Tinggalkan komentar

Menakar Analogi “Makam Nabi di Masjid Nabawi”

Lebih dari 60 tahun yg lalu, al-Imam al-Albani rahimahullah telah menulis kitab pertama beliau yang berjudul “Tahdziiru as-Saajid”. Dalam kitab tersebut, beliau memaparkan dalil-dalil dan pendapat Imam Madzhab yang Empat perihal tidak bolehnya sholat di Masjid yang ada kuburannya. Lantas bagaimana dengan Masjid Nabawi dengan makam Nabi yang kini ada di dalamnya…?? Akankah kita mengatakan bahwa sholat di Masjid Nabawi tidak dibolehkan…?? Masih dalam kitab yang sama, al-Imam al-Albani rahimahullah membahas permasalahan ini. Di situ beliau menegaskan bahwa Masjid Nabawi adalah masjid yang berbeda dari keumuman, sehingga ia pun memiliki pengecualian dari keumuman hukum yang berlaku. Dalam artian, sholat di Masjid Nabawi tetap boleh kendati di dalamnya ada makam Nabi kita yang mulia. Mengapa ada pengecualian…?? Karena memang Masjid Nabawi berbeda dengan keumuman masjid lainnya, jika ditilik dari tiga sisi berikut ini: .: Jika masjid lain punya dua kemungkinan terkait kuburan yang ada, maka tidak demikian halnya dengan Masjid Nabawi. Pada keumuman masjid lain, boleh jadi kuburan lebih dulu ada sebelum masjid, atau sebaliknya. Namun keadaan seperti ini, tidak terjadi pada Masjid Nabawi. Karena pada mulanya, Masjid Nabi dengan makam beliau, adalah dua lokasi yang terpisah. Hanya saja belakangan, makam Nabi terpaksa masuk ke dalam masjid karena daruratnya perluasan masjid. .: Dari sisi keutamaan, Masjid Nabawi memiliki kekhususan tersendiri berdasarkan nash yang sharih. Satu raka’at di Masjid Nabawi setara dengan 1.000 raka’at di Masjid yang lain selain Masjidil Haram di Makkah. .: Kemudian dari sisi siapa yang dikuburkan, makam seorang Nabi–terlebih itu Rasulullah–, jelas tidak sama dengan kuburan manusia lainnya. Dari tiga sisi perbedaan di atas, bisa disimpulkan bahwa Masjid Nabawi memiliki kekhususan dari sisi hukum. Sehingga tidak bisa dianalogikan (di-qiyas) ke masjid lain yang ada kuburannya. Alhasil, sholat di Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat makam Rasulullah tetap dibolehkan, namun tidak demikian pada masjid lain yang di dalamnya terdapat kubur. Demikian kesimpulan dari apa yang dipaparkan oleh al-‘Allaamah Ali Hasan al-Halabi hafizhahullah. Wallahua’lam *** Ma’had Abu Hurairah, Lombok-NTB 08 Syawwal 1436 –  24072015 Abu Ziyan Johan Saputra Halim Artikel: kristaliman.wordpress.com Page: fb.com/kristaliman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: