Tinggalkan komentar

BORN TO PRAY: TUJUAN HIDUP KITA

Untuk apa keberadaan kita di muka bumi ini? Kita tidak pernah memilih untuk hidup di muka bumi, lantas kenapa kita tiba-tiba terlahir dan tumbuh-berkembang di muka bumi? Kita tidak pernah memilih untuk menjadi seorang laki-laki atau wanita. Kita tidak pernah memilih untuk tinggal di tempat kita menetap saat ini. Bahkan kita tidak pernah memilih untuk terlahir dari rahim ibunda kita saat ini. Lantas kenapa dan untuk maksud apa? Dan untuk apa semua yang ada ini…??

Sekarang, coba terawang sekelilingmu wahai sobat. Adakah yang terlihat olehmu tercipta tanpa maksud dan tujuan? Pesawat, perahu layar, mobil, dan gerobak dorong; dibuat untuk maksud dan tujuan yang jelas. Demikian halnya dengan lembaran-lembaran kertas di hadapan kita. Buku, alat tulis, tas, meja, kursi, sampai cangkir kopi yang kini tengah engkau nikmati kehangatannya; semuanya ada dan tercipta untuk menjalankan tugas serta tujuan penciptaannya masing-masing. Lantas, bagaimana dengan kita? Ya, kita! Makhluk super kompleks yang bernama manusia. Tentu mustahil kita ada dan tercipta tanpa tujuan penciptaan.

Dulu, saat kelamnya kabut ketidaktahuan tengah menyelimuti hati Jubair bin Muth’im, dia tak pernah tahu atas alasan apa ia berada dalam barisan tentara musyrikin di perang Badr ketika itu. Ia tak tahu apa tujuan langkah kakinya dan ayunan pedangnya melawan kaum mukminin saat itu. Jangankan itu, ia bahkan belum tahu untuk apa ia tercipta. Ia harus taat mengikuti petinggi kabilah dan kaumnya yang saat itu bersengketa dengan seorang laki-laki bernama Muhammad bin ‘Abdillah. Hanya itu pengetahuan yang ada dalam benaknya. Sampai ia menjadi salah satu di antara sekian tawanan musyrikin yang kalah dalam peperangan Badr tersebut. Sampai ia merasakan perlakuan yang sangat manusiawi dari orang-orang mukmin terhadap para tawanan perang. Sampai tiba waktu maghrib yang hening dan sendu, terdengar di telinga Jubair sayup-sayup merdu bacaan kalämulläh dari lisan Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memimpin shalat berjama’ah di masjid. Tentu, ia sangat paham makna bacaan-bacaan tersebut. Sampai ia mendengar Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam membaca:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ * أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ * أَمْ عِندَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa suatu apapun, atau apakah mereka yang telah menciptakan diri mereka sendiri? * Atau apakah mereka yang menciptakan langit demi langit dan bumi? Bahkan sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka ucapkan sendiri) * Atau apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu atau merekalah yang berkuasa?” [QS. Ath-Thür: 35-37]

Jubair bin Muth’im mengisahkan apa yang dirasa oleh sekujur hatinya ketika itu, sebagaimana termaktub dalam Shahïh al-Bukhäri (no. 4854):

كَادَ قَلْبِي أَنْ يَطِيرَ

“Hampir-hampir hatiku akan terbang melayang”

Demikianlah kisah Jubair bin Muth’im yang luluh lebur hatinya ketika mendengarkan al-Qur’än. Al-Qur’än yang kemudian mengantarkannya kepada cahaya hidayah Islam, yang mengantarkannya kepada pengenalan sejati tentang tujuan hidupnya. Bahwa ia tercipta tidak begitu saja, ia tercipta oleh Sang Pencipta, bahwa dirinya dan jiwanya ada pemiliknya, dan bahwa Sang Pemilik tersebut, adalah Sang Pencipta, yang pasti menciptakannya untuk suatu tujuan yang agung.

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)..??” [QS. Al-Qiyämah: 36]

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami..?” [QS. Al-Mu’minün: 115]

“Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam rangka main-main (tanpa ada arti, maksud dan tujuan).” [QS. Ad-Dukhän: 38]

Dahulu sebelum kita terlahir ke muka bumi, di sebuah fase alam sebelum alam dunia ini, kita pernah mengikrar janji pada Rabb kita Sang Pencipta. Bahwa Dialah Tuhan kita, dan kita adalah hamba-Nya. Kita mematri janji, bahwa kita akan senantiasa mengikat diri dengan aturan-aturan-Nya, terikat untuk senantiasa beribadah hanya kepada-Nya tabäraka wa ta’älä:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (kewajiban bertauhid: beribadah hanya kepada Allah semata)”. [QS. Al-A’räf: 172]

Ya, inilah tugas dan tujuan hidup kita sesungguhnya. Tujuan kita dilahirkan ke muka bumi; Beribadah hanya kepada Alläh, mengimani segala yang dikabarkan-Nya melalui lisan Nabi-Nya yang mulia, melaksanakan setiap titah dan aturan-Nya, menjauhi segenap larangan-Nya. Serong dari tujuan sejati tersebut, berarti serong dari tujuan penciptaan. Melenceng darinya, berarti melenceng dari tujuan kita dilahirkan ke muka bumi.

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah (hanya) kepada-Ku semata.” [QS. Adz-Dzäriyät: 56]

Inilah fitrah yang telah Alläh sematkan dalam sanubari kita, jauh sebelum kita terlahir. Fitrah yang memastikan bahwa sejatinya kita semua—tanpa terkecuali—adalah muslim bertauhid. Di antara kita, ada yang kemudian konsisten merengkuh erat fitrah tersebut, ada juga yang menghilangkannya lantas tak mampu menemukan fitrah itu kembali (baca: murtad). Ada lagi yang kehilangan fitrah tersebut sejak buaian hingga dewasa, namun akhirnya ia bisa menemukannya kembali, dan Jubair bin Muth’im, adalah salah satu di antara mereka. Lantas, di manakah posisi kita? Semoga Alläh mengekalkan bersemayamnya fitrah tersebut di hati kita sampai ruh ini berpisah raga.

***

Lombok, Ma’had Tercinta, 26052016

Abu Ziyän Johan Saputra Halim

(Page: fb.com/kristaliman Channel: telegram.me/kristaliman)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: