Tinggalkan komentar

Menunda Dakwah Tauhid Sampai Meraih Simpati Masyarakat…?? (Fatwa al-Imam al-Albani)

Seorang da’i di awal-awal dakwahnya berusaha menarik simpati objek dakwahnya dengan cara mengikuti kebiasaan dan tradisi mereka, baru kemudian mendakwahkan sunnah kepada mereka. Benarkah metode seperti ini…??

Jawaban al-Imam al-Albani rahimahullähäh:


Metode seperti itu tidaklah benar. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mengajak kaumnya kepada Islam dengan cara menarik simpati (keridhoan) mereka melalui tradisi yang biasa mereka kerjakan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam langsung mengajak mereka kepada Tauhid. Merupakan sebuah kesalahan yang sangat-sangat buruk, manakala seorang da’i memulai (dakwahnya) dengan perkara-perkara yang sepele (tidak urgen), atau memulainya dengan perkara-perkara yang disunnahkan sekalipun, atau dengan perkara-perkara yang <suara rekaman kurang jelas>, sementara da’i tersebut mengetahui keadaan objek dakwahnya bahwa pemahaman mereka masih sangat jauh dari apa yang difirmankan oleh Allah:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada Iläh yang berhak diibadahi dengan haq kecuali hanya Alläh semata.” [QS. Muhammad: 19]

Kami meyakini apa yang diucapkan oleh seorang da’i bahwanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah contoh dan teladan bagi kita dalam segala hal. Maka wajib bagi kita untuk mengikuti dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga metode beliau dalam dakwah. Kita tidak layak untuk menggunakan cara-cara kita sendiri demi meraih simpati dan ridha manusia di sekitar kita.

Sebagai contoh: Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di awal-awal dakwah beliau tidaklah memulai dakwahnya dengan menyambungkan antara fakir miskin dengan orang-orang kaya, agar mereka mau menginfakkan sebagian harta mereka kepada fakir miskin, padahal orang-orang kaya (ketika itu) <suara rekaman kurang jelas>[1] harta-harta mereka (fakir miskin), dan mereka adalah orang-orang yang <suara rekaman kurang jelas>[2], sementara ada orang-orang fakir miskin di sana waktu itu. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memusatkan perhatian dakwahnya (pada urusan infak) demi meraih hati manusia dan para fuqara, yang ketika itu mereka secara kuantitas banyak sekali.

Namun Nabi mendakwahi mereka semua—baik para fakir miskin maupun orang-orang kaya—, agar mereka hanya mengibadahi Alläh semata dan agar mereka menjauhi kesyirikan (thäghüt). Maka metode dakwah (seperti yang diutarakan di awal paragraf dan yang semisal dengannya) bukanlah metode atau cara-cara dakwah para Nabi dan Rasul. Kita semua mengetahui bahwa segenap Rasul, kalimat yang pertama kali keluar dari mereka adalah:

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ

“Sesungguhnya kamu, dan apa yang kamu sembah selain Alläh adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” [QS. Al-Anbiyaa: 98]

(Agar mereka) hanya beribadah kepada Alläh semata, dan agar mereka menjauhi Thäghüt (syirik).

Banyak pemuda hari ini meninggalkan jalannya para Nabi dalam berdakwah, lantas berkreasi dan mengada-adakan sendiri metode dakwah. Maka yang demikian ini selama-lamanya tidaklah pantas.

***

Penerjemah:
Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Sumber:
rekaman
suara asli Syaikh al-Albani rahimahulläh
(https://youtu.be/NsrjZP3LWZU)

Catatan kaki:

[1] Wallähu’alam, mungkin Syaikh mengatakan “mengambil

[2] Wallähu’alam, mungkin Syaikh mengatakan “mubadzdzirïn (para penghambur harta)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: