Tinggalkan komentar

Jihad Ala Takfiri Vs. Seruan al-Qur’an

Kaum Takfiriyyün yang gemar mengkafirkan pemerintah-pemerintah muslim tanpa bukti yang kokoh meyakinkan dan jauh dari kesamaran, sering kali menjadikan sikap-sikap sebagian pemerintah muslim yang melakukan kerjasama dengan negara-negara kafir sebagai dalih untuk mengkafirkan atau menghalalkan pemberontakan terhadap mereka.

Ada anggapan keliru—lebih tepatnya “syuhbat”—yang mendasari sikap aneh kaum takfiriyyün ini. Di mata mereka, masalah Islam dan tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia saat ini hanya bisa diselesaikan dengan jihad dalam arti peperangan. Saat ini adalah masa-masa perang karena itulah satu-satunya solusi menurut mereka. Sehingga pemerintah muslim yang bermuamalah dengan orang-orang kafir di saat-saat perang seperti ini, adalah pemerintah kafir. Karena bagi mereka, itu sama saja dengan ber-wala’ kepada orang-orang kafir dalam rangka memerangi kaum muslimin, dan itu termasuk kufur akbar (tawalli) yang menyebabkan kemurtadan. Jika telah murtad, maka halal darahnya. Demikianlah kesimpulan sederhana seperempat matang dari mereka[1].

Kita kembali pada pokok bahasan syubhat takfiry yang menganggap tiada hari di saat-saat seperti sekarang ini kecuali hari untuk berperang. Dalam kamus jihad mereka, tidak akan ditemukan istilah “masa reses” dari peperangan. Bom-bom bunuh diri dan serangan demi serangan yang mereka lakukan secara sporadis, adalah indikasi kuat bahwa di benak mereka saat ini, hanya ada perang yang mereka sebut—secara zalim—sebagai jihad. Padahal Islam—dalam kondisi tertentu— mendorong terwujudnya perdamaian alias tidak melulu berperang, agar mesin-mesin dakwah para ulama bisa bekerja dengan baik untuk kemudian semakin mengokohkan bangunan Islam dan meninggikan kalimat Alläh dengan berbondong-bondongnya manusia masuk ke dalamnya secara kaffah.

Hal tersebut ditegaskan dalam firman Alläh ta’äla:

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. al-Anfäl: 61]

Tafsiran Ulama

Para ulama menafsirkan:

وإن مالوا إلى ترك الحرب ورغبوا في مسالمتكم فمِلْ إلى ذلك -أيها النبي- وفَوِّضْ أمرك إلى الله، وثق به. إنه هو السميع لأقوالهم، العليم بنيَّاتهم.

“Andai mereka (orang-orang kafir itu) condong untuk menghentikan peperangan, dan berharap untuk melakukan perdamaian dengan kalian, maka ikutlah engkau untuk condong wahai Nabi..! dalam mewujudkan perdamaian tersebut. Dan serahkanlah urusanmu pada Allah, yakinlah pada-Nya. Sungguh Dia Maha Mendengar ucapan-ucapan mereka, Maha Mengetahui niat dan maksud mereka.” [at-Tasïr al-Muyassar: 184]

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Si’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

أجبهم إلى ما طلبوا متوكلا على ربك، فإن في ذلك فوائد كثيرة.

منها: أن طلب العافية مطلوب كل وقت، فإذا كانوا هم المبتدئين في ذلك، كان أولى لإجابتهم.

ومنها: أن في ذلك إجماما لقواكم، واستعدادا منكم لقتالهم في وقت آخر، إن احتيج لذلك.

ومنها: أنكم إذا أصلحتم وأمن بعضكم بعضا، وتمكن كل من معرفة ما عليه الآخر، فإن الإسلام يعلو ولا يعلى عليه، فكل من له عقل وبصيرة إذا كان معه إنصاف فلا بد أن يؤثره على غيره من الأديان، لحسنه في أوامره ونواهيه، وحسنه في معاملته للخلق والعدل فيهم، وأنه لا جور فيه ولا ظلم بوجه، فحينئذ يكثر الراغبون فيه والمتبعون له،.فصار هذا السلم عونا للمسلمين على الكافرين،.ولا يخاف من السلم إلا خصلة واحدة، وهي أن يكون الكفار. قصدهم بذلك خدع المسلمين، وانتهاز الفرصة فيهم،.فأخبرهم الله أنه حسبهم وكافيهم خداعهم، وأن ذلك يعود عليهم ضرره

“Sambutlah ajakan mereka (untuk berdamai) dengan bertawakkal pada Rabbmu. Karena di situ ada banyak manfaat, di antaranya: (terwujudnya keselamatan) karena mengusahakan terwujudnya keselamatan merupakan perkara yang dituntut terwujud setiap saat. Manakala mereka lebih dulu mengajak untuk berdamai, maka lebih utama lagi (bagi kita) untuk menyambutnya.

Di antara manfaatnya juga; ajakan damai tersebut memberikan waktu rehat untuk menguatkan kalian, memberikan kalian persiapan untuk memerangi mereka di lain waktu, jika itu dibutuhkan.

Manfaat yang lain; bahwa jika kalian saling damai dan saling menjaga keamanan satu sama lain, dan memungkinkan bagi masing-masing untuk saling mengenal, maka Islam itu tinggi dan tidak ada yang melampaui martabatnya (sehingga menyambut perdamaian tersebut bukanlah suatu kehinaan, hal tersebut justru bisa menguntungkan Islam, dengan adanya pengaruh—berupa dakwah—kepada orang kafir-pent). Karena setiap orang yang memiliki kecerdasan dan pandangan yang adil lagi objektif, niscaya akan terpengaruh oleh agama lain (baca: Islam) dikarenakan kebaikan ajaran berupa perintah dan larangan yang ada dalam agama tersebut, juga disebabkan kebaikan agama tersebut dalam mengajarkan keadilan dan interaksi (yang baik) pada sesama makhluk, serta tidak adanya pada agama tersebut kesewenang-wenangan dan ketidakadilan sedikit pun. Akibatnya—pada saat tersebut—akan ada banyak yang tertarik, merasa empati, dan mengikuti ajaran Islam. Sehingga dengan demikian, justru perjanjian damai tersebut menjadi sebab pertolongan bagi kaum muslimin atas orang-orang kafir.

Tidak ada yang perlu dikuatirkan dengan ikatan perjanjian damai (dengan orang-orang kafir) kecuali satu hal, yaitu manakala mereka berniat menipu kaum muslimin dengan perjanjian damai tersebut, untuk menuai keuntungan darinya. Kalaupun demikian halnya, maka Alläh mengabarkan kepada mereka kaum muslimin bahwa Dia telah menjamin mereka dari tipu daya orang-orang kafir, dan bahwasanya tipu daya tersebut justru akan kembali menimpa mereka.” [Tafsïr as-Sa’di: 325]

Alhasil,

dalam kondisi tertentu—terlebih lagi di saat-saat kaum muslimin berada dalam titik nadir kelemahan di semua lini seperti sekarang ini—, menyambut ajakan damai, mengiyakan tawaran genjatan senjata, melakukan perundingan, atau menahan diri dari peperangan, adalah suatu hal yang didorong oleh syariat (berdasarkan ayat di atas). Sikap-sikap kaum ekstrimis yang menjadikan api peperangan senantiasa bergolak tanpa menimbang maslahat dan mafsadat, justru menunjukkan kedunguan mereka terhadap fiqih realita serta prioritas dalam perjuangan menolong agama Alläh.

Dari sudut pandang inilah, kita memaknai ungkapan al-Imam al-Albani rahimahulläh yang mengatakan:

اليوم لا جهاد في الأرض الإسلامية إطلاقا

“Pada saat ini, tidak ada jihad (yang syar’i) di bumi Islam secara mutlak…”

Maksud beliau bukan ingin meniadakan jihad mengangkat senjata. Bukan sama sekali. Maksud beliau, jika diserukan jihad saat seperti ini, maka yang ada justru mudarat bagi kaum muslimin, dan itu tentu bertentangan dengan tujuan syara’. Di mata beliau rahimahulläh, saat ini jihad yang harus kita tempuh adalah jihad dengan dakwah dan ilmu. Belum saatnya dengan mengangkat senjata (kecuali dalam rangka membela diri). Jihad dakwah dan ilmu tersebut, tidak lain demi menyiapkan keimanan kaum muslimin untuk menyongsong jihad yang syar’i.

Pada kesempatan lain, beliau rahimahulläh pernah berdialog dengan seorang penanya dari Aljazair via saluran telepon [Silsilah Huda wan Nür: 565, menit ke-7]:

السائل: إذا أُعلن الجهاد في الجزائر، هل يجب الجهاد كما هو الحال في أفغانستان؟

الشيخ: من الذي سيعلن الجهاد في الجزائر، القوي أم الضعيف؟!!

السائل: الضعيف.

الشيخ: إيه، و الضعيف يستطيع أن يجاهد؟!!

السائل: لا يستطيع.

الشيخ: سامحكم الله.السائل: اللهم آمين.

………

الشيخ: لماذا لم يقم الجهاد في مكة المكرمة في عهد النبوة والرسالة؟!

السائل: صحيح، هذا ما عندنا يا شيخ..

Penanya: “Jika diproklamirkan jihad di Aljazair, apakah jihad itu menjadi wajib sebagaimana di Afganistan?”

Asy-Syaikh: “Siapa yang akan memproklamirkan jihad di Aljazair? Yang memiliki kekuatan atau justru kelompok yang lemah?”

Penanya: “Kelompok yang lemah”.

Asy-Syaikh: “Kelompok yang lemah apakah mampu menegakkan jihad?”

Penanya: “Tidak mampu”

Asy-Syaikh: “(Kalau begitu—pent) semoga Alläh memberi udzur kepada kalian (untuk tidak mengangkat senjata—pent)”.

……

Asy-Syaikh: “Apa alasan jihad tidak ditegakkan di (periode) Makkah saat masa nubuwwah?” (alasannya; karena kaum muslimin ketika itu dalam keadaan lemah—pent)

Penanya: “Betul, inilah kondisi yang ada pada kami wahai Syaikh” (transkrip ini dinukil dari http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=33938)

Demikianlah. Semoga orang-orang berakal bisa mengambil pelajaran.

***

Lombok, 11 Ramadhan 1436 – 28062015
Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

 

Catatan Kaki:

[1] Maka tidak heran jika para ulama memvonis ISIS sebagai Khawarij sekalipun ISIS mengaku beda dengan Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar.

Perlu dicatat! Bahwa ciri khas Khawarij tidak sebatas pada akidah bathil mereka yang meyakini murtadnya pelaku dosa besar. Setiap kelompok yang gampang mengkafirkan orang-orang di luar kelompok mereka (khususnya penguasa) tanpa memperhatikan syurüth dan mawäni’ takfïr, lalu menindaklanjuti takfïr tersebut dengan aksi-aksi berdarah berupa pemberontakan dan pembunuhan tanpa menimbang maslahat dan mafsadat, juga digolongkan sebagai Khawarij oleh para ulama, sekalipun mereka tidak meyakini murtadnya pelaku dosa besar.

Dulu, ada sekte Khawarij pengikut Najdah bin ‘Amir al-Hanafi bernama an-Najdät yang tidak berpandangan kafirnya pelaku dosa besar seperti kebanyakan Khawarij lainnya. Namun para ulama tetap menggolongkan mereka sebagai Khawarij dikarenakan mereka mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham dan sejalan dengan mereka. [lih. At-Takfïr wa Dhowäbithuh Cet.-2, hal. 174, Prof. DR. Ibrahim ar-Ruhaili, baca: https://kristaliman.wordpress.com/2015/05/13/waspada-bahaya-isis-syiah/]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: