Tinggalkan komentar

Jangan Pernah Bosan Ngaji Tauhid

Sungguh hati kita harus senantiasa diingatkan akan tauhid. Coba renungkan kisah Musa ‘alaihissaläm dalam membebaskan Bani Isräil dari penindasan Fir’aun. Setidaknya ada sembilan mukjizat besar yang disaksikan langsung oleh Bani Isräil dalam menghadapi Fir’aun. Yang terakhir—saat Fir’aun binasa—, mereka melihat laut terbelah dengan mata kepala mereka. Namun apa yang terjadi setelah mereka diselamatkan Alläh…?? Begitu cepat tauhid mereka lupakan. [lih. Tafsïr as-Sa’di: 302]

al-Qur’än mengabarkan:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَامُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Dan Kami seberangkan Bani Isräil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsräil berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang jahil”. [QS. Al-A’räf: 138]

Jika demikian cepat suatu kaum bisa melupakan tauhid, padahal mereka telah melihat langsung mukjizat terbesar, maka bagaimana lagi dengan keadaan kita yang belum pernah melihat mukjizat, dan belum pernah menemani dan melihat Nabi. Apakah kita bisa terjamin dari melupakan tauhid…?? Tentu kita lebih beresiko untuk meninggalkan tauhid. Untuk itulah kajian tauhid harus selalu digalakkan.

***

Di antara manusia, tidak sedikit yang senang mendengarkan ceramah-ceramah motivasi, yang menggugah jiwa, dan menginspirasi untuk beramal. Ini tentu saja baik, namun perlu dicatat bahwa segenap amal yang tidak berdiri di atas tauhid dan akidah yang benar, hanyalah sia-sia. Sedikitpun tidak akan mendatangkan manfaat yang berarti bagi pelakunya. Tidak di dunia, tidak pula di akhirat.

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami hadapkan segala amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan musnah seperti debu yang berterbangan.” [QS. Al-Furqän: 23]

Dalam ayat tersebut, Alläh tidak menafikan keberadaan amal kebaikan yang pernah mereka lakukan di dunia. Amalan mereka ada, dan dihitung oleh Alläh. Namun semua itu tidaklah berarti, bahkan hanya jadi penyesalan terbesar. Gara-gara amal kebaikan tersebut tidak dilandasi oleh tauhid, tidak dipersembahkan sebagai ketaatan hanya untuk Alläh semata-mata. [lih. Mukhtashar Tafsïr Ibn. Katsïr: 2/629]

Itulah sebabnya mengapa seluruh Rasul utusan Alläh memfokuskan dakwahnya pada perkara tauhid, yang menyangkut keesaan Alläh dalam Uluhiyyah-Nya, bahwa hanya Dia seorang yang berhak untuk diibadahi dengan segenap macam ibadah yang haq. Seseorang belumlah dikatakan bertauhid jika hanya shalat untuk Alläh, puasa, zakat, dan haji karena Alläh, namun di saat yang sama dia masih menyembelih kurban untuk selain Alläh (kepada jin, makhluk halus, dukun, dll).

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap ummat, yang menyerukan; ‘Sembahlah hanya Alläh semata, dan jauhi thagüt (yaitu kesyirikan, segala sesuatu yang diibadahi selain Alläh).” [QS. An-Nahl: 36]

Tidak harus dua, tiga, atau sepuluh ibadah, cukup satu saja ibadah yang ditujukan kepada selain Alläh (dalam konteks syirik akbar) sudah cukup membatalkan tauhid seseorang. Menjadikan amal shalatnya, amal puasanya, zakat, dan hajinya, kelak di akhirat seperti debu yang musnah berterbangan. Ancaman musnahnya amalan ini, bukan hanya tertuju kepada kita, hamba biasa di mata Alläh. Bahkan Alläh mengarahkan ancaman ini kepada kekasih-kekasih-Nya yang Dia cintai, tidak terkecuali kekasih-Nya yang paling istimewa, Muhammad shallallähu ‘alaihi wasallam:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu berbuat syirik (dengan beribadah kepada selain Alläh di samping juga kepada Alläh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [QS. Az-Zumar: 65]

Jika hamba-hamba pilihan semisal Nabi dan Rasul masih diingatkan dan diwanti-wanti oleh Alläh dari kesyirikan (sebagai pambatal tauhid), maka manusia selain mereka tentu lebih butuh mendapat peringatan akan pentingnya tauhid dan bahayanya syirik. Maka di saat kita mulai merasa jenuh dengan kajian tauhid, ingatlah ancaman Alläh dalam ayat tersebut.

***

Begitu takutnya Nabi kita yang mulia dari kesyirikan yang bisa menimpa ummatnya, hingga sampai menjelang wafat pun, Nabi tetap mengingatkan akan tauhid dan mewanti-wanti bahaya kesyirikan. Jundub bin ‘Abdilläh al-Bäjili radhiallähu’anhu meriwayatkan bahwa lima hari sebelum wafatnya, Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam sempat bersabda:

ألا وإن من كان قبلَكم كانوا يتخذون قبورَ أنبيائِهم وصالحيهم مساجدَ، ألا فلا تتخذوا القبورَ مساجدَ، إني أنهاكم عن ذلك

“Sungguh orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan-kuburan para Nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah, jangan sampai kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, sungguh aku benar-benar melarang kalian dari hal tersebut.” [Shahïh Muslim: 532]

Bahkan Usämah bin Zaid radhiallähu’anhu meriwayatkan bahwasanya Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam di saat beliau tengah sakit (di akhir-akhir hayatnya), beliau meminta agar para sahabatnya masuk. Setelah para Sahabat masuk, beliau pun bersabda:

“Laknat Alläh atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” [Ahmad: 5/214, lih. Manhajul Anbiyä fid Da’wati Ilalläh: 104, Syaikh Rabï’ bin Hadi al-Madkhali].

Tidak hanya dijauhkan semasa hidup beliau, Khalïlulläh Ibrähïm ‘alaihissaläm bahkan menginginkan anak turunannya senantiasa dijauhkan dari kesyirikan sepeninggalnya. Do’a beliau berikut ini terabadikan dalam al-Qur’än:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Yä Rabb, jadikanlah negeri Makkah ini aman, dan jauhkanlah aku berikut anak keturunanku dari penyembahan pada berhala-berhala.” [QS. Ibrähïm: 35]

Dalil-dalil di atas menunjukkan betapa tauhid senantiasa mendapatkan perhatian yang besar oleh para Nabi dan Rasul, tidak hanya sepanjang hidup mereka, tapi juga setelah kehidupan mereka berakhir di dunia.

***

Di sisi lain, ceramah-ceramah yang hanya menyodorkan kalimat-kalimat motivasi, kalimat-kalimat indah yang menggugah untuk bangkit beramal, namun kosong dari nilai-nilai tauhid dan penghambaan pada Alläh, cenderung melahirkan amalan musiman dari kaum egois; yang hanya bangkit beramal jika melihat ada manfaat duniawinya semata, jika tidak, amalannya pun akan terhenti, dan tak lagi berkesinambungan.

Di sinilah pentingnya kita selalu mengkaji tauhid. Karena dengan tauhid, hati akan selalu tentram dalam keyakinan bahwa setiap amalan yang dilakukan karena Alläh (sepahit apapun hasilnya di dunia), pada akhirnya akan senantiasa membuahkan manfaat yang besar. Inilah yang menjadikan mereka—yang tak pernah lekang mengkaji tauhid—selalu istiqomah. Amalan mereka selalu ada dan berkesinambungan, sekalipun sedikit. Maka saat kita merasa tak lagi istiqomah dalam suatu amalan, besar kemungkinan hati kita sudah lama kering dari siraman-siraman kajian bertema tauhid.

Ibnul Qayyim (wafat: 751-H) rahimahulläh dalam kitabnya Madärij as-Sälikïn, memaparkan bahwa istiqomah itu mencakup 5 unsur. Dan unsur yang pertama dan utama adalah tauhid. Beliau mengatakan:

الأول: إفراد المعبود سبحانه وتعالى بالإرادة، من الأفعال والأقوال والنيات وهو الإخلاص

“Unsur pertama istiqomah adalah; mengesakan Alläh subhänahu wa ta’äla dalam kehendak, perbuatan, ucapan, dan niat. Itulah keikhlasan.”

Intinya, keistiqomahan akan kokoh dengan kokohnya tauhid, dan akan melemah seiring melemahnya tauhid. Untuk itulah tauhid harus senantiasa dikaji.

***

Saat kita merasa bahwa kajian-kajian tentang tauhid dan akidah sudah mulai membosankan, maka di saat itulah kita harus menuduh hati kita. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya. Karena hati, ibarat pepohonan, butuh mutlak pada akar dan pokok batang yang sehat untuk bisa tumbuh, lalu berkembang, lantas merekahkan buah-buahan yang bermanfaat. Kedudukan tauhid dan akidah pada hati, seperti kedudukan akar dan pokok batang pada pepohonan. Tauhid dan akidah yang rusak, ibarat akar dan pokok batang yang rusak. Tauhid dan akidah yang terlupakan, laksana akar dan pokok batang pohon yang terlupakan pula. Bayangkan jika akar dan pokok batang tersebut mati, bisakah pohon berdiri tegak dan hidup…?? Justru kematian yang menghampiri. Demikian pula yang bakal terjadi pada hati dengan tauhid dan akidah yang tak lagi segar terpelihara. Untuk itulah tauhid dan akidah harus senantiasa kita kaji dan kita amalkan, tanpa ada batas akhir.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ** تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik [yakni: kalimat tauhid] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit ** pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” [QS. Ibrähïm: 24-25]

***

Lombok, Shafar 1436
Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Artikel: alhujjah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: