Tinggalkan komentar

Israiliyyat dalam Studi Tafsir

Dalam banyak literatur tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh para ulama terdahulu, tidak sedikit unsur Israiliyyat masuk tersisipkan. Sehingga secara tidak langsung juga ikut menjadi struktur atau fragmen dalam konstruksi pemahaman terhadap al-Qur’an. Belakangan, Israiliyyat—yang dimaknai sebagai riwayat-riwayat kisah tentang umat-umat terdahulu sebelum Islam dalam interaksi mereka dengan Nabi-Nabi utusan Alläh dan ajaran yang mereka bawa—terbukti banyak berseberangan dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam yang dibawa oleh Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam. Para peneliti riwayat kemudian bangkit melakukan penelitian atas keotentikan riwayat-riwayat Israiliyyat tersebut. Sampai tersimpulkanlah fakta ilmiah berdasarkan disiplin ilmu periwayatan bahwa banyak di antara Israiliyyat tersebut ternyata riwayat palsu yang disusupkan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Di sisi yang lain, Israiliyyat juga beberapa kali tersabdakan melalui lisan Rasululläh shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbimbing oleh wahyu ilahi dan terpelihara dari kekeliruan (ma’shüm), dan juga dari sahabat-sahabat Rasülulläh yang terpercaya. Ini berarti, tidak semua Israiliyyat bisa ditolak. Beberapa kisah umat terdahulu yang dibenarkan secara umum (mujmal) oleh al-Qur’an dan di-taqrïr oleh Sunnah, justru bisa menjadi pelengkap khasanah keilmuan yang membangun kebenaran penafsiran terhadap al-Qur’an itu sendiri.

Pengaruh al-Qur’an yang begitu kuat dan besar dalam andilnya merekonstruksi peradaban dunia Islam dari masa ke masa tentu saja tidak bisa lepas dari pengaruh yang akan dihasilkan oleh penafsiran terhadap al-Qur’an. Sementara keberadaan Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir para mufassir, tidak bisa dipungkiri telah—dan akan selalu—memberikan pengaruh bagi cara pandang dan pemahaman kita terhadap al-Qur’an yang menjadi sumber petunjuk bagi kehidupan. Penafsiran terhadap al-Qur’an yang keliru dan menyimpang sebagai imbas dari keberadaan Israiliyyat yang tidak selaras dengan spirit ajaran Islam—dan bahkan akal sehat—, tentu saja akan melahirkan efek negatif yang fatal dalam kehidupan. Sebaliknya, Israiliyyat yang shahih dan terlegitimasi oleh syari’at, akan semakin mendekatkan umat Islam kepada pemahaman yang benar dan penghayatan yang mendalam terhadap al-Qur’an. Dari sinilah kajian tentang Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir ini menjadi teramat urgen untuk dipaparkan serta dituliskan.

Etimologi Israiliyyat

Secara etimologi atau bahasa, “israiliyyat” adalah bentuk jamak (plural) dari kata “israiliyyah” yang merupakan nisbah yang kembali pada Bani Israil atau anak keturunan Israil. Sementara Israil sendiri, tidak lain adalah Ya’qub yang berarti hamba Allah. Dengan demikian, Bani Israil adalah anak-anak keturunan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam[1], putra Ishaq bin Ibrahim ‘alaihissalam.

Terminologi Israiliyyat

Adapun secara istilah, Israiliyyat menurut Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi adalah:

قصة أو حادثة تروى عن مصدر إسرائيلي

“Kisah atau kejadian yang diriwayatkan dari sumber Israiliy (Bani Israil)”[2]

Sementara itu, Dr. Sholah Abdul Fattah mendefiniskan sebagai berikut[3]:

مصطلح أطلقه المسلمون على الأخبار والأقوال والروايات المنسوبة لبنى إسرائيل فى تراثنا. وقد يتوسع مدلول المصطلح ليشمل ما ورد عن الهنود أو اليونانيين أو النصارى

“Israiliyyat adalah Istilah yang dimaksudkan oleh kaum muslimin sebagai kabar-kabar atau ungkapan-ungkapan atau riwayat-riwayat dari Bani Israil dalam khasanah keilmuan kita (Islam). Istilah Israiliyyat ini maknanya telah meluas, bahkan mencakup kisah-kisah atau riwayat-riwayat dari India, Yunani, atau kaum Nasrani.”

Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi juga mengungkapkan hal yang sama. Bahwa istilah Israiliyyat sudah meluas cakupannya, tidak hanya riwayat dari Yahudi (Bani Israil) saja. Belakangan, domain makna Israiliyyat meluas hingga mencakup riwayat-riwayat yang bersumber dari umat Nasrani. Bahkan perluasan makna Israiliyyat tidak berhenti sampai di situ. Riwayat-riwayat yang disusupkan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan non-Yahudi atau Nasrani ke dalam literatur-literatur tafsir dan hadits tanpa sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, juga dikategorikan sebagai Israiliyyat oleh sebagian pakar tafsir[4].

Di antara riwayat palsu yang menyusup ke dalam kitab-kitab tafsir dan kemudian disebut sebagai Israiliyyat adalah Qish-shatul Gharänïq. Sebuah kisah yang menyebutkan bahwa ketika Nabi membaca ayat:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى * وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Dan apakah patut bagi kalian (wahai orang-orang musyrik) menganggap Lata dan ‘Uzza. Dan Manat yang ketiga (sebagai anak perempuan Allah) ??”. [an-Najm: 19-20]

tiba-tiba syaithan merasuki Nabi lalu berhasil menjadikan Nabi mengucapkan ayat palsu berikut ini, persis setelah Nabi membaca dua ayat di atas:

تلك الغرانيق العلا * وأن شفاعتهن لترتجى

“Mereka itulah (Lata, ‘Uzza, dan Manat), al-Gharänïq yang punya kedudukan yang tinggi * Dan bahwa syafa’at mereka, benar-benar jadi harapan.” [ayat palsu]

Ibnu Katsir (wafat: 774-H) menukil kisah ini dalam kitab tafsirnya[5] lalu menyimpulkan bahwa kisah ini adalah kisah yang dusta karena sanad-nya tidak ada yang shahih. Demikian juga dengan al-Alusy (wafat: 1270-H) menukil[6] pendapat al-Imam Muhammad bin Ishaq, seorang pakar sirah nabawiyyah terkenal, bahwa riwayat al-Gharänïq tersebut adalah susupan orang-orang zindiq (yang memusuhi Islam).

Lantas kenapa riwayat-riwayat kisah yang tidak bersumber dari Bani Israil juga diistilahkan sebagai Israiliyyat oleh banyak ulama tafsir dan pakar sejarah riwayat? Menurut Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi, itu dikarenakan riwayat-riwayat khurafat dan tidak berdasar tersebut didominasi oleh riwayat-riwayat dari literatur Bani Israil[7].

Bagaimana Israiliyyat Masuk ke Dalam Kitab-Kitab Tafsir?

Jika menilik sejarah, masuknya riwayat-riwayat Israiliyyat tidak terlepas dari migrasi besar-besaran yang dilakukan oleh bangsa Yahudi akibat tekanan dari Tithus ar-Rümäniy pada tahun 70 masehi. Salah satu tujuan migrasi mereka adalah ke tanah Arab yang ketika itu berada dalam masa fatrah (vakumnya kenabian). Sejak itu terjadi infiltrasi budaya Yahudi ke bangsa Arab di era jahiliyyah, terutama budaya yang terkait erat dengan agama Yahudi dan kisah-kisah yang ada dalam ajaran agama mereka[8].

Pertemuan bangsa Arab dengan bangsa Yahudi ini, berikut interaksi budaya yang terjadi antara keduanya, menurut Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi, adalah indikasi kuat bagi sejarah awal masuknya Israiliyyat secara turun-temurun ke dalam khasanah keilmuan para cendikiawan muslim di kemudian hari[9].

Adanya tokoh-tokoh besar Yahudi yang memiliki pengetahuan mendalam tentang seluk-beluk ajaran Yahudi lantas memeluk Islam seperti; Abdullah bin Saläm (wafat: 43-H), Ka’ab al-Ahbär (wafat: 34-H) juga—menurut Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi—punya peranan yang besar dalam meriwayatkan Israiliyyat berdasarkan pengetahuan mereka sebagai pemuka agama Yahudi di masanya.

Masuknya Israiliyyat—khususnya riwayat-riwayat kisah yang bertentangan dengan Islam—juga tidak bisa dilepaskan dari niat buruk pihak-pihak yang dengki dan memusuhi Islam. Seperti kisah al-Gharänïq di atas, jelas disusupkan oleh para pendengki Islam yang ingin menjatuhkan kredibilitas kewahyuan yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun alhamdulillah, para ulama tafsir seperti Ibnu Katsïr (wafat: 774-H) dan al-Alüsy (wafat: 1270-H), dan mereka tidaklah menukil kisah tersebut melainkan untuk menjelaskan kepalsuannya.

Ibnu Khaldun (1332-1406), sejarawan Islam yang terkenal, menjelaskan bahwa kaum muslimin di awal-awal kemunculan Islam, kebanyakannya adalah orang-orang badui yang tidak mengenal baca-tulis (ummiyyah), rasa ingin tahu mereka tentang sebab-sebab penciptaan alam, kapan dimulai dan apa rahasia-rahasia yang terkandung dalam penciptaan alam itu, mereka tanyakan kepada rekan-rekan mereka yang dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang baru memeluk Islam. Mantan-mantan tokoh Yahudi dan Nasrani tersebut menjelaskan tentang berbagai ayat al-Quran itu dengan penafsiran berdasarkan latarbelakang mereka sebelum masuk Islam. Contohnya adalah Ka’ab al-Ahbär (wafat: 34-H), Abdullah bin Saläm (w. 43 H) dan Wahab bin Munabbih (34-110 H). Sejak itu, masuklah unsur Israiliyat dalam khazanah penafsiran Al-Quran[10].

Dari perspektif yang berbeda, indikasi adanya campur tangan Yahudi yang sangat mendengki dan memusuhi Islam dalam upaya mereka menanamkan keraguan terhadap Islam juga ditegaskan oleh al-Qur’an sendiri, yang menyebut mereka sebagai orang-orang yang paling keras permusuhan dan kebenciannya terhadap kaum muslimin. Sebagaimana firman Alläh:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

“Sungguh engkau akan dapati yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” [QS. Al-Mä-idah: 82]

Klasifikasi Israiliyyat

Muhammad bin Shälih al-‘Utsaimïn dalam bukunya Ushül fï at-Tafsïr[11] mengklasifikasikan Israiliyyat menjadi tiga kategori[12]:

Pertama: Israiliyyat yang benar dan dapat diterima sebagai sebuah kebenaran. Yaitu Israiliyyat yang dibenarkan atau dilegitimasi oleh al-Qur’an ataupun hadits-hadits Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih (otentik). Seorang muslim tidak diperkenankan untuk menolak Israiliyyat jenis ini.

Sebagai contoh, diriwayatkan dalam ash-Shahïhain bahwa seorang Rahib pernah menyatakan kepada Nabi bahwa dalam kitab suci mereka disebutkan bagaimana Allah—Yang Maha Besar—kelak akan menjadikan seluruh langit berada di jemari-Nya, dan menjadikan segenap makhluk berada di jemari-Nya yang lain, lantas Dia berfirman: “Akulah Sang Raja Diraja”. Mendengar hal itu, Nabi tertawa hingga tampak gigi geraham beliau karena untuk membenarkan apa yang diucapkan oleh Rahib tersebut, kemudian beliau membacakan firman Alläh:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka tidak mengagungkan Alläh dengan pengagungan yang layak, padahal kelak di hari kiamat, bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya, dan segenap langit dilipat dengan tangan kanan-Nya. Alläh Maha Suci dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka persekutukan.” [QS. Za-Zumar: 67][13]

Kedua: Israiliyyat yang batil, yaitu kisah atau riwayat yang diingkari dan didustakan oleh Islam. Israiliyyat model ini, wajib ditolak dan tidak boleh dijadikan sebagai sandaran.

Contohnya, dalam riwayat Jabir radhiallähu’anhu:

كَانَتِ اليَهُودُ تَقُولُ: إِذَا جَامَعَهَا مِنْ وَرَائِهَا جَاءَ الوَلَدُ أَحْوَلَ، فَنَزَلَتْ: {نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ} [البقرة: 223]

“Dulu orang-orang Yahudi mengatakan; ‘jika mereka menggauli istri dari posisi arah belakang, maka anak yang lahir akan juling matanya’, maka turunlah ayat: ‘Isteri-isteri kalian adalah ladang kalian. Datangi ladang kalian dari arah mana saja (asalkan bukan di dubur[14]).”[15]

Ketiga: Israiliyyat yang tidak dibenarkan, juga tidak diingkari oleh Islam, hanya didiamkan saja. Maka kita pun wajib untuk tawaqquf, tidak membenarkan dan tidak pula mendustakannya. Ini berdasarkan riwayat Abu Hurairah radhiallähu’anhu berikut ini:

كَانَ أَهْلُ الكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالعِبْرَانِيَّةِ، وَيُفَسِّرُونَهَا بِالعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: {آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا} [البقرة: 136]

“Orang-orang ahlul kitab (Yahudi) membaca Taurat dengan bahasa Ibrani, lantas mereka menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada orang-orang Islam. Maka Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jangan kalian percayai ahlul kitab, jangan juga kalian dustakan mereka, dan ucapkanlah (seperti dalam firman Alläh): ‘kami beriman pada Alläh dan pada apa yang diturunkan pada kami’ (al-Baqärah: 136).”[16]

Contoh kategori ini adalah Israiliyyat yang dibawakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, tentang kisah Sapi Bani Israil dalam Surat al-Baqarah (ayat 67-73).

Hukum Meriwayatkan Israiliyyat

Jika kita mengumpulkan riwayat terkait boleh tidaknya meriwayatkan, menyebarluaskan, atau berdalil dengan Israiliyyat, maka akan kita dapati ada dua kategori riwayat:

Pertama; yang mengandung pelarangan untuk meriwayatkan Israiliyyat. Salah satunya adalah kisah di mana ‘Umar bin al-Khattab radhiallähu’anhu suatu ketika pernah membawa kitab yang diperolehnya dari sebagian Ahlul Kitab. Lantas beliau membacanya di hadapan Nabi. Nabi pun marah karenanya lantas bersabda:

“Apa engkau ragu wahai putra al-Khattab? Demi Alläh yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku telah datang membawa keterangan yang putih lagi bersih. Jangan engkau bertanya kepada Ahlul Kitab, yang nantinya mereka akan mengabarkan kepadamu sesuatu yang hak lalu engkau dustakan, atau mereka mengabarkanmu suatu kebatilan namun justru engkau benarkan. Demi Alläh yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, andaikata Musa saat ini masih hidup, maka tidak ada pilihan baginya selain harus menjadi pengikutku.”[17]   

Di antara Sahabat Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang keras bertanya kepada Ahlul Kitab perihal agama adalah Ibnu ‘Abbäs radhiallähu’anhu, sepupu Rasülulläh. Alasan Ibnu ‘Abbäs adalah karena Alläh telah mengabarkan perihal Ahlul Kitab yang telah melakukan perubahan dan pendistorsian pada kitab suci mereka[18].

Kedua; yang mengisyaratkan pembolehan untuk meriwayatkan Israiliyyat. Di antaranya adalah sabda Nabi:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sampaikanlah dariku sekalipun hanya satu ayat. Kabarkanlah riwayat dari Bani Isräil dan tak perlu sungkan. Namun barangsiapa dengan sengaja berdusta mengatasnamakan aku, maka maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka.”[19]

Ibnu Hajar al-Asqaläni rahimahulläh (773-852 H) menukil penjelasan Imam Malik rahimahulläh (93-179 H) terkait sabda Nabi tersebut:

المراد جواز التحدث عنهم بما كان من أمر حسن، أما ما علم كذبه فلا

“Maksudnya adalah; boleh meriwayatkan dari mereka (Ahlul Kitab) sebatas perkara-perkara yang baik, adapun jika diketahui kedustaannya, maka tidak boleh.”[20]

Kompromi Antara Dua Kategori Tersebut

Dalam mengkompromikan dua riwayat yang seakan bertentangan di atas, pakar al-Qur’an, Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi mengemukakan bahwa riwayat yang menganjurkan untuk bertanya dan meriwayatkan Israiliyyat hanyalah terbatas pada riwayat yang benar atau dibenarkan oleh al-Qur’an dan Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam, atau riwayat yang tidak diketahui mengandung kedustaan dan bisa dijadikan ‘ibrah.

Sedangkan riwayat yang melarang, dimaksudkan pada riwayat Israiliyyat yang mengandung kedustaan, bertentangan dengan syari’at, atau riwayat yang tidak mungkin dibenarkan oleh akal sehat[21].

Israiliyyat di Mata Para Mufassir

Kitab-kitab tafsir yang ditulis semenjak era Ibnu Jarïr ath-Thabari rahimahulläh (310-H) boleh dibilang hampir tidak ada yang lepas dari Israiliyyat. Bahkan Ibnu Jarïr sendiri termasuk mufassir yang banyak meriwayatkan Israiliyyat dalam tafsirnya. Hanya saja beliau sengaja meriwayatkan Israiliyyat tersebut lengkap dengan sanad-sanadnya agar memudahkan ulama setelahnya untuk meneliti validitas setiap riwayat yang beliau bawakan[22]. Jadi sikap ilmiah yang ditempuh oleh Ibnu Jarïr sejatinya adalah warisan positif bagi perkembangan studi al-Qur’an muta-akhkhirïn.

Di antara mufassir ada yang banyak meriwayatkan Israiliyyat tanpa menyertakan sanad pada sebagian besar riwayatnya. Tafsir al-Kasyfu wa al-Bayän yang ditulis oleh Ats-Tsa’labi (w: 427-H) dan Ma’älim at-Tanzïl oleh al-Baghawi (w: 510-H) masuk dalam kategori ini. Bedanya, al-Baghawi lebih kritis dan hanya memasukkan yang dianggapnya sebagai Israiliyyat yang shahih[23].

Di antara mereka ada yang meriwayatkan banyak Israiliyyat namun disertai komentar terkait sanad dan matan riwayat Israiliyyat yang dibawakan. Terkadang juga dibawakan riwayat Israiliyyat untuk kemudian diingkari dan dibeberkan kedustaan riwayat tersebut. Tafsiïr al-Qur’än al-‘Azhïm karya al-Häfizh Ibnu Katsïr rahimahulläh (w: 774-H) termasuk dalam kategori ini[24].

Ada juga kalangan mufassir yang menolak keras periwayatan Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir sebagai bagian dari khasanah ilmu penafsiran. Di antara mereka adalah al-Alüsi (w: 1240-H) dalam tafsirnya Rühul Ma’äni, asy-Syaukani (w: 1250-H) dalam tafsirnya Fathul Qadïr. Kalaupun mereka meriwayatkan Israiliyyat, jumlahnya hanya sedikit dan biasanya diabwakan untuk dibantah. Ada juga yang secara total menolak Israiliyyat dan tidak meriwayatkannya dalam kitab tafsir, seperti Muhammad Rasyïd Ridha (1282-1354 H) dalam Tafsïr al-Manär[25].

Israiliyyat di Mata Orientalis

Abraham Geiger (1810-1874) dan William St. Clair Tisdall (1859-1828)[26] adalah dua tokoh sentral di kalangan orientalis yang sangat getol mengkritik al-Qur’an dari sisi Israiliyyat. Kritikan mereka termaktub dalam buku berjudul “The Origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s Holy Book” yang diedit oleh Ibnu Warräq[27], nama samaran dari seorang sekuler India, pendiri Institute for the Secularisation of Islamic Society (ISIS). Buku tersebut terdiri dari 4 bagian. Pada bagian ke-3, fokus kritikan buku tersebut adalah pada tuduhan bahwa pesan-pesan yang ada dalam al-Qur’an banyak sekali dipengaruhi oleh tradisi keagamaan dan kisah-kisah Yahudi, Nasrani, dan Zoroaster[28].

Tentu saja apa yang disimpulkan oleh para orientalis ini sangat jauh dari fakta dan kebenaran. Karena al-Qur’an yang dibawa oleh Rasul terakhir, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah risalah ilahi yang memang membenarkan apa-apa yang dibawa oleh Rasul-Rasul sebelumnya, dan sekaligus menyempurnakan ajaran yang mereka bawa. Justru kitab-kitab suci terdahululah yang telah mengalami distorsi sehingga isinya sarat akan kontradiksi. Maka kisah atau riwayat yang bertentangan dengan al-Qur’an, bisa dipastikan telah mengalami distorsi, dan kisah-kisah al-Qur’an yang bersesuaian dengan kitab-kitab suci terdahulu justru menjadi bukti akan kebenaran al-Qur’an.

Orientalis kondang Yahudi asal Hungaria, Goldziher, menuduh Ibnu ‘Abbäs radhiallähu’anhu—yang dijuluki Turjumänul Qur’an di kalangan Sahabat Nabi—banyak bertanya dan mengambil penafsirannya terhadap al-Qur’an dari seorang Ahli Kitab Yahudi bernama Abu al-Jald Ghailän bin Farwah al-Azdy[29]. Goldziher lantas memberikan contoh sebuah riwayat yang terdapat dalam Tafsïr ath-Thabari[30] yang menyebutkan bahwa Ibnu ‘Abbäs radhiallähu’anhu pernah menulis surat kepada Abu al-Jald Ghailän yang berisi pertanyaan makna kata “al-barq” dan “tho’äman” pada ayat:

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا

“Dialah Alläh yang memperlihatkan kepada kalian kilat (dari sela-sela awan), hingga kalian takut ia menyambar, dan kalian pun berharap (awan itu membawa air hujan).” [QS. Ar-Ra’d: 12]

Kritik Atas Tuduhan Goldziher

Namun setelah diteliti sanadnya, riwayat yang dicontohkan oleh Goldziher di atas ternyata munqathi’ (terputus, tidak bersambung sampai Ibnu ‘Abbäs). Karena dalam sanadnya terdapat sosok bernama Abu Jahdhom Müsa bin Sälim yang disebut meriwayatkan langsung dari Ibnu ‘Abbäs, namun faktanya dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Ibnu ‘Abbäs[31]. Ini kritik dari segi sanad terhadap Goldziher atas contoh yang dibawakannya.

Kalaupun kita menganggap riwayat tersebut shahïh, maka secara matan (redaksi) riwayat, kandungan riwayat yang dibawakan Goldziher sama sekali tidak memiliki substansi bahwa ajaran-ajaran pokok Islam bersumber dari Taurat. Karena apa yang ditanyakan oleh Ibnu ‘Abbäs tersebut tidak menyangkut hal-hal fundamental dalam agama semisal rukun iman. Pertanyaan Ibnu ‘Abbäs kepada Ahli Kitab dalam masalah ini, masuk dalam keumuman sabda Nabi (وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ) yang membolehkan periwayatan dari Bani Isräil pada perkara-perkara yang bersesuaian dengan Islam atau perkara yang tidak menentang ranah aqidah dan pengamalan Islam yang bersifat qaht’i[32].

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, bisa dipetik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Israiliyyat adalah riwayat atau kisah yang bersumber dari Bani Isräil baik Yahudi maupun Nasrani. Istilah Israiliyyat kemudian berkembang cakupan maknanya, sehingga digunakan juga pada riwayat-riwayat non-Bani Isräil dari kalangan ummat terdahulu yang masuk ke dalam khasanah ilmu periwayatan dalam Islam.
  2. Banyak riwayat Israiliyyat yang mengandung kedustaan, tidak jelas asal usulnya karena tidak bersanad, mengandung susupan asing, kisah khayal, khurafat, dan tertolak oleh akal sehat. Namun ada juga Israiliyyat yang benar dan dibenarkan oleh al-Qur’an dan al-Hadïts. Di sisi lain, ada jenis Israiliyyat yang tidak bisa dipastikan benar tidaknya.
  3. Israiliyyat yang dibenarkan oleh al-Qur’an dan al-Hadits yang shahïh wajib diterima dan diriwayatkan. Sedangkan Israiliyyat yang telah terbukti kedustaannya maka tidak boleh diriwayatkan kecuali dalam rangka untuk dijelaskan sisi kedustaannya. Adapun Israiliyyat yang tidak bisa dipastikan benar tidaknya, maka tidak boleh dipercaya juga tidak boleh didustakan. Namun boleh diriwayatkan sebagai tambahan ibroh dengan syarat ia tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadïts yang shahïh atau akal yang sehat.
  4. Keberadaan Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir yang bercampur antara yang shahih dan tidak, menjadi celah kaum orientalis yang membenci Islam untuk menanamkan keraguan akan sumber ajaran Islam. Namun itu sudah terbantahkan oleh para ulama.
  5. Terlalu bebas dalam meriwayatkan Israiliyyat tanpa batasan-batasan ilmiah yang jelas, bisa menghantarkan pada distorsi penafsiran terhadap al-Qur’an. Namun menolak Israiliyyat secara total tanpa mempertimbangkan sanad dan matan juga bisa menghantarkan pada penolakan atas apa yang dibenarkan oleh al-Qur’an dan al-Hadits yang shahïh.

***

والله أعلم بالصواب

Ditulis oleh:
Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

[1] Abu Syuhbah, Muhammad, Al-Israiliyyat wal Maudhu’at fii Kutubit Tafsir, hal. 12.

[2] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 13.

[3] Israiliyyat Mu’ashiroh.

[4] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 13.

[5] Ibnu Katsir, Tafsïr al-Quränil ‘Azhïm, juz 3, hal. 229, at-Tijariyyah.

[6] Tafsïr al-Alüsy, juz 17, hal. 160-161, al-Muniriyyah.

[7] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 14.

[8] Ali, Jawwad, Tärïkhul ‘Arob Qoblal Isläm, juz 6, hal. 24, via al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 15.

[9] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 16.

[10] Khaldün, Ibnu, Muqoddimatu Ibni Khaldün, hal. 490-491, Cet. Asy-Syarqiyyah. Via al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 25.

[11] Al-‘Utsaimïn, Muhammad Shälih, Ushül fï at-Tafsïr, hal. 53, al-Maktabah al-Islämiyyah, 2001.

[12] Ini juga yang dipaparkan oleh Ibnu Taimiyyah (w: 728-H) dalam Muqaddimah Ushül Tafsir-nya, hal. 26-27.

[13] Shahïh al-Bukhäri no. 4811, Shahïh Muslim no. 2786.

[14] Shahïh Muslim no. 1435.

[15] Shahïh al-Bukhäri no. 4528, Shahïh Muslim no. 1435.

[16] Shahïh al-Bukhäri no. 4485.

[17] Musnad al-Imäm Ahmad: 3/387.

[18] Shahïh al-Bukhäri: 3/181, Cet. Al-Khairiyyah.

[19] Shahïh al-Bukhäri: 4/170, no. 3461.

[20] Al-‘Asqaläni, Ibnu Hajar, Fathul Bäri: 6/575.

[21] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 49.

[22] Humaisah, Dr. Abdul Hamid, al-Israiliyyat wa Hukmu Riwäyatiha, https://saaid.net/Doat/hamesabadr/185.htm.

[23] Ibid.

[24] Ibid.

[25] Ibid.

[26] https://en.wikipedia.org

[27] https://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Warraq

[28] https://en.wikipedia.org/wiki/The_Origins_of_the_Koran:_Classic_Essays_on_Islam’s_Holy_Book

[29] Goldziher, al-Madzähib al-Islämiyyah fï Tafsïr al-Qur’än, hal. 65-67, terjemah Dr. Ali Hasan Abdulqadir, Cet. Al-‘Ulüm.

[30] Ath-Thabari, Ibnu Jarïr, Jämi’ul Bayän fï Tafsïr al-Qur’än, 13/82, Cet. Al-Amïriyyah.

[31] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 64.

[32] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: