum yang Allah turunkan, melainkan Allah akan menjadikan pertikaian di antara mereka dan saling membinasakan satu sama lain.” [Hadits hasan riwayat Ibnu Majah: 4019, lihat ash-Shahihah: 106, al-Albani]

Renungkanlah bagaimana pada hadits yang pertama, Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebut orang-orang yang bertikai dan saling membinasakan itu sebagai “ummatku”. Ini menunjukkan bahwa mereka masih muslim. Lalu pada hadits yang ke-dua, orang-orang yang saling bertikai dan membinasakan tersebut disifatkan bahwa para pemimpin tidak berhukum dengan Kitabullah serta memilah-milih hukum yang Allah turunkan.

Ulama mengkorelasikan antara kedua hadits tersebut. Sehingga lahirlah kesimpulan fiqih bahwa “berhukum dengan selain hukum Allah” jika ditinjau dari jenis kemaksiatan, bukanlah jenis kemaksiatan bertaraf kufur akbar.

Faidah berharga dari benang merah antara kedua hadits tersebut, saya dapatkan dari penjelasan al-‘Allaamah al-Faqiih Masyhuur Hasan Salman hafizhahullah (salah seorang murid senior al-Imam al-Albani rahimahullah). Beliau sampaikan hal tersebut dalam sesi tanya jawab kajian Syarah Shahih Muslim. Bagi yang ingin mendengarkannya, silahkan download dan file audio ini:

http://www.mediafire.com/?v7egn5jhs90xdhn

Versi teksnya bisa dibaca di sini:
http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=31113

Semoga artikel ini bermanfaat.

***

Lombok, 01042015
Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)
-semoga Allah memaafkannya-

Artikel:
kristaliman.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: