Tinggalkan komentar

Di Balik Teror Paris

Menanggapi opini miring yang mengait-ngaitkan Islam atas teror ledakan dan pembunuhan yang terjadi di Paris, 14-Nov-2015 lalu, seorang ulama besar membuka pidatonya:

“Wahai para pengikut Muhammad shallallahu alaihi wasallam…!! Sesungguhnya (ajaran) Islam, seluruhnya adalah keadilan, setia di atas janji. Segala doktrin yang mengubah keadilan menjadi kezaliman dan kesetiaan menjadi pengkhianatan (sekalipun terhadap orang-orang kafir), maka sedikitpun itu bukan bagian dari Islam. Itu adalah kemungkaran besar dan wajib diingkari. Seperti apa yang terjadi di Paris (beberapa hari yang lalu) berupa teror peledakan.”

Demikian Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily, guru besar University of Islam – Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi, membuka pidatonya.

Apa yang beliau ucapkan tidaklah berlebihan. Betapa tidak, wajah Islam seakan dilumuri lumpur hitam gara-gara kejadian tersebut. Gara-gara sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab, mengaitkannya dengan ajaran Islam yang mereka gambarkan sarat akan doktrin barbarian. Belum lagi kaum muslimin di Eropa yang semakin terpojokkan dengan kejadian tersebut, di saat mereka belum juga lepas dari tekanan diskriminasi, intimidasi, dan perlakuan yang buruk. Tentu saja keadaan mereka akan semakin terjepit. Padahal saat ini benua biru tengah menggeliat untuk bangkit dan kembali mengenal Islam. Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily memaparkan betapa kejadian di Paris tersebut begitu buruk dampaknya bagi Islam dan kaum muslimin di sana, juga bagi citra Islam di mata dunia.

Tidak hanya sekali Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily dalam pidatonya menekankan wajibnya mengingkari kejadian di Paris tersebut. Bahwa itu adalah kezaliman yang sangat nista, kendati menimpa orang-orang kafir. Karena Islam mengajarkan keadilan, menolak kezaliman, baik terhadap mereka yang kita cintai dan kita benci sekalipun. Syaikh juga membacakan ayat al-Qur’an:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ

“…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah…” [QS. al-Maidah: 8]

Manakala seseorang masuk ke negeri tersebut dengan paspor, maka dalam perspektif Islam itu sudah cukup menjadi ikatan perjanjian untuk menjaga keamanan di negeri tersebut, sekalipun ia adalah negeri kafir. Kesetiaan dan komitmen atas perjanjian adalah harga mutlak di mata Islam. Maka haram hukumnya melakukan pengkhianatan di negeri tersebut, dengan membunuh warganya, dengan menebar teror di sana. Atas alasan apapun, aksi-aksi semacam itu tidak bisa dikait-kaitkan apalagi dianggap sebagai jihad dalam konsep Islam.

Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily lanjut memaparkan; bahwa dalam etika jihad Islam berdasarkan tuntunan Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam; membunuh wanita, anak-anak, atau mereka para lansia yang lemah tak berdaya, adalah keharaman yang nyata jika terjadi di medan perang sekalipun. Maka bagaimana lagi jika pembunuhan tersebut dilakukan bukan di medan perang..?? Tidak diragukan lagi betapa besar keharamannya.

Apa yang terjadi di Paris—jikapun benar didalangi sekelompok muslim—tidak diragukan lagi merupakan bentuk khianat (ghadr) yang nyata. Islam berlepas diri dari aksi konyol dan tidak kesatria tersebut. Adapun jika dalang utamanya adalah mereka yang dengki terhadap Islam, Syi’ah Rafidhah dan sekutu-sekutunya dari kalangan kuffar yang kemudian menunggangi radikalis-radikalis Khawarij ISIS—dan tampaknya memang demikian—, maka sungguh:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

 “…mereka telah membuat makar dan tipu daya. Allah akan membalas tipu daya mereka, dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” [QS. Ali Imran: 54]

***

Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily juga mengkritik keras anggapan bahwa apa yang terjadi di Paris kemarin; adalah balasan setimpal atas pembunuhan muslimin di Suria oleh aliansi kafir, ada yang mengatakan “biarkan saja mereka (aliansi kafir vs ISIS) saling bunuh, keduanya sama-sama zalim”. Anggapan seperti ini harus diluruskan. Pembunuhan atas mereka yang tidak berhak dibunuh, tidak layak disebut pembalasan yang setimpal di mata Islam. Bahwa apa yang menimpa muslimin Suriah adalah wujud kezaliman terbesar, tidak ada seorangpun pemilik akal sehat yang menolaknya, apalagi orang-orang berilmu. Namun apa yang terjadi di Paris juga tidak bisa dibenarkan. Sekali lagi jika memang benar dalangnya adalah ISIS yang mengatasnamakan Islam tanpa rasa malu sedikitpun.

Di mana ada Khawarij, di situ ada Syi’ah sebagai antitesisnya. Demikian pula sebaliknya, saat taring-taring Syi’ah mulai mencengkram, di situlah Khawarij mengambil kesempatan dalam debu-debu fitnah yang tengah bergejolak. Sementara Yahudi dan negara-negara kuffar dengan senyum lebar menyediakan lahan perang dan amunisi untuk keduanya, demi membasmi ahlussunnah. Cepat atau lambat, Alläh akan membongkar perselingkuhan mereka, fahasbunallähu wani’mal wakïl.*

————-

 

*Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Artikel: kristaliman.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: