Tinggalkan komentar

BEBERAPA PRINSIP MENDASAR dalam MENDAKWAHKAN TAUHID

Di antara problematika dakwah yang kerap kali menjadi perdebatan di kalangan aktivis dakwah adalah; masalah prioritas dalam dakwah dan bagaimana metode memulai dakwah [Majallah al-Buhüts al-‘Ilmiyyah: 43/229-234, al-Lajnah ad-Dä-imah][1]. Perdebatan dan silang pendapat pada ranah ini tentu saja sangat-sangat merugikan dan memalukan, sebab jauh sebelum terjadinya khilaf dalam masalah ini, di hadapan kita sudah ada al-Qur’an dan Sunnah yang telah jauh-jauh hari menggariskan jalan dakwah yang jelas dan gamblang dari para Nabi dan Rasul. Dan sudah semestinya kita bergandengan tangan bersama, bahu membahu dan saling sokong dalam meniti jalan tersebut.

Di saat para da’i ahlussunnah sepakat bahwa tauhid adalah prioritas dalam dakwah, yang pertama dan utama, muncul kembali silang pendapat terkait uslüb (cara) atau metode dalam mendakwahkan tauhid tersebut. Memang ada perkara-perkara yang bisa berbeda terkait uslüb mendakwahkan tauhid pada ranah ijtihädy seiring perbedaan keadaan objek dakwah dan ragam tingkatan maslahat di lapangan dakwah yang berbeda pula, tentunya selama uslüb tersebut tetap mengacu pada pemahaman yang benar terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Namun pada ranah prinsip-prinsip mendasar metode dakwah yang dilandasi oleh nash dan dicontohkan oleh para Imam ahlussunnah, setiap da’i haruslah menggambungkan dirinya dan menyamakan gerak langkah dakwahnya bersama para Imam dakwah ahlussunnah di atas prinsip-prinsip tersebut.

Berikut ini adalah beberapa prinsip mendasar terkait metode mendakwahkan tauhid agar menjadi pegangan ahlussunnah dalam berdakwah. Boleh dikata, prinsip-prinsip ini adalah derivasi (turunan) dari prinsip besar “tauhid sebagai prioritas utama dalam dakwah”.

Prinsip Pertama:

“Dakwah tauhid tidak boleh ditunda, tidak boleh dinomorduakan setelah dakwah yang lain, apalagi diakhirkan atau disembunyikan.”

Pada kisah Yusuf ‘alaihissalam yang dipaparkan oleh al-Qur’an, terdapat pelajaran berharga tentang urgensi dakwah tauhid sekaligus penyegeraan dalam penyampaiannya tanpa ada penundaan. Jika kita renungkan, Yusuf ‘alaihissalam ketika itu telah mengalami beragam kezaliman manusia terhadapnya; berawal dari kezaliman hasad dari saudara-saudaranya, lalu kezaliman tamaknya orang yang mejadikannya budak yang murah, ditambah lagi kezaliman syahwat tuan wanitanya, lalu kezaliman kekuasaan yang menjadikannya hidup dalam penjara.

Namun apakah al-Qur’an mengabarkan bahwa Yusuf ‘alaihissalam memulai dakwahnya di penjara dengan memaparkan dosa-dosa kezaliman manusia terhadapnya…?? Tidak…!! Yusuf ‘alaihissalam tidak memulai dakwahnya dengan pembelaan terhadap dirinya atas segenap kezaliman yang pernah dialaminya, namun Yusuf ‘alaihissalam justru memulai dakwahnya dengan pembelaan terhadap hak Allah dari kezaliman syirik, karena inilah hakikat kezaliman terbesar di muka bumi.

Lalu apakah al-Qur’an mengabarkan bahwa Yusuf ‘alaihissalam memulai dakwahnya dengan menafsirkan mimpi-mimpi sebagaimana yang diminta oleh dua orang sahabatnya dalam penjara…?? Tidak…!! Al-Qur’an (baca QS. Yusuf: 36-40) justru menyebutkan bagaimana Yusuf ‘alaihissalam memulai dakwahnya dengan tauhid dan menjelaskan hakikat kesyirikan. Yusuf ‘alaihissalam bahkan berpaling dari pertanyaan tentang ta’bir mimpi dari dua temannya dalam penjara, beliau justru mengalihkan pembicaraan dengan menjelaskan tauhid dan syirik terlebih dahulu sebelum memberitahukan ta’bir mimpi keduanya. Dan inilah yang dijelaskan oeh para mufassir:

Al-Imâm al-Baghawi rahimahullâh (wafat: 510-H) mengatakan:

فَأَعْرَضَ عَنْ سُؤَالِهِمَا وَأَخَذَ فِي غَيْرِهِ فِي إِظْهَارِ الْمُعْجِزَةِ وَالدُّعَاءِ إِلَى التَّوْحِيدِ

“Yusuf berpaling dari pertanyaan keduanya, dan justru melakukan hal lain; menampakkan mukjizat dan mengajak kepada tauhid.” [Tafsïr al-Baghawi: 4/243, Cet. Dâr ath-Thayyibah]

Senada dengan itu, Al-Imâm al-Qurthubi rahimahullâh (wafat: 671-H) mengatakan:

لَمْ يُعَبِّرْ لَهُمَا حَتَّى دَعَاهُمَا إِلَى الْإِسْلَامِ

“Yusuf tidak menafsirkan mimpi keduanya, hingga beliau mengajak keduanya pada Islam (tauhid).” [Tafsïr al-Qurthubi: 9/191, Cet. Dâr al-Kutub al-Mishriyyah]

Prinsip Kedua:

“Belum ada kepastian diraihnya simpati objek dakwah, bukanlah alasan untuk menunda atau menomorduakan dakwah tauhid.”

Al-Imäm al-Albäni rahimahulläh pernah ditanya tentang uslüb dakwah yang memfokuskan perhatian pada usaha menarik simpati objek dakwah terlebih dahulu, melalui kebiasaan-kebiasaan mereka, baru kemudian mendakwahi mereka kepada tauhid dan sunnah. Maka beliau rahimahulläh memberikan jawaban yang indah berikut ini[2]:

“Metode seperti itu tidaklah benar. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallähu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallähu ‘alaihi wasallam tidaklah mengajak kaumnya kepada Islam dengan cara menarik simpati (keridhoan) mereka melalui tradisi yang biasa mereka kerjakan. Beliau shallallähu ‘alaihi wasallam langsung mengajak mereka kepada Tauhid. Merupakan sebuah kesalahan yang sangat-sangat buruk, manakala seorang da’i memulai (dakwahnya) dengan perkara-perkara yang sepele (tidak urgen), atau memulainya dengan perkara-perkara yang disunnahkan sekalipun, sementara da’i tersebut mengetahui keadaan objek dakwahnya bahwa pemahaman mereka masih sangat jauh dari apa yang difirmankan oleh Allah:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada Iläh yang berhak diibadahi dengan haq kecuali hanya Alläh semata.” [QS. Muhammad: 19]

Kami meyakini apa yang diucapkan oleh seorang da’i bahwanya Nabi shallallähu ‘alaihi wasallam adalah contoh dan teladan bagi kita dalam segala hal. Maka wajib bagi kita untuk mengikuti dakwah beliau shallallähu ‘alaihi wasallam dan juga metode beliau dalam dakwah. Kita tidak layak untuk menggunakan cara-cara kita sendiri demi meraih simpati dan ridha manusia di sekitar kita.

Sebagai contoh: Rasul shallallähu ‘alaihi wasallam di awal-awal dakwah beliau tidaklah memulai dakwahnya dengan menyambungkan antara fakir miskin dengan orang-orang kaya, agar mereka mau menginfakkan sebagian harta mereka kepada fakir miskin. Nabi shallallähu ‘alaihi wasallam tidak memusatkan perhatian dakwahnya (pada urusan infak) demi meraih hati manusia dan para fuqara, yang ketika itu mereka secara kuantitas banyak sekali.

Namun Nabi mendakwahi mereka semua—baik para fakir miskin maupun orang-orang kaya— agar mereka hanya mengibadahi Alläh semata dan agar mereka menjauhi kesyirikan (thäghüt). Maka metode dakwah (seperti yang diutarakan di awal paragraf dan yang semisal dengannya) bukanlah metode atau cara-cara dakwah para Nabi dan Rasul. Kita semua mengetahui bahwa segenap Rasul, kalimat yang pertama kali keluar dari mereka adalah:

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ

“Sesungguhnya kamu, dan apa yang kamu sembah selain Alläh adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. [QS. Al-Anbiyaa: 98]

(Intinya agar mereka) hanya beribadah kepada Alläh semata, dan agar mereka menjauhi Thäghüt (syirik).

Banyak pemuda hari ini meninggalkan jalannya para Nabi dalam berdakwah, lantas berkreasi dan mengada-adakan sendiri metode dakwah (yang baru). Maka yang demikian ini selama-lamanya tidaklah dibolehkan.” [Sumber: https://youtu.be/NsrjZP3LWZU]

Demikianlah nukilan fatwa dari al-Imäm al-Albäni rahimahulläh yang menegaskan betapa mendesaknya dakwah tauhid untuk diawalkan dan disegerakan.

***

Simpati objek dakwah adalah penting, namun bukanlah tujuan. Tujuan sejati adalah memahamkan tauhid kepada mereka. Saat simpati objek dakwah dijadikan sebagai tujuan dan menjelma menjadi fokus dakwah, maka yang terjadi adalah pengebirian dakwah tauhid dan pengalihan substansi dakwah kepada apa yang disenangi oleh objek dakwah, bukan kepada apa yang mendesak mereka butuhkan (yaitu tauhid).

Alasan meraih simpati objek dakwah tidak boleh menunda tersampaikannya tauhid. Jika meraih simpati mereka diposisikan sebagai sesuatu yang harus dicapai, maka yang menjadi pertanyaan adalah “sampai kapan…??” dan “apa batasannya…??”, “apakah harus menunggu semua objek dakwah simpati terlebih dahulu, baru memulai dakwah tauhid..??” Jawabannya tentu saja tidak..!! Tidak terbayangkan jika objek dakwah lebih dulu wafat sementara masih ada kesyirikan dalam kesehariannya, atau masih keliru dalam memahami tauhid dan aqidah yang benar. Maka dalam hal ini, da’i yang menunda dakwah tauhid tentu saja akan bertanggungjawab di hadapan Alläh gara-gara penundaannya tersebut. Hal sebaliknya juga tidak kalah berbahaya, manakala sang sa’i ternyata lebih dulu wafat dan belum sempat menyampaikan tauhid kepada objek dakwahnya.

Jadi, penyimpangan yang sangat-sangat fatal dalam metode dakwah adalah manakala dakwah tauhid sengaja dipinggirkan atau ditunda, karena simpati objek dakwah dirasa belum diraih. Tidak memulai dengan dakwah tauhid dan tidak memprioritaskannya adalah kejahatan da’i terhadap objek dakwahnya. Betapa tidak..!! Tauhid adalah syarat utama diterimanya segenap amal shalih. Percuma mendakwahkan shalat, puasa, adab dan akhlak yang mulia, sementara objek dakwah masih berbuat syirik (baik yang besar maupun kecil, yang nampak ataupun tersembunyi). Objek dakwah tidak akan mendapatkan manfaat sedikitpun dari dakwah da’i yang sampai kepadanya, jika mereka tidak memahami tauhid dan mengamalkannya.

Asy-Syaikh Dr. Shälih al-Fauzän hafizhahulläh mengatakan:

الدعوة بلا توحيد كلَا دعوة. بل إن الدعوة بلا توحيد عدمها أحسن من وجودها، لأنها تضلل الناس يظنون أنها حق

“Dakwah tanpa dakwah tauhid, sama saja bukan dakwah. Bahkan ketiadaan dakwah tanpa tauhid masih lebih baik daripada keberadaannya. Karena dakwah (dengan model) seperti itu menyesatkan manusia, mereka menyangkanya sebagai suatu yang haq.” [Sumber: https://youtu.be/gJn8nWg8wrU]

Prinsip Ketiga:

Dakwah tauhid harus diiringi dengan sikap penuh rahmah, didasari keinginan yang kuat dan tulus agar objek dakwah mau menerima dakwah, juga harus dibarengi cara-cara yang hikmah, dengan akhlak yang mulia, dan tidak sembrono memvonis objek dakwah.”

Tidak menunda-nunda penjelasan tentang tauhid dan syirik bukan berarti mengharuskan seorang da’i untuk memvonis “kafir”, “musyrik”, atau “sesat” objek dakwah yang terjatuh dalam penyimpangan. Cara-cara yang penuh rahmah, hikmah dan beradab sesuai yang dicontohkan Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam tetap harus dikedepankan.

Karena sebelum diperintah untuk menyampaikan risalah Alläh, Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam sendiri telah dikenal sebagai orang yang amanah, jujur, dan berhias dengan akhlak-akhlak yang mulia. Bahkan Alläh memuji akhlak beliau dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sungguh engkau (wahai Muhammad), benar-benar di atas akhlak pekerti yang agung.” [al-Qolam: 4]

Akhlak beliau yang agung tentu saja—di satu sisi—memiliki pengaruh yang besar dalam penerimaan objek dakwah beliau terhadap Islam, maka itu wajib diteladani oleh setiap da’i. Namun di sisi yang lain, Rasülulläh tidak menunda-nunda dakwah tauhid yang menjadi tugas pokok kerasulan beliau. Beliau bahkan menolak “peluang emas” menjadi Raja di Makkah, hanya karena kedudukan tersebut harus ditukar dengan di-stopnya dakwah tauhid. Padahal logika kita bisa saja menganjurkan “agar beliau mengambil peluang emas tersebut, lalu membangun strategi untuk melunakkan hati-hati orang musyrik agar mau menerima dakwah tauhid”. Tapi toh, strategi khayalan logika tersebut tidak beliau tempuh, karena memang dakwah tauhid tidak bisa ditunda dengan alasan apapun.

Prinsip Keempat:

“Diawalkannya dakwah tauhid tidaklah bertentangan dengan upaya-upaya pendekatan yang mubäh di mata Syari’at demi terwujudnya penerimaan dakwah tauhid oleh objek dakwah. Namun harus dicamkan bahwa upaya pendekatan tersebut hanyalah wasilah, sementara yang menjadi tujuan tetaplah tauhid.”

Seratus (100) unta yang dihadiahkan Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam kepada Mälik bin ‘Auf (salah satu pembesar Tsaqïf) adalah contoh upaya beliau dalam men-ta’lïf atau memikat hati objek dakwah, itupun dilakukan dengan tujuan agar Mälik bin ‘Auf dan kaumnya mau menerima dakwah tauhid. Demikian pula ketika Nabi membesuk tetangga Yahudi beliau yang tengah sekarat. Di sini beliau hendak menunjukkan akhlak seorang muslim yang tinggi nan mulia. Dengan harapan hati Si Yahudi dan keluarganya akan luluh. namun beliau tidak berhenti sampai di situ sementara yang menjadi tujuan utama adalah mendakwahkan kalimat “lä-iläha illalläh” kepada Yahudi yang berada diambang kematian tersebut. Maka dalam hal ini, merupakan ketergelinciran yang sangat fatal bagi seorang da’i, manakala ia memperlakukan wasilah layaknya tujuan, dan tujuan seolah hanya wasilah. Inilah yang kemudian melahirkan ragam-model dakwah yang jauh dari substansi tauhid, namun terasa begitu tunduk dalam memuaskan selera “konsumen” (baca: objek dakwah). Tidak heran jika banyak majelis-majelis taklim kini beralih fungsi menjadi “taman-taman hiburan” ketimbang taman-taman ilmu yang akan menyuburkan pohon iman dan ketakwaan.

Alhasil, memprioritaskan dan mengawalkan dakwah tauhid secara langsung bukan berarti harus meninggalkan upaya-upaya mubah untuk meraih simpati objek dakwah. Keduanya tidaklah bertentangan, bahkan bisa jalan berdampingan. Mengadakan bakti sosial, menghadiahkan kurban bagi objek dakwah, adalah sebagian kecil contoh upaya yang dianjurkan untuk meraih hati objek dakwah, dan upaya-upaya tersebut tidak harus menunda apalagi menyetop dakwah tauhid untuk kemudian tergantikan prioritasnya dengan model dakwah lain yang dianggap lebih bersahabat dengan selera objek dakwah.

Prinsip Kelima:

Tema dakwah tauhid tidaklah berbenturan dengan tema-tema dakwah yang lain. Semuanya bisa berjalan bersama dengan tetap memprioritaskan dakwah tauhid.”

Di periode-periode awal dakwahnya, Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam juga mendakwahkan tema-tema seputar keagungan akhlak yang mulia. Dan itu tidak menghalangi atau mengurangi fokus dakwah beliau pada masalah tauhid. Terbukti dari apa yang diungkapkan oleh Abu Sufyan, saat Kaisar Romawi, Heraklius, menanyakan kepada beliau; “Apa saja (ajaran) yang diperintahkan oleh Muhammad kepada kalian..??”. Abu Sufyan—yang ketika itu belum memeluk Islam—menjawab:

يقولُ : اعبُدوا اللهَ وحدَه ولا تُشرِكوا به شيئًا، واترُكوا ما يقولُ آباؤكم، ويأمُرُنا بالصلاةِ والصِّدقِ والعَفافِ والصِّلةِ

“Dia (Muhammad) mengatakan: ‘Sembah dan ibadahilah hanya Alläh semata. Jangan berbuat syirik pada-Nya sedikitpun. Tinggalkan ucapan-ucapan (mengandung kesyirikan dan kemaksiatan) yang diucapkan oleh nenek moyang kalian. Dan dia juga menyuruh kami untuk shalat, berlaku jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung silaturahmi.” [Shahïh al-Bukhäri: 7]

Dari pemaparan Abu Sufyan radhiallähu’anhu tersebut, jelas sekali bahwa Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam juga mendakwahkan pilar-pilar akhlak dan adab, namun tetap yang menjadi fokus dan prioritas dakwah beliau yang pertama dan utama adalah dakwah tauhid.

Kalau toh seorang da’i harus memulai dakwahnya dengan tema-tema seputar akhlak mulia dan penyucian jiwa, substansi-substansi tauhid masih bisa menjadi bahasan utama dalam tema-tema tersebut. Karena mustahil seorang muslim akan suci jiwanya, dan akan mulia akhlaknya secara lahir dan batin, tanpa dilandasi tauhid yang benar.

Prinsip Keenam:

“Dakwah tauhid juga harus tetap mendapat porsi yang cukup pada objek dakwah yang sudah memahami dan menerima tauhid.”

Karena sampai menjelang wafat pun, Nabi tetap mengingatkan akan tauhid dan mewanti-wanti bahaya kesyirikan. Jundub bin ‘Abdilläh al-Bäjili radhiallähu’anhu meriwayatkan bahwa lima hari sebelum wafatnya, Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam sempat bersabda:

ألا وإن من كان قبلَكم كانوا يتخذون قبورَ أنبيائِهم وصالحيهم مساجدَ، ألا فلا تتخذوا القبورَ مساجدَ، إني أنهاكم عن ذلك

“Sungguh orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan-kuburan para Nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah, jangan sampai kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, sungguh aku benar-benar melarang kalian dari hal tersebut.” [Shahïh Muslim: 532]

Bahkan Usämah bin Zaid radhiallähu’anhu meriwayatkan bahwasanya Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam di saat beliau tengah sakit (di akhir-akhir hayatnya), beliau meminta agar para sahabatnya masuk. Setelah para Sahabat masuk, beliau pun bersabda:

“Laknat Alläh atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” [Ahmad: 5/214, lih. Manhajul Anbiyä fid Da’wati Ilalläh: 104, Syaikh Rabï’ bin Hadi al-Madkhali].

Tidak hanya dijauhkan semasa hidup beliau, Khalïlulläh Ibrähïm ‘alaihissaläm bahkan menginginkan anak turunannya senantiasa dijauhkan dari kesyirikan sepeninggalnya. Ini pelajaran berharga bagi para da’i. Itu sebabnya do’a beliau berikut ini terabadikan dalam al-Qur’än:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Yä Rabb, jadikanlah negeri Makkah ini aman, dan jauhkanlah aku berikut anak keturunanku dari penyembahan pada berhala-berhala.” [QS. Ibrähïm: 35]

Dalil-dalil di atas menunjukkan betapa tauhid senantiasa mendapatkan perhatian yang besar oleh para Nabi dan Rasul, tidak hanya sepanjang hidup mereka, tapi juga setelah kehidupan mereka berakhir di dunia.

Prinsip Ketujuh:

“Dakwah tentang tauhid, berkonsekuensi pada dakwah tentang syirik dan cabang-cabangnya. Penjelasan tentang tauhid dan syirik, tidak bisa dipisahkan.”

Sebagaimana cahaya bisa diketahui manfaatnya saat kita memahami apa itu kegelapan, maka demikian pula halnya dengan tauhid. Tidak mungkin seseorang sampai pada pemahaman yang sempurna dan benar tentang tauhid tanpa memahami hakikat kesyirikan dan cabang-cabangnya yang mendetail. Bahkan, itulah esensi dari kalimat “läiläha-illalläh” jika kita renungkan. Dalam kalimat tersebut ada tauhid, yaitu penetapan (itsbät) bahwa hanya Alläh yang berhak diibadahi dengan haq. Dalam kalimat tersebut juga ada ikrar penolakan terhadap syirik, yaitu peniadaan (nafy) adanya sesuatu yang berhak untuk diibadahi selain Alläh. Jadi, tauhid dan syirik adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam dakwah.

Adalah keliru jika seorang da’i hanya menjelaskan tauhid semata, melulu menjelaskan hakikat ma’rifatulläh, mahabbatulläh, khosyatulläh, tawakkal, dll., namun tidak pernah atau bahkan sengaja tidak mau menjelaskan kesyirikan berikut contoh-contohnya yang tumbuh dalam realita masyarakat. Model dakwah seperti ini—jika boleh kita simplikasikan dengan sebuah analogi—, mirip dengan dakwah yang hanya mengajarkan fadhilah shalat, hikmah shalat, kekhusyuan dalam shalat, namun tidak pernah mengajarkan pembatal-pembatal shalat. Ini sama saja nol besar.

Renungkanlah bagaimana Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan men-tahdzïr keras sahabat-sahabat beliau yang baru masuk Islam, gara-gara mereka mengatakan:

يَا رَسُولَ اللهِ, اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ: اللهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“Wahai Rasülulläh, buatkan untuk kami (pohon keramat semacam) Dzätu Anwäth, sebagaimana orang-orang (musyrik) itu punya Dzätu Anwäth”. Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam lantas menjawab: “Allähu Akbar…!! Inilah tradisi-tradisi (umat terdahulu). Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kalian telah mengucapkan apa yang pernah diucapkan oleh Bani Isrä-ïl: “Buatkan kami tuhan-tuhan seperti mereka memilki tuhan-tuhan. Musa berkata: “sungguh, kalian adalah orang-orang yang jahil. (QS. Al-A’räf: 138).” [at-Tirmidzi: 2180, Ahmad: 21390, dishahihkan al-Albäni, lih. Jilbäb al-Mar’ah al-Muslimah: 202]

Namun perlu dicatat, bahwa menjelaskan apa itu syirik, apa itu kekafiran, dan detail pembatal-pembatal tauhid, tidaklah harus dengan cara-cara yang provokatif, dengan pilihan kata yang kasar dan keras, dengan mata yang melotot, atau urat leher sampai tampak, yang bisa saja kemudian menimbulkan kesan di mata awam bahwa sang da’i tengah mengkafirkan orang-orang.

***

Akhir kata, Semoga tulisan ringkas ini bisa memberikan manfaat bagi penulisnya sebelum memberi manfaat bagi orang lain. Semoga prinsip-prinsip dalam tulisan ini bisa menyatukan gerak langkah dakwah kita di jalan Alläh, Dialah satu-satunya tempat bersandar segenap do’a dan harapan.

***

Ditulis oleh:
Abu Ziyan Johan Saputra Halim
(Pengasuh alhujjah.com dan kristaliman.wordpress.com)

Catatan: artikel ini telah dibaca dan ditelaah oleh beberapa Asätïdz senior di Pulau Lombok, dan mereka—alhamdulilläh—menasehatkan untuk menyebarkan tulisan ini.

[1] Hal ini diungkapkan oleh asy-Syaikh Dr. Zaid bin Abdilkarïm az-Zaid dalam makalahnya yang berjudul “Aulawiyyät ad-Da’wah fï Manhajil Anbiyä ‘Alaihim as-Saläm”, dimuat di Majallah al-Buhüts al-‘Ilmiyyah: 43/229-234, al-Lajnah ad-Dä-imah, via: alifta.net.

[2] Diterjemahkan dari rekaman penjelasan beliau. Sumber: https://youtu.be/NsrjZP3LWZU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: