Tinggalkan komentar

Jihad Ala Takfiri Vs. Seruan al-Qur’an

Kaum Takfiriyyün yang gemar mengkafirkan pemerintah-pemerintah muslim tanpa bukti yang kokoh meyakinkan dan jauh dari kesamaran, sering kali menjadikan sikap-sikap sebagian pemerintah muslim yang melakukan kerjasama dengan negara-negara kafir sebagai dalih untuk mengkafirkan atau menghalalkan pemberontakan terhadap mereka.

Ada anggapan keliru—lebih tepatnya “syuhbat”—yang mendasari sikap aneh kaum takfiriyyün ini. Di mata mereka, masalah Islam dan tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia saat ini hanya bisa diselesaikan dengan jihad dalam arti peperangan. Saat ini adalah masa-masa perang karena itulah satu-satunya solusi menurut mereka. Sehingga pemerintah muslim yang bermuamalah dengan orang-orang kafir di saat-saat perang seperti ini, adalah pemerintah kafir. Karena bagi mereka, itu sama saja dengan ber-wala’ kepada orang-orang kafir dalam rangka memerangi kaum muslimin, dan itu termasuk kufur akbar (tawalli) yang menyebabkan kemurtadan. Jika telah murtad, maka halal darahnya. Demikianlah kesimpulan sederhana seperempat matang dari mereka[1].

Kita kembali pada pokok bahasan syubhat takfiry yang menganggap tiada hari di saat-saat seperti sekarang ini kecuali hari untuk berperang. Dalam kamus jihad mereka, tidak akan ditemukan istilah “masa reses” dari peperangan. Bom-bom bunuh diri dan serangan demi serangan yang mereka lakukan secara sporadis, adalah indikasi kuat bahwa di benak mereka saat ini, hanya ada perang yang mereka sebut—secara zalim—sebagai jihad. Padahal Islam—dalam kondisi tertentu— mendorong terwujudnya perdamaian alias tidak melulu berperang, agar mesin-mesin dakwah para ulama bisa bekerja dengan baik untuk kemudian semakin mengokohkan bangunan Islam dan meninggikan kalimat Alläh dengan berbondong-bondongnya manusia masuk ke dalamnya secara kaffah.

Hal tersebut ditegaskan dalam firman Alläh ta’äla:

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. al-Anfäl: 61]

Tafsiran Ulama

Para ulama menafsirkan:

وإن مالوا إلى ترك الحرب ورغبوا في مسالمتكم فمِلْ إلى ذلك -أيها النبي- وفَوِّضْ أمرك إلى الله، وثق به. إنه هو السميع لأقوالهم، العليم بنيَّاتهم.

“Andai mereka (orang-orang kafir itu) condong untuk menghentikan peperangan, dan berharap untuk melakukan perdamaian dengan kalian, maka ikutlah engkau untuk condong wahai Nabi..! dalam mewujudkan perdamaian tersebut. Dan serahkanlah urusanmu pada Allah, yakinlah pada-Nya. Sungguh Dia Maha Mendengar ucapan-ucapan mereka, Maha Mengetahui niat dan maksud mereka.” [at-Tasïr al-Muyassar: 184]

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Si’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

أجبهم إلى ما طلبوا متوكلا على ربك، فإن في ذلك فوائد كثيرة.

منها: أن طلب العافية مطلوب كل وقت، فإذا كانوا هم المبتدئين في ذلك، كان أولى لإجابتهم.

ومنها: أن في ذلك إجماما لقواكم، واستعدادا منكم لقتالهم في وقت آخر، إن احتيج لذلك.

ومنها: أنكم إذا أصلحتم وأمن بعضكم بعضا، وتمكن كل من معرفة ما عليه الآخر، فإن الإسلام يعلو ولا يعلى عليه، فكل من له عقل وبصيرة إذا كان معه إنصاف فلا بد أن يؤثره على غيره من الأديان، لحسنه في أوامره ونواهيه، وحسنه في معاملته للخلق والعدل فيهم، وأنه لا جور فيه ولا ظلم بوجه، فحينئذ يكثر الراغبون فيه والمتبعون له،.فصار هذا السلم عونا للمسلمين على الكافرين،.ولا يخاف من السلم إلا خصلة واحدة، وهي أن يكون الكفار. قصدهم بذلك خدع المسلمين، وانتهاز الفرصة فيهم،.فأخبرهم الله أنه حسبهم وكافيهم خداعهم، وأن ذلك يعود عليهم ضرره

“Sambutlah ajakan mereka (untuk berdamai) dengan bertawakkal pada Rabbmu. Karena di situ ada banyak manfaat, di antaranya: (terwujudnya keselamatan) karena mengusahakan terwujudnya keselamatan merupakan perkara yang dituntut terwujud setiap saat. Manakala mereka lebih dulu mengajak untuk berdamai, maka lebih utama lagi (bagi kita) untuk menyambutnya.

Di antara manfaatnya juga; ajakan damai tersebut memberikan waktu rehat untuk menguatkan kalian, memberikan kalian persiapan untuk memerangi mereka di lain waktu, jika itu dibutuhkan.

Manfaat yang lain; bahwa jika kalian saling damai dan saling menjaga keamanan satu sama lain, dan memungkinkan bagi masing-masing untuk saling mengenal, maka Islam itu tinggi dan tidak ada yang melampaui martabatnya (sehingga menyambut perdamaian tersebut bukanlah suatu kehinaan, hal tersebut justru bisa menguntungkan Islam, dengan adanya pengaruh—berupa dakwah—kepada orang kafir-pent). Karena setiap orang yang memiliki kecerdasan dan pandangan yang adil lagi objektif, niscaya akan terpengaruh oleh agama lain (baca: Islam) dikarenakan kebaikan ajaran berupa perintah dan larangan yang ada dalam agama tersebut, juga disebabkan kebaikan agama tersebut dalam mengajarkan keadilan dan interaksi (yang baik) pada sesama makhluk, serta tidak adanya pada agama tersebut kesewenang-wenangan dan ketidakadilan sedikit pun. Akibatnya—pada saat tersebut—akan ada banyak yang tertarik, merasa empati, dan mengikuti ajaran Islam. Sehingga dengan demikian, justru perjanjian damai tersebut menjadi sebab pertolongan bagi kaum muslimin atas orang-orang kafir.

Tidak ada yang perlu dikuatirkan dengan ikatan perjanjian damai (dengan orang-orang kafir) kecuali satu hal, yaitu manakala mereka berniat menipu kaum muslimin dengan perjanjian damai tersebut, untuk menuai keuntungan darinya. Kalaupun demikian halnya, maka Alläh mengabarkan kepada mereka kaum muslimin bahwa Dia telah menjamin mereka dari tipu daya orang-orang kafir, dan bahwasanya tipu daya tersebut justru akan kembali menimpa mereka.” [Tafsïr as-Sa’di: 325]

Alhasil,

dalam kondisi tertentu—terlebih lagi di saat-saat kaum muslimin berada dalam titik nadir kelemahan di semua lini seperti sekarang ini—, menyambut ajakan damai, mengiyakan tawaran genjatan senjata, melakukan perundingan, atau menahan diri dari peperangan, adalah suatu hal yang didorong oleh syariat (berdasarkan ayat di atas). Sikap-sikap kaum ekstrimis yang menjadikan api peperangan senantiasa bergolak tanpa menimbang maslahat dan mafsadat, justru menunjukkan kedunguan mereka terhadap fiqih realita serta prioritas dalam perjuangan menolong agama Alläh.

Dari sudut pandang inilah, kita memaknai ungkapan al-Imam al-Albani rahimahulläh yang mengatakan:

اليوم لا جهاد في الأرض الإسلامية إطلاقا

“Pada saat ini, tidak ada jihad (yang syar’i) di bumi Islam secara mutlak…”

Maksud beliau bukan ingin meniadakan jihad mengangkat senjata. Bukan sama sekali. Maksud beliau, jika diserukan jihad saat seperti ini, maka yang ada justru mudarat bagi kaum muslimin, dan itu tentu bertentangan dengan tujuan syara’. Di mata beliau rahimahulläh, saat ini jihad yang harus kita tempuh adalah jihad dengan dakwah dan ilmu. Belum saatnya dengan mengangkat senjata (kecuali dalam rangka membela diri). Jihad dakwah dan ilmu tersebut, tidak lain demi menyiapkan keimanan kaum muslimin untuk menyongsong jihad yang syar’i.

Pada kesempatan lain, beliau rahimahulläh pernah berdialog dengan seorang penanya dari Aljazair via saluran telepon [Silsilah Huda wan Nür: 565, menit ke-7]:

السائل: إذا أُعلن الجهاد في الجزائر، هل يجب الجهاد كما هو الحال في أفغانستان؟

الشيخ: من الذي سيعلن الجهاد في الجزائر، القوي أم الضعيف؟!!

السائل: الضعيف.

الشيخ: إيه، و الضعيف يستطيع أن يجاهد؟!!

السائل: لا يستطيع.

الشيخ: سامحكم الله.السائل: اللهم آمين.

………

الشيخ: لماذا لم يقم الجهاد في مكة المكرمة في عهد النبوة والرسالة؟!

السائل: صحيح، هذا ما عندنا يا شيخ..

Penanya: “Jika diproklamirkan jihad di Aljazair, apakah jihad itu menjadi wajib sebagaimana di Afganistan?”

Asy-Syaikh: “Siapa yang akan memproklamirkan jihad di Aljazair? Yang memiliki kekuatan atau justru kelompok yang lemah?”

Penanya: “Kelompok yang lemah”.

Asy-Syaikh: “Kelompok yang lemah apakah mampu menegakkan jihad?”

Penanya: “Tidak mampu”

Asy-Syaikh: “(Kalau begitu—pent) semoga Alläh memberi udzur kepada kalian (untuk tidak mengangkat senjata—pent)”.

……

Asy-Syaikh: “Apa alasan jihad tidak ditegakkan di (periode) Makkah saat masa nubuwwah?” (alasannya; karena kaum muslimin ketika itu dalam keadaan lemah—pent)

Penanya: “Betul, inilah kondisi yang ada pada kami wahai Syaikh” (transkrip ini dinukil dari http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=33938)

Demikianlah. Semoga orang-orang berakal bisa mengambil pelajaran.

***

Lombok, 11 Ramadhan 1436 – 28062015
Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

 

Catatan Kaki:

[1] Maka tidak heran jika para ulama memvonis ISIS sebagai Khawarij sekalipun ISIS mengaku beda dengan Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar.

Perlu dicatat! Bahwa ciri khas Khawarij tidak sebatas pada akidah bathil mereka yang meyakini murtadnya pelaku dosa besar. Setiap kelompok yang gampang mengkafirkan orang-orang di luar kelompok mereka (khususnya penguasa) tanpa memperhatikan syurüth dan mawäni’ takfïr, lalu menindaklanjuti takfïr tersebut dengan aksi-aksi berdarah berupa pemberontakan dan pembunuhan tanpa menimbang maslahat dan mafsadat, juga digolongkan sebagai Khawarij oleh para ulama, sekalipun mereka tidak meyakini murtadnya pelaku dosa besar.

Dulu, ada sekte Khawarij pengikut Najdah bin ‘Amir al-Hanafi bernama an-Najdät yang tidak berpandangan kafirnya pelaku dosa besar seperti kebanyakan Khawarij lainnya. Namun para ulama tetap menggolongkan mereka sebagai Khawarij dikarenakan mereka mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham dan sejalan dengan mereka. [lih. At-Takfïr wa Dhowäbithuh Cet.-2, hal. 174, Prof. DR. Ibrahim ar-Ruhaili, baca: https://kristaliman.wordpress.com/2015/05/13/waspada-bahaya-isis-syiah/]

 

Tinggalkan komentar

Waspada Bahaya ISIS & Syi’ah

Saat ini dunia Islam tengah diterpa ujian teramat dahsyat dari dua kutub bencana yang berlawanan arah. Kutub bencana yang satu bernama Khawarij (yang kini menjelma dalam wujud kelompok ISIS), sementara kutub bencana yang lain bernama Syi’ah. Masing-masing kutub ini punya prinsip-prinsip kelompok yang jauh bertolak belakang satu sama lain. Namun keduanya bersepakat dalam satu hal. Apakah itu…?? Sebelumnya, mari sekilas mengenal siapa Khawarij dan siapa Syi’ah.

Siapakah Khawarij…??

Khawarij adalah kelompok pertama yang melakukan penyimpangan di tubuh Islam. Kata para ulama, kemunculan kelompok ini adalah salah satu bukti Nubuwwat Nabi kita yang mulia. Karena jauh-jauh hari beliau r telah mengabarkan bakal kemunculan mereka. Sabda beliau:

Artinya: “…(Khawarij adalah) suatu kaum yang rutin membaca al-Qur’an namun mereka tidak memahaminya (dengan pemahaman yang benar). Mereka melesat dari agama, sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya. Mereka membunuh orang-orang Islam, namun justru tidak memerangi orang-orang musyrik penyembah berhala.” [al-Bukhari: 3344, Muslim: 1064]

Khawarij terpecah menjadi sekian banyak sekte. Semuanya mengkafirkan pelaku dosa besar kecuali sekte an-Najdät, yaitu pengikut Najdah bin ‘Amir al-Hanafi [lih. At-Takfïr wa Dhowäbithuh Cet.-2, hal. 174, Prof. DR. Ibrahim ar-Ruhaili].

Kendati demikian, sekte an-Najdät ini tetap dikelompokkan sebagai Khawarij oleh para ulama karena mereka mengkafirkan orang-orang di luar kelompok mereka. Prinsip yang sama dianut oleh ISIS saat ini, sekalipun mereka mengaku tidak mengkafirkan pelaku dosa besar, namun pengkafiran mereka terhadap kaum muslimin di luar kelompok mereka, menjadikan ISIS ini sama dengan Khawarij di mata para ulama.

Ciri khas Khawarij secara umum dari masa ke masa adalah pengkafiran mereka pada para penguasa yang dianggap tidak berhukum dengan hukum Allah. Dari sini, mereka menghalalkan pemberontakan, menyulut api fintah, mengacaukan keamanan, dan menumpahkan darah tanpa hak. Merekalah yang telah membunuh ‘Utsman bin ‘Affän radhiallahu’anhu. Mereka pula yang telah merusak stabilitas keamanan di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu. Dan, adalah gembong Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljim pula yang telah membunuh Ali bin Abi Thalib radhaillahu’anhu, Ahli Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sepupu sekaligus menantu beliau tercinta.

Siapakah Syi’ah…??

Jauh bertolak belakang dengan Khawarij yang membenci dan bahkan mengkafirkan Ahli Bait (Ali bin Abi Thälib), kaum Syi’ah justru memuja Ahli Bait Nabi sampai ke titik melampaui batas yang diharamkan. Bagi Syi’ah, Ahli Bait Nabi dari Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah pemegang “wasiat rahasia” bahwa merekalah satu-satunya yang berhak atas Imämiyyah (kepemimpinan sepeninggal Rasululläh shallallahu ‘alaihi wasallam). Atas dasar itu, mereka mengkafirkan 3 khalifah yang telah dijamin surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khattab, dan Utsman bin Affan radhiallahu’anhum karena dianggap telah merampas kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pemujaan kaum Syi’ah kepada Imam-Imam mereka bahkan sudah sampai ke derajat kekufuran. Mereka memposisikan Imam-Imam mereka melebihi kedudukan para Nabi. Dakwaan yang batil ini termaktub dalam kitab-kitab Syi’ah sendiri, di antaranya dalam Ushül al-Käfi (1/175) karya al-Kulaini. Tokoh besar Syi’ah yang bernama Ni’matulläh al-Jazäiry sampai terang-terangan berkata:

الإِمَامَةُ العَامَّةُ الَّتِي هِيَ فَوقَ دَرَجَةِ النُّبُوَّةَ وَالرِّسَالَةِ

“Keimaman (Syi’ah) yang meliputi seluruh (umat), melampaui derajat Nubuwwah dan Risalah Kerasulan…” [dinukil dari Ushül Madzhab asy-Syi’ah: 2/656, DR. Näshir al-Qifäry]

Celakanya lagi, Syi’ah menerapkan pengkafiran kepada muslimin yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka tentang Imämiyyah ini. Al-Khomeini (tokoh Syi’ah & Revolusi Iran) berkata dalam kitabnya al-Arba’uuna Hadiitsan (hal: 510):
“Keimanan tidak bisa dicapai kecuali dengan perantaraan Imämiyyah Ali dan para pewarisnya–alaihim assalam–yang terpelihara dari kesalahan lagi suci. Bahkan… (lanjut al-Khomeini), keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya tidak diterima kalau tidak mengimani Imämiyyah (ini)”.

Pada kesempatan lain, Al-Khomeini berkata:
(Mengimani) Imämiyyah ahli bait–alaihim ussalam–merupakan syarat diterimanya amal di sisi Allah, bahkan ia adalah syarat diterimanya iman kepada Allah dan Nabi yang mulia.”

Lihatlah…!! Tokoh Syi’ah ini menjadikan keimanan pada Imämiyyah ahli bait lebih tinggi dibanding keimanan pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka telah menjadikannya sebagai rukun iman yang pertama. Sementara iman kepada Allah & Rasul-Nya, mereka gusur ke urutan bawah.

Lihatlah…!! Syi’ah mengkafirkan kaum muslimin di luar kelompok mereka. Bahkan pengkafiran mereka lebih parah daripada pengkafiran ISIS. Padahal konsep takfir model ISIS parahnya sudah bukan kepalang.

Al-Majlisi, salah seorang ulama rujukan Syi’ah, berkata dalam kitabnya, Bihaarul Anwaar (23/390):
Asy-Syaikh al-Mufiid dalam kitab al-Masaa-il mengatakan: “Syi’ah Imamiyyah telah sepakat bahwa siapa saja yang mengingkari keIMAMan satu orang saja dari Imam-Imam (Syi’ah) dan menentang apa yang telah diwajibkan oleh Allah ta’ala berupa ketaatan pada Imam (Syi’ah) tersebut, maka dia kafir lagi sesat, lagi berhak kekal di neraka.”

Setelah Syi’ah melakukan pengkafiran, mereka pun menghalalkan darah kaum muslimin yang telah mereka kafirkan. Menurut satu riwayat—dusta—Syi’ah yang mereka anggap sebagai kebenaran, disebutkan bahwa Abu ‘Abdillah Ja’far ash-Shädiq (Imam ke-6 Syi’ah Imämiyyah) pernah di tanya: “Bagaimana pendapatmu tentang pembunuhan terhadap Näshib (non-Syi’ah)…? Ja’far menjawab:

“Darahnya halal…!! (alias boleh dibunuh). Namun aku kuatir atas keselamatanmu (jika engkau membunuh seorang Näshib). Jika memungkinkan, engkau tindih saja ia dengan tembok, atau engkau tenggelamkan dalam air. Selama engkau tidak ketahuan, maka bunuh saja…!!”. Kemudian Ja’far ash-Shädiq ditanya lagi: “Bagaimana dengan harta-hartanya..??”. Ja’far menjawab: “Ambil apa yang bisa kau ambil…!!” [lihat ‘Ilal asy-Syaröi’ hal. 326]

Lihatlah betapa radikalnya pengkafiran dalam agama Syi’ah. Siapa saja yang tidak mengakui Imam-Imam khayalan mereka yang dianggap ma’shum, maka statusnya menjadi kafir, sesat, dan halal darahnya, na’üdzubilläh. Ini berarti, kaum sunni ahlussunnah wal jama’ah alias mayoritas muslimin Indonesia (bahkan dunia) adalah orang-orang kafir dan halal untuk dibunuh menurut prinsip Aqidah Syi’ah. Jika ini bukan radikalisme, maka kita tidak tahu harus kemana lagi mencari definisi “radikalisme” yang benar.

Kesimpulan…

Gambaran singkat tentang Khawarij (ISIS) dan Syi’ah di atas, tentunya melahirkan kesimpulan sekaligus jawaban atas pertanyaan di awal tulisan. Bahwasanya baik Khawarij (ISIS) maupun Syi’ah, keduanya sama-sama berpaham radikal dan mengusung teror sebagai buah dari ideologi takfir (pengkafiran) mereka terhadap muslimin ahlussunnah wal jama’ah.

Inilah sisi kemiripan antara Khawarij dan Syi’ah, di mana aksi-aksi kedua kelompok ini  selalu terekam oleh sejarah. Dan hari ini, kita menyaksikan sejarah itu terulang kembali. Saat ISIS yang berhaluan Khawarij muncul di Irak dan Syam dengan aksi-aksi terornya terhadap negeri-negeri kaum muslimin, dan milisi Houtsi beraliran Syi’ah yang berusaha merebut Yaman dari pangkuan Islam melalui aksi pemberontakan berdarah mereka.

Demikian pula dengan rezim Bassar Asad (beraliran Syi’ah Nushairiyyah) yang membantai rakyatnya yang mayoritas Sunni, lagi-lagi dengan bantuan militer Syi’ah dari Iran-Lebanon dan sokongan komunis Rusia.

***

Artikel Buletin al-Hujjah:
alhujjah.com

Penyusun:
Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)-semoga Allah memaafkannya-

Facebook: fb.com/jo.saputra.halim
Twitter: @jsaputrahalim
Page: fb.com/kristaliman

Tinggalkan komentar

Surat Cinta Ustadz BNPT Abdurrahman Ayub: “SUARA HATIKU UNTUK SAUDARA-SAUDARAKU ASWAJA”

Berikut untaian kata-kata terakhir yang disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman Ayyub (mantan petinggi Jama’ah Islamiyyah, sekarang di BNPT)

💥SUARA HATIKU UNTUK SAUDARA-SAUDARAKU ASWAJA

Bismillah
SUARA HATIKU UNTUK SAUDARA-SAUDARAKU ASWAJA

Aku pernah bersama para Kiyayimu,
Aku terlahir dari kalangan Nu
Aku besar juga dikalangan Nu.

Namun aku pernah tersesat jauh kelembah takfiri jihadis.
Ketika aku dalam selimut gelapnya takfiri…..
NU adalah musuhku
Muhamadiyah adalah  musuhku…
Salafi adalah musuh besarku……
NKRI adalah musuhku…..

Alhamdulillah….embun hidayah…telah memadamkan
api takfiri di dadaku….
Cahaya sunnah….telah menerangi gelapnya syubhat jihadis di rongga di hatiku.

Jalan yang terbentang di hadapanku kini …..adalah jalannya ulama kita yang terdahulu.
Orang terdahulu dalam Islam,….
Nabi shalallah ‘alaihi wasalam dan Sahabat, serta tabi’in juga tabiu’ttabi’in serta imam ahlu sunnah yang kita kenal.

Cahaya sunnah lambat laun menerangi langkahku….jubah salafiyah yang kini ku kenakan bukan produk IbnuTaimiyah…..
Bukan hasil karya Ibnu Qoyyim, atau Muhammad bin Abdul Wahhab yang kamu sangka……..
Jangan kita kawatir dengan dakwah salafi.
Jangan kawatair dengan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, yang dijuluki oleh Inggris sebagai Wahabi.

Mereka adalah penyambung lidah dari lisan yang mulia Nabi kita shalallah ‘alaihi wasalam lisan Sahabat Nabi kita, pengikut sahabat dan siapa saja yang berusaha mencontohnya….

Seandainya mereka tidak mauludan, tidak tahlilan, tidak ….tidak yang lainnya….bukan berarti mereka mengibarkan bendera perang….dengan saudara ASWAJA.

Aku di Salafi merasakan banyak persamaan ketika di NU….
Kita sama-sama cinta Allah….
Kita sama-sama cinta Nabi
Kita sama-sama  cinta Sahabat
Kita sama-sama cinta Ahlul Bait
Kita sama-sama cinta Tabi”in.
Kita sama-sama cinta Tabu’ttabiin.
Kita sama-sama cinta Imam Madzhab
Kita sama-sama cinta Sunnah.
Kita sama-sama cinta Dakwah.
Kita sama-sama tidak mengkafirkan NKRI.
Kita sama-sama tidak mengkafirkan
Para Pemimpinnya yang muslim.
Kita sama-sama tidak mengkafirkan
Ahlu kiblat.
Kita sama-sama tidak mengkafirkan
Orang yg jahil.
Kita sama-sama tidak berontak terhadap NKRI.
Kita sama-sama tidak merongrong kedaulatan NKRI.
Kita sama-sama tidak menyetujui segala jenis teror atas nama agama.
Dan masih banyak lagi kesamaan yang ada.
Bahkan Dakwah Salafi yang ku kenal penuh hikmah, lemah lembut dan sunnah.
Bahkan Dakwah Salafi yang ku kenal mengharamkan demo.
Bahkan Dakwah Salafi yang ku kenal tidak mengenal hizbiyyah kebanggaan kelompok.
Bahkan Dakwah Salafi yang ku kenal berbaur dalam kehidupan bukan ekslusif.
Bahkan Dakwah Salafi yang ku kenal menganggap semua kaum muslim bersaudara sesui kadar keimanan dan sejauh mana kefahaman dengan sunnah.

Dan aku baru meneguk setetes kebaikan dari sumber mata air yang begitu jernih dan dari samudra dakwah Salafiyah yang begitu luas.

Allahumma Ya Allah satukan hati kami sebagaimana Engkau telah menyatukan kaum Muhajirin dan Anshor.
Wallahu’alam.
(Hasil dari acara SILATURAHMI NASIONAL, TENTANG PENGUATAN ASWAJA, DAN PENANGGULANGAN TERORISME, DALAM KETAHANAN NASIONAL).
Undangan KH.Hasyim Muzadi di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok, dihadiri para ulama se-Indonesia, sabang sampai meroke.Qoddarallah.saya diminta sebagai nara sumber ke dua dlm acara tersebut.)
Allahumma Ya Allah jagalah keikhlasan hati kami.
Wallahu’alam

***
Surabaya.
Abdurrahman Ayyub

Copas dari postingan
Ust. M. Firman Ardiansyah, Lc.
di salah satu grup WA.

Tinggalkan komentar

Ramadhan, Sabar & Syukur

Hidup setiap insan yang beriman, sejatinya berkisar pada dua kondisi; sabar dan syukur. Karena kehidupan segenap manusia, pada hakikatnya juga berkisar antara dua keadaan; antara cobaan dan nikmat, antara sempit dan lapang, silih berganti antara suka dan duka, antara tangis dan tawa, antara bahagia dan lara.
Hidup kita berkisar antara nikmat yang butuh untuk disyukuri, serta cobaan dan kesedihan yang perlu dihadapi dengan sabar.

Bahkan, keduanya tidak jarang harus bertukar posisi agar jiwa mencapai paripurna. Karena nikmat pun, butuh kesabaran. Sebagaimana cobaan, juga butuh untuk disyukuri. Tak ada cobaan yang sempurna menjelma duka, sebagaimana tak ada nikmat yang benar-benar utuh membawa bahagia. Boleh jadi cobaan adalah kenikmatan di penghujung jalan. Tidak juga mustahil, kenikmatan adalah bencana di akhir cerita.

Yang kita butuhkan hanyalah menjadikan kedua kondisi tersebut mengguyurkan keberkahan dan kebaikan bagi kita. Dan itu, hanya ada pada mereka, orang-orang mukmin:

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

“Orang-orang mukmin sungguh menakjubkan. Apapun kondisi mereka, mereka selalu dalam kebaikan. Dan (kondisi) yang demikian hanya ada pada orang mukmin saja. Saat mendapat nikmat, dia bersyukur, dan itu baik buat dia. Ketika musibah menimpanya, dia pun bersabar, dan itu baik baginya”. [Shahih Muslim:  2999]

***

Ramadhan membawa pesan-pesan kesabaran. Sementara petuah-petuah tentang syukur, dengan setia mengiringi. Di siang hari saat berpuasa, jiwa bersabar dalam lapar dan dahaga. Saat adzan Maghrib berkumandang, ada rasa syukur yang harus dilangitkan, tuk mentahbiskan nikmat berbuka. Saat malam semakin larut, jiwa kembali harus bersabar dalam tilawah dan qiyam. Saat badan direbahkan dipembaringan, ada nikmat yang harus dibalut dengan syukur. Demikian seterusnya. Pesan Ramadhan tentang sabar dan syukur, silih berganti melatih jiwa.

***

Tujuannya…, agar kita terlahir kembali menjadi insan yang meraih kemenangan sejati. Dan itu, hanya untuk mereka yang bersabar di atas taqwa:

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” [QS. al-Mu’min: 111]

Tujuannya…, agar nikmat Allah sudi menyapa dan bertambah. Dan itu, hanya bagi mereka yang bersyukur:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. [QS. Ibrahim: 7]

Tujuannya…, agar kita bisa mengambil ibroh (pelajaran) dari pesan-pesan ilahi dalam setiap ketentuan-Nya. Karena hal itu, hanya mungkin diraih oleh mereka yang banyak bersabar dan bersyukur:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat Allah (pelajaran) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” [QS. Ibrahim: 5]

***

Maka segala puji bagi Allah, yang telah berkenan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan; madrasah sabar dan syukur. Sabar dalam 3 bentuknya; sabar di atas ketaatan, sabar dalam menghadapi cobaan, dan sabar menjauhi maksiat. Juga syukur dengan 3 tingkatannya; pengakuan hati akan nikmat Allah, memuji Allah dan berterimakasih kepada-Nya dengan lisan, serta menggunakan nikmat Allah untuk ketaatan.

Semoga Allah mempertemukan kita kembali-sebanyak mungkin-dengan Ramadhan di atas ketaatan demi ketaatan. Dan semoga Allah berkenan menutup catatan amal Ramadhan kita tahun ini dengan ampunan dan ridha-Nya.

***

Ma’had tercinta, 27 Ramadhan 1437 (2016)

Abu Ziyan Jo Saputra Halim
Page: fb.com/kristaliman

Channel: telegram.me/kristaliman

Tinggalkan komentar

Fiqih Praktis: Zakat Fitrah

Apa Itu Zakat Fitrah?

Ibnu ‘Umar radhiallähu’anhuma mengatakan:

فَرَضَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأْنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْل خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasülulläh r telah mewajibkan zakat fitrah berupa 1 sha’ kurma atau 1 sha’ gandum baik atas hamba sahaya maupun orang merdeka, baik laki-laki maupun wanita, baik anak kecil atau dewasa dari kalangan muslimin. Beliau memerintahkannya ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk shalat (‘ied).” [al-Bukhäri: 1503, Muslim: 984]

Dalam riwayat Abu Sa’ïd al-Khudri radhiallähu’anhu [al-Bukhari: 1506], zakat fitrah tersebut bisa berupa tho’äm (makanan), Aqith (susu yang dikeringkan), atau zabïb (kismis). Semuanya masing-masing seukuran 1 sha’.

Satu (1) sha’ sama dengan 4 mud. Satu mud setakar dengan cidukan kedua telapak tangan orang dewasa. Para ulama menegaskan bahwa jenis-jenis makanan yang disebutkan dalam hadits-hadits tentang zakat fitrah, sebenarnya mengacu pada makanan pokok di suatu wilayah. Sehingga untuk daerah lain, penunaiannya bisa diganti dengan beras. Adapun takaran 1 sha’ dalam hadits di atas kurang lebih sama dengan 3 kg. [Majallah al-Buhüts al-Islämiyyah: 17/79-80]

Apa Hukumnya?

Hukum menunaikannya adalah wajib bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan. Kemampuan yang dimaksud adalah jika seseorang memiliki kelebihan makanan pokok bagi diri dan keluarganya di malam dan di hari raya. Dasarnya adalah berikut ini:

من سأل وعنده ما يُغنيه، فإِنّما يستكثر من النّار، فقالوا: يا رسول الله وما يُغنيه؟ قال: قدْر ما يغدّيه ويعشّيه

“Barangsiapa meminta-minta padahal dia memiliki kecukupan, maka pada hakikatnya dia tengah meminta tambahan api neraka. Sahabat bertanya: “Wahai Rasülulläh, apa standar kecukupan tersebut?”. Beliau menjawab: “jika ia sudah punya makanan pokok untuk sehari-semalam.” [Shahïh at-Targhïb wat-Tarhïb: 796]

Zakat fitrah juga diwajibkan atas tanggungan. Misalkan bagi seorang kepala keluarga; maka dia menunaikan zakat fitrah atas dirinya, juga atas semua anggota keluarga yang menjadi tanggungannya masing-masing, termasuk pembantunya. [Al-Mausü’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah: 3/162]

Namun perlu diperhatikan satu hal, bahwa zakat fitrah sejatinya terkait dengan setiap jiwa. Oleh karena itu, seorang bapak sebenarnya tidak wajib menunaikan zakat fitrah untuk anaknya jika si anak memiliki kemampuan. Dalam kondisi demikian, si anaklah yang wajib menanggung zakat fitrah untuk dirinya. [lih. al-Majmü’: 6/108, an-Nawawi]

Apa Hikmahnya?

Ibnu ‘Abas radhiallähu’anhum berkata tentang hikmah disyari’atkannya zakat fitrah:

فرض رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – زكاة الفطر طُهْرةً للصائم، من اللغو والرَّفَث، وطُعْمةً للمساكين، مَن أدّاها قبل الصلاة؛ فهي زكاة مقبولة، ومن أداها بعد الصلاة؛ فهي صدقة من  الصدقات

“Rasülulläh r mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan (jiwa) mereka yang berpuasa (dari perbuatan yang memusnahkan pahala puasa, seperti); ucapan sia-sia, ucapan jorok/porno, dan sebagai makanan bagi oran-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘ied maka zakatnya diterima. Dan siapa yang menunaikannya setelah shalat ‘ied, maka itu hanya terhitung sebagai sedekah biasa saja.” [Shahïh Sunan Abi Dawud: 1420]

Bolehkah Lebih Dari 3 kg Beras?

Ulama membolehkan penunaian zakat fitrah yang melebihi kadar ketentuan. Namun kelebihan tersebut bukan dianggap sebagai keharusan melainkan sebagai sedekah tambahan saja. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, termasuk Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahumulläh. Adapun jika kadarnya kurang dari ketentuan, maka ulama sepakat tidak membolehkannya. [Al-Mausü’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah: 3/164]

Bolehkah Menggantinya dengan Uang?

Al-Imäm an-Nawawi rahimahulläh berkata:

ولم يُجز عامّة الفقهاء إِخراج القيمة

“Mayoritas ahli fiqih tidak membolehkan zakat fitrah diganti dengan uang yang senilai.” [Syarh an-Nawawi: 7/60. al-Wajïz hal. 224, Syaikh ‘Abdul’azhim]

Dalam artian, penunaiannya harus dalam bentuk makanan pokok (misal: beras). Di zaman Nabi, mata uang sudah ada dan lumrah, namun beliau tidak memerintahkan penunaian zakat fitrah dengan uang, demikian juga para sahabat setelah beliau, selalu menunaikan zakat dengan makanan pokok. Karena memang, zakat fitrah adalah ibadah tersendiri yang berbeda dengan zakat mäl (harta). Masing-masing punya aturan sendiri-sendiri. [lih. Majallah al-Buhüts al-Islämiyyah: 17/79-80]

Kemudian jika kita menelaah lebih dalam lagi tentang hikmah zakat fitrah sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbäs di atas, maka akan tampak jelas bahwa zakat fitrah ditujukan untuk menutupi kebutuhan pokok orang-orang miskin dari sisi pangan. Itulah sebabnya mengapa Allah mewajibkannya dalam bentuk makanan pokok. Zakat fitrah terkait dengan badan, bukan harta. Sama dengan kafarat sumpah, kafarat haji, kafarat zhihär, kafarat jima’ di siang hari Ramadhän, semua itu terkait dengan badan, maka Allah-pun mensyari’atkannya dengan makanan. [lih. Al-Mausü’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah: 3/165]

Kapan Waktu Penunaiannya?

Waktu paling afdol mengeluarkan zakat fitrah adalah di pagi hari raya, sebelum orang-orang menuju tempat shalat ‘ied. Boleh juga sejak awal mewakilkan penunaian zakat kepada sebuah lembaga dengan syarat panitia atau lembaga tersebut akan menyalurkannya kepada yang berhak sehari atau dua hari sebelum ‘ied. Dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Umar disebutkan bahwa:

وكانوا يُعطَون قبل الفطر بيوم أو يومين

“Mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum ‘ied.” [al-Bukhäri: 1511]. Dalam riwayat Imam Mälik (1/55/285): “…atau 3 hari sebelum ‘ied”.

Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa zakat fitrah yang dikeluarkan (langsung kepada fakir miskin) seminggu sebelum ‘ied, maka zakat tersebut tidak sah dan harus dikeluarkan ulang. [Isläm Su-äl wa Jawäb no. 81164]

Bagaimana Jika Tidak Dikeluarkan pada Waktunya?

Zakat fitrah wajib ditunaikan sebelum shalat ‘ied. Namun jika seseorang—karena adanya uzur—terlewatkan menunaikannya, maka kewajiban tersebut tidak otomatis gugur. Dia tetap wajib menunaikan zakat tersebut setelah ‘ied. Karena sebuah kewajiban yang terhalang akibat adanya uzur, maka wajib ditunaikan setelah uzur itu hilang. Demikian fatwa Imam Ibnul ‘Utsaimïn rahimahulläh [Majmü’ Fatäwa Ibn. ‘Utsaimïn: 20/271]

Diberikan Untuk Siapa?

Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbäs yang menyebutkan bahwa zakat fitrah adalah “Thu’matan lil-masäkïn” (makanan bagi orang-orang miskin), maka banyak ulama menegaskan bahwa zakat fitrah hanya boleh disalurkan kepada orang miskin. Ibnul Qayyim rahimahulläh berkata:

وكان من هديه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تخصيص المساكين بهذه الصدقة

“Di antara petunjuk Rasülulläh r (dalam hal zakat fitrah) adalah; penyalurannya hanya terbatas pada orang-orang miskin saja”. [lih. Tamämul Minnah hal. 387]

Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah; Ibnu Taimiyyah (Majmü al-Fatäwa: 25/73), dan as-Syaukäni (as-Sail al-Jarrär: 2/86-87). Dan inilah pendapat yang benar karena lebih dekat kepada dalil. Atas dasar ini pula, maka zakat fitrah tidak boleh diuangkan untuk keperluan yang lain, termasuk untuk membangun masjid. Karena Allah peruntukkan zakat fitrah hanya untuk orang-orang miskin. Adapun untuk pembangunan masjid, masih banyak potensi lain yang bisa diupayakan untuk menopangnya, seperti; wakaf tunai.

Jika di suatu daerah tidak ada orang miskin, maka zakat fitrah boleh diserahkan dalam bentuk uang kepada lembaga yang akan menyalurkannya dalam bentuk makanan pokok bagi orang-orang miskin di tempat lain pada waktunya. [al-Fatäwa al-Jibriniyyah, hal. 33, Isläm Su-äl wa Jawäb no. 10526]

Bolehkah Diberikan Kepada Orang Kafir?

Sedekah yang sifatnya wajib seperti zakat, tidak boleh diserahkan kepada non-muslim sekalipun ia miskin. Namun boleh memberi mereka sedekah yang sifatnya tidak wajib. Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri rahimahulläh bahwa beliau berkata:

ليس لأهل الذمّة في شيء من الواجب حقّ، ولكن إِنْ شاء الرجل تصدَّق عليهم من غير ذلك

“Tidak ada hak bagi kafir dzimmi untuk memperoleh sedekah yang wajib (termasuk zakat fitrah), namun jika seseorang berkeinginan, dia bisa bersedekah kepada kafir dzimmi tersebut dari sedekah lain (yang tidak wajib).” [lih. Al-Mausü’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah: 3/170]

***

Lombok, 15 Ramadhan 1437 | 21062016
Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Page: fb.com/kristaliman
Channel: telegram.me/kristaliman

Tinggalkan komentar

BORN TO PRAY: TUJUAN HIDUP KITA

Untuk apa keberadaan kita di muka bumi ini? Kita tidak pernah memilih untuk hidup di muka bumi, lantas kenapa kita tiba-tiba terlahir dan tumbuh-berkembang di muka bumi? Kita tidak pernah memilih untuk menjadi seorang laki-laki atau wanita. Kita tidak pernah memilih untuk tinggal di tempat kita menetap saat ini. Bahkan kita tidak pernah memilih untuk terlahir dari rahim ibunda kita saat ini. Lantas kenapa dan untuk maksud apa? Dan untuk apa semua yang ada ini…??

Sekarang, coba terawang sekelilingmu wahai sobat. Adakah yang terlihat olehmu tercipta tanpa maksud dan tujuan? Pesawat, perahu layar, mobil, dan gerobak dorong; dibuat untuk maksud dan tujuan yang jelas. Demikian halnya dengan lembaran-lembaran kertas di hadapan kita. Buku, alat tulis, tas, meja, kursi, sampai cangkir kopi yang kini tengah engkau nikmati kehangatannya; semuanya ada dan tercipta untuk menjalankan tugas serta tujuan penciptaannya masing-masing. Lantas, bagaimana dengan kita? Ya, kita! Makhluk super kompleks yang bernama manusia. Tentu mustahil kita ada dan tercipta tanpa tujuan penciptaan.

Dulu, saat kelamnya kabut ketidaktahuan tengah menyelimuti hati Jubair bin Muth’im, dia tak pernah tahu atas alasan apa ia berada dalam barisan tentara musyrikin di perang Badr ketika itu. Ia tak tahu apa tujuan langkah kakinya dan ayunan pedangnya melawan kaum mukminin saat itu. Jangankan itu, ia bahkan belum tahu untuk apa ia tercipta. Ia harus taat mengikuti petinggi kabilah dan kaumnya yang saat itu bersengketa dengan seorang laki-laki bernama Muhammad bin ‘Abdillah. Hanya itu pengetahuan yang ada dalam benaknya. Sampai ia menjadi salah satu di antara sekian tawanan musyrikin yang kalah dalam peperangan Badr tersebut. Sampai ia merasakan perlakuan yang sangat manusiawi dari orang-orang mukmin terhadap para tawanan perang. Sampai tiba waktu maghrib yang hening dan sendu, terdengar di telinga Jubair sayup-sayup merdu bacaan kalämulläh dari lisan Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memimpin shalat berjama’ah di masjid. Tentu, ia sangat paham makna bacaan-bacaan tersebut. Sampai ia mendengar Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam membaca:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ * أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ * أَمْ عِندَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa suatu apapun, atau apakah mereka yang telah menciptakan diri mereka sendiri? * Atau apakah mereka yang menciptakan langit demi langit dan bumi? Bahkan sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka ucapkan sendiri) * Atau apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu atau merekalah yang berkuasa?” [QS. Ath-Thür: 35-37]

Jubair bin Muth’im mengisahkan apa yang dirasa oleh sekujur hatinya ketika itu, sebagaimana termaktub dalam Shahïh al-Bukhäri (no. 4854):

كَادَ قَلْبِي أَنْ يَطِيرَ

“Hampir-hampir hatiku akan terbang melayang”

Demikianlah kisah Jubair bin Muth’im yang luluh lebur hatinya ketika mendengarkan al-Qur’än. Al-Qur’än yang kemudian mengantarkannya kepada cahaya hidayah Islam, yang mengantarkannya kepada pengenalan sejati tentang tujuan hidupnya. Bahwa ia tercipta tidak begitu saja, ia tercipta oleh Sang Pencipta, bahwa dirinya dan jiwanya ada pemiliknya, dan bahwa Sang Pemilik tersebut, adalah Sang Pencipta, yang pasti menciptakannya untuk suatu tujuan yang agung.

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)..??” [QS. Al-Qiyämah: 36]

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami..?” [QS. Al-Mu’minün: 115]

“Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam rangka main-main (tanpa ada arti, maksud dan tujuan).” [QS. Ad-Dukhän: 38]

Dahulu sebelum kita terlahir ke muka bumi, di sebuah fase alam sebelum alam dunia ini, kita pernah mengikrar janji pada Rabb kita Sang Pencipta. Bahwa Dialah Tuhan kita, dan kita adalah hamba-Nya. Kita mematri janji, bahwa kita akan senantiasa mengikat diri dengan aturan-aturan-Nya, terikat untuk senantiasa beribadah hanya kepada-Nya tabäraka wa ta’älä:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (kewajiban bertauhid: beribadah hanya kepada Allah semata)”. [QS. Al-A’räf: 172]

Ya, inilah tugas dan tujuan hidup kita sesungguhnya. Tujuan kita dilahirkan ke muka bumi; Beribadah hanya kepada Alläh, mengimani segala yang dikabarkan-Nya melalui lisan Nabi-Nya yang mulia, melaksanakan setiap titah dan aturan-Nya, menjauhi segenap larangan-Nya. Serong dari tujuan sejati tersebut, berarti serong dari tujuan penciptaan. Melenceng darinya, berarti melenceng dari tujuan kita dilahirkan ke muka bumi.

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah (hanya) kepada-Ku semata.” [QS. Adz-Dzäriyät: 56]

Inilah fitrah yang telah Alläh sematkan dalam sanubari kita, jauh sebelum kita terlahir. Fitrah yang memastikan bahwa sejatinya kita semua—tanpa terkecuali—adalah muslim bertauhid. Di antara kita, ada yang kemudian konsisten merengkuh erat fitrah tersebut, ada juga yang menghilangkannya lantas tak mampu menemukan fitrah itu kembali (baca: murtad). Ada lagi yang kehilangan fitrah tersebut sejak buaian hingga dewasa, namun akhirnya ia bisa menemukannya kembali, dan Jubair bin Muth’im, adalah salah satu di antara mereka. Lantas, di manakah posisi kita? Semoga Alläh mengekalkan bersemayamnya fitrah tersebut di hati kita sampai ruh ini berpisah raga.

***

Lombok, Ma’had Tercinta, 26052016

Abu Ziyän Johan Saputra Halim

(Page: fb.com/kristaliman Channel: telegram.me/kristaliman)

 

Tinggalkan komentar

Israiliyyat dalam Studi Tafsir

Dalam banyak literatur tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh para ulama terdahulu, tidak sedikit unsur Israiliyyat masuk tersisipkan. Sehingga secara tidak langsung juga ikut menjadi struktur atau fragmen dalam konstruksi pemahaman terhadap al-Qur’an. Belakangan, Israiliyyat—yang dimaknai sebagai riwayat-riwayat kisah tentang umat-umat terdahulu sebelum Islam dalam interaksi mereka dengan Nabi-Nabi utusan Alläh dan ajaran yang mereka bawa—terbukti banyak berseberangan dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam yang dibawa oleh Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam. Para peneliti riwayat kemudian bangkit melakukan penelitian atas keotentikan riwayat-riwayat Israiliyyat tersebut. Sampai tersimpulkanlah fakta ilmiah berdasarkan disiplin ilmu periwayatan bahwa banyak di antara Israiliyyat tersebut ternyata riwayat palsu yang disusupkan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Di sisi yang lain, Israiliyyat juga beberapa kali tersabdakan melalui lisan Rasululläh shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbimbing oleh wahyu ilahi dan terpelihara dari kekeliruan (ma’shüm), dan juga dari sahabat-sahabat Rasülulläh yang terpercaya. Ini berarti, tidak semua Israiliyyat bisa ditolak. Beberapa kisah umat terdahulu yang dibenarkan secara umum (mujmal) oleh al-Qur’an dan di-taqrïr oleh Sunnah, justru bisa menjadi pelengkap khasanah keilmuan yang membangun kebenaran penafsiran terhadap al-Qur’an itu sendiri.

Pengaruh al-Qur’an yang begitu kuat dan besar dalam andilnya merekonstruksi peradaban dunia Islam dari masa ke masa tentu saja tidak bisa lepas dari pengaruh yang akan dihasilkan oleh penafsiran terhadap al-Qur’an. Sementara keberadaan Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir para mufassir, tidak bisa dipungkiri telah—dan akan selalu—memberikan pengaruh bagi cara pandang dan pemahaman kita terhadap al-Qur’an yang menjadi sumber petunjuk bagi kehidupan. Penafsiran terhadap al-Qur’an yang keliru dan menyimpang sebagai imbas dari keberadaan Israiliyyat yang tidak selaras dengan spirit ajaran Islam—dan bahkan akal sehat—, tentu saja akan melahirkan efek negatif yang fatal dalam kehidupan. Sebaliknya, Israiliyyat yang shahih dan terlegitimasi oleh syari’at, akan semakin mendekatkan umat Islam kepada pemahaman yang benar dan penghayatan yang mendalam terhadap al-Qur’an. Dari sinilah kajian tentang Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir ini menjadi teramat urgen untuk dipaparkan serta dituliskan.

Etimologi Israiliyyat

Secara etimologi atau bahasa, “israiliyyat” adalah bentuk jamak (plural) dari kata “israiliyyah” yang merupakan nisbah yang kembali pada Bani Israil atau anak keturunan Israil. Sementara Israil sendiri, tidak lain adalah Ya’qub yang berarti hamba Allah. Dengan demikian, Bani Israil adalah anak-anak keturunan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam[1], putra Ishaq bin Ibrahim ‘alaihissalam.

Terminologi Israiliyyat

Adapun secara istilah, Israiliyyat menurut Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi adalah:

قصة أو حادثة تروى عن مصدر إسرائيلي

“Kisah atau kejadian yang diriwayatkan dari sumber Israiliy (Bani Israil)”[2]

Sementara itu, Dr. Sholah Abdul Fattah mendefiniskan sebagai berikut[3]:

مصطلح أطلقه المسلمون على الأخبار والأقوال والروايات المنسوبة لبنى إسرائيل فى تراثنا. وقد يتوسع مدلول المصطلح ليشمل ما ورد عن الهنود أو اليونانيين أو النصارى

“Israiliyyat adalah Istilah yang dimaksudkan oleh kaum muslimin sebagai kabar-kabar atau ungkapan-ungkapan atau riwayat-riwayat dari Bani Israil dalam khasanah keilmuan kita (Islam). Istilah Israiliyyat ini maknanya telah meluas, bahkan mencakup kisah-kisah atau riwayat-riwayat dari India, Yunani, atau kaum Nasrani.”

Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi juga mengungkapkan hal yang sama. Bahwa istilah Israiliyyat sudah meluas cakupannya, tidak hanya riwayat dari Yahudi (Bani Israil) saja. Belakangan, domain makna Israiliyyat meluas hingga mencakup riwayat-riwayat yang bersumber dari umat Nasrani. Bahkan perluasan makna Israiliyyat tidak berhenti sampai di situ. Riwayat-riwayat yang disusupkan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan non-Yahudi atau Nasrani ke dalam literatur-literatur tafsir dan hadits tanpa sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, juga dikategorikan sebagai Israiliyyat oleh sebagian pakar tafsir[4].

Di antara riwayat palsu yang menyusup ke dalam kitab-kitab tafsir dan kemudian disebut sebagai Israiliyyat adalah Qish-shatul Gharänïq. Sebuah kisah yang menyebutkan bahwa ketika Nabi membaca ayat:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى * وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Dan apakah patut bagi kalian (wahai orang-orang musyrik) menganggap Lata dan ‘Uzza. Dan Manat yang ketiga (sebagai anak perempuan Allah) ??”. [an-Najm: 19-20]

tiba-tiba syaithan merasuki Nabi lalu berhasil menjadikan Nabi mengucapkan ayat palsu berikut ini, persis setelah Nabi membaca dua ayat di atas:

تلك الغرانيق العلا * وأن شفاعتهن لترتجى

“Mereka itulah (Lata, ‘Uzza, dan Manat), al-Gharänïq yang punya kedudukan yang tinggi * Dan bahwa syafa’at mereka, benar-benar jadi harapan.” [ayat palsu]

Ibnu Katsir (wafat: 774-H) menukil kisah ini dalam kitab tafsirnya[5] lalu menyimpulkan bahwa kisah ini adalah kisah yang dusta karena sanad-nya tidak ada yang shahih. Demikian juga dengan al-Alusy (wafat: 1270-H) menukil[6] pendapat al-Imam Muhammad bin Ishaq, seorang pakar sirah nabawiyyah terkenal, bahwa riwayat al-Gharänïq tersebut adalah susupan orang-orang zindiq (yang memusuhi Islam).

Lantas kenapa riwayat-riwayat kisah yang tidak bersumber dari Bani Israil juga diistilahkan sebagai Israiliyyat oleh banyak ulama tafsir dan pakar sejarah riwayat? Menurut Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi, itu dikarenakan riwayat-riwayat khurafat dan tidak berdasar tersebut didominasi oleh riwayat-riwayat dari literatur Bani Israil[7].

Bagaimana Israiliyyat Masuk ke Dalam Kitab-Kitab Tafsir?

Jika menilik sejarah, masuknya riwayat-riwayat Israiliyyat tidak terlepas dari migrasi besar-besaran yang dilakukan oleh bangsa Yahudi akibat tekanan dari Tithus ar-Rümäniy pada tahun 70 masehi. Salah satu tujuan migrasi mereka adalah ke tanah Arab yang ketika itu berada dalam masa fatrah (vakumnya kenabian). Sejak itu terjadi infiltrasi budaya Yahudi ke bangsa Arab di era jahiliyyah, terutama budaya yang terkait erat dengan agama Yahudi dan kisah-kisah yang ada dalam ajaran agama mereka[8].

Pertemuan bangsa Arab dengan bangsa Yahudi ini, berikut interaksi budaya yang terjadi antara keduanya, menurut Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi, adalah indikasi kuat bagi sejarah awal masuknya Israiliyyat secara turun-temurun ke dalam khasanah keilmuan para cendikiawan muslim di kemudian hari[9].

Adanya tokoh-tokoh besar Yahudi yang memiliki pengetahuan mendalam tentang seluk-beluk ajaran Yahudi lantas memeluk Islam seperti; Abdullah bin Saläm (wafat: 43-H), Ka’ab al-Ahbär (wafat: 34-H) juga—menurut Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi—punya peranan yang besar dalam meriwayatkan Israiliyyat berdasarkan pengetahuan mereka sebagai pemuka agama Yahudi di masanya.

Masuknya Israiliyyat—khususnya riwayat-riwayat kisah yang bertentangan dengan Islam—juga tidak bisa dilepaskan dari niat buruk pihak-pihak yang dengki dan memusuhi Islam. Seperti kisah al-Gharänïq di atas, jelas disusupkan oleh para pendengki Islam yang ingin menjatuhkan kredibilitas kewahyuan yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun alhamdulillah, para ulama tafsir seperti Ibnu Katsïr (wafat: 774-H) dan al-Alüsy (wafat: 1270-H), dan mereka tidaklah menukil kisah tersebut melainkan untuk menjelaskan kepalsuannya.

Ibnu Khaldun (1332-1406), sejarawan Islam yang terkenal, menjelaskan bahwa kaum muslimin di awal-awal kemunculan Islam, kebanyakannya adalah orang-orang badui yang tidak mengenal baca-tulis (ummiyyah), rasa ingin tahu mereka tentang sebab-sebab penciptaan alam, kapan dimulai dan apa rahasia-rahasia yang terkandung dalam penciptaan alam itu, mereka tanyakan kepada rekan-rekan mereka yang dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang baru memeluk Islam. Mantan-mantan tokoh Yahudi dan Nasrani tersebut menjelaskan tentang berbagai ayat al-Quran itu dengan penafsiran berdasarkan latarbelakang mereka sebelum masuk Islam. Contohnya adalah Ka’ab al-Ahbär (wafat: 34-H), Abdullah bin Saläm (w. 43 H) dan Wahab bin Munabbih (34-110 H). Sejak itu, masuklah unsur Israiliyat dalam khazanah penafsiran Al-Quran[10].

Dari perspektif yang berbeda, indikasi adanya campur tangan Yahudi yang sangat mendengki dan memusuhi Islam dalam upaya mereka menanamkan keraguan terhadap Islam juga ditegaskan oleh al-Qur’an sendiri, yang menyebut mereka sebagai orang-orang yang paling keras permusuhan dan kebenciannya terhadap kaum muslimin. Sebagaimana firman Alläh:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

“Sungguh engkau akan dapati yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” [QS. Al-Mä-idah: 82]

Klasifikasi Israiliyyat

Muhammad bin Shälih al-‘Utsaimïn dalam bukunya Ushül fï at-Tafsïr[11] mengklasifikasikan Israiliyyat menjadi tiga kategori[12]:

Pertama: Israiliyyat yang benar dan dapat diterima sebagai sebuah kebenaran. Yaitu Israiliyyat yang dibenarkan atau dilegitimasi oleh al-Qur’an ataupun hadits-hadits Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih (otentik). Seorang muslim tidak diperkenankan untuk menolak Israiliyyat jenis ini.

Sebagai contoh, diriwayatkan dalam ash-Shahïhain bahwa seorang Rahib pernah menyatakan kepada Nabi bahwa dalam kitab suci mereka disebutkan bagaimana Allah—Yang Maha Besar—kelak akan menjadikan seluruh langit berada di jemari-Nya, dan menjadikan segenap makhluk berada di jemari-Nya yang lain, lantas Dia berfirman: “Akulah Sang Raja Diraja”. Mendengar hal itu, Nabi tertawa hingga tampak gigi geraham beliau karena untuk membenarkan apa yang diucapkan oleh Rahib tersebut, kemudian beliau membacakan firman Alläh:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka tidak mengagungkan Alläh dengan pengagungan yang layak, padahal kelak di hari kiamat, bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya, dan segenap langit dilipat dengan tangan kanan-Nya. Alläh Maha Suci dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka persekutukan.” [QS. Za-Zumar: 67][13]

Kedua: Israiliyyat yang batil, yaitu kisah atau riwayat yang diingkari dan didustakan oleh Islam. Israiliyyat model ini, wajib ditolak dan tidak boleh dijadikan sebagai sandaran.

Contohnya, dalam riwayat Jabir radhiallähu’anhu:

كَانَتِ اليَهُودُ تَقُولُ: إِذَا جَامَعَهَا مِنْ وَرَائِهَا جَاءَ الوَلَدُ أَحْوَلَ، فَنَزَلَتْ: {نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ} [البقرة: 223]

“Dulu orang-orang Yahudi mengatakan; ‘jika mereka menggauli istri dari posisi arah belakang, maka anak yang lahir akan juling matanya’, maka turunlah ayat: ‘Isteri-isteri kalian adalah ladang kalian. Datangi ladang kalian dari arah mana saja (asalkan bukan di dubur[14]).”[15]

Ketiga: Israiliyyat yang tidak dibenarkan, juga tidak diingkari oleh Islam, hanya didiamkan saja. Maka kita pun wajib untuk tawaqquf, tidak membenarkan dan tidak pula mendustakannya. Ini berdasarkan riwayat Abu Hurairah radhiallähu’anhu berikut ini:

كَانَ أَهْلُ الكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالعِبْرَانِيَّةِ، وَيُفَسِّرُونَهَا بِالعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: {آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا} [البقرة: 136]

“Orang-orang ahlul kitab (Yahudi) membaca Taurat dengan bahasa Ibrani, lantas mereka menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada orang-orang Islam. Maka Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jangan kalian percayai ahlul kitab, jangan juga kalian dustakan mereka, dan ucapkanlah (seperti dalam firman Alläh): ‘kami beriman pada Alläh dan pada apa yang diturunkan pada kami’ (al-Baqärah: 136).”[16]

Contoh kategori ini adalah Israiliyyat yang dibawakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, tentang kisah Sapi Bani Israil dalam Surat al-Baqarah (ayat 67-73).

Hukum Meriwayatkan Israiliyyat

Jika kita mengumpulkan riwayat terkait boleh tidaknya meriwayatkan, menyebarluaskan, atau berdalil dengan Israiliyyat, maka akan kita dapati ada dua kategori riwayat:

Pertama; yang mengandung pelarangan untuk meriwayatkan Israiliyyat. Salah satunya adalah kisah di mana ‘Umar bin al-Khattab radhiallähu’anhu suatu ketika pernah membawa kitab yang diperolehnya dari sebagian Ahlul Kitab. Lantas beliau membacanya di hadapan Nabi. Nabi pun marah karenanya lantas bersabda:

“Apa engkau ragu wahai putra al-Khattab? Demi Alläh yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku telah datang membawa keterangan yang putih lagi bersih. Jangan engkau bertanya kepada Ahlul Kitab, yang nantinya mereka akan mengabarkan kepadamu sesuatu yang hak lalu engkau dustakan, atau mereka mengabarkanmu suatu kebatilan namun justru engkau benarkan. Demi Alläh yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, andaikata Musa saat ini masih hidup, maka tidak ada pilihan baginya selain harus menjadi pengikutku.”[17]   

Di antara Sahabat Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang keras bertanya kepada Ahlul Kitab perihal agama adalah Ibnu ‘Abbäs radhiallähu’anhu, sepupu Rasülulläh. Alasan Ibnu ‘Abbäs adalah karena Alläh telah mengabarkan perihal Ahlul Kitab yang telah melakukan perubahan dan pendistorsian pada kitab suci mereka[18].

Kedua; yang mengisyaratkan pembolehan untuk meriwayatkan Israiliyyat. Di antaranya adalah sabda Nabi:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sampaikanlah dariku sekalipun hanya satu ayat. Kabarkanlah riwayat dari Bani Isräil dan tak perlu sungkan. Namun barangsiapa dengan sengaja berdusta mengatasnamakan aku, maka maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka.”[19]

Ibnu Hajar al-Asqaläni rahimahulläh (773-852 H) menukil penjelasan Imam Malik rahimahulläh (93-179 H) terkait sabda Nabi tersebut:

المراد جواز التحدث عنهم بما كان من أمر حسن، أما ما علم كذبه فلا

“Maksudnya adalah; boleh meriwayatkan dari mereka (Ahlul Kitab) sebatas perkara-perkara yang baik, adapun jika diketahui kedustaannya, maka tidak boleh.”[20]

Kompromi Antara Dua Kategori Tersebut

Dalam mengkompromikan dua riwayat yang seakan bertentangan di atas, pakar al-Qur’an, Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi mengemukakan bahwa riwayat yang menganjurkan untuk bertanya dan meriwayatkan Israiliyyat hanyalah terbatas pada riwayat yang benar atau dibenarkan oleh al-Qur’an dan Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam, atau riwayat yang tidak diketahui mengandung kedustaan dan bisa dijadikan ‘ibrah.

Sedangkan riwayat yang melarang, dimaksudkan pada riwayat Israiliyyat yang mengandung kedustaan, bertentangan dengan syari’at, atau riwayat yang tidak mungkin dibenarkan oleh akal sehat[21].

Israiliyyat di Mata Para Mufassir

Kitab-kitab tafsir yang ditulis semenjak era Ibnu Jarïr ath-Thabari rahimahulläh (310-H) boleh dibilang hampir tidak ada yang lepas dari Israiliyyat. Bahkan Ibnu Jarïr sendiri termasuk mufassir yang banyak meriwayatkan Israiliyyat dalam tafsirnya. Hanya saja beliau sengaja meriwayatkan Israiliyyat tersebut lengkap dengan sanad-sanadnya agar memudahkan ulama setelahnya untuk meneliti validitas setiap riwayat yang beliau bawakan[22]. Jadi sikap ilmiah yang ditempuh oleh Ibnu Jarïr sejatinya adalah warisan positif bagi perkembangan studi al-Qur’an muta-akhkhirïn.

Di antara mufassir ada yang banyak meriwayatkan Israiliyyat tanpa menyertakan sanad pada sebagian besar riwayatnya. Tafsir al-Kasyfu wa al-Bayän yang ditulis oleh Ats-Tsa’labi (w: 427-H) dan Ma’älim at-Tanzïl oleh al-Baghawi (w: 510-H) masuk dalam kategori ini. Bedanya, al-Baghawi lebih kritis dan hanya memasukkan yang dianggapnya sebagai Israiliyyat yang shahih[23].

Di antara mereka ada yang meriwayatkan banyak Israiliyyat namun disertai komentar terkait sanad dan matan riwayat Israiliyyat yang dibawakan. Terkadang juga dibawakan riwayat Israiliyyat untuk kemudian diingkari dan dibeberkan kedustaan riwayat tersebut. Tafsiïr al-Qur’än al-‘Azhïm karya al-Häfizh Ibnu Katsïr rahimahulläh (w: 774-H) termasuk dalam kategori ini[24].

Ada juga kalangan mufassir yang menolak keras periwayatan Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir sebagai bagian dari khasanah ilmu penafsiran. Di antara mereka adalah al-Alüsi (w: 1240-H) dalam tafsirnya Rühul Ma’äni, asy-Syaukani (w: 1250-H) dalam tafsirnya Fathul Qadïr. Kalaupun mereka meriwayatkan Israiliyyat, jumlahnya hanya sedikit dan biasanya diabwakan untuk dibantah. Ada juga yang secara total menolak Israiliyyat dan tidak meriwayatkannya dalam kitab tafsir, seperti Muhammad Rasyïd Ridha (1282-1354 H) dalam Tafsïr al-Manär[25].

Israiliyyat di Mata Orientalis

Abraham Geiger (1810-1874) dan William St. Clair Tisdall (1859-1828)[26] adalah dua tokoh sentral di kalangan orientalis yang sangat getol mengkritik al-Qur’an dari sisi Israiliyyat. Kritikan mereka termaktub dalam buku berjudul “The Origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s Holy Book” yang diedit oleh Ibnu Warräq[27], nama samaran dari seorang sekuler India, pendiri Institute for the Secularisation of Islamic Society (ISIS). Buku tersebut terdiri dari 4 bagian. Pada bagian ke-3, fokus kritikan buku tersebut adalah pada tuduhan bahwa pesan-pesan yang ada dalam al-Qur’an banyak sekali dipengaruhi oleh tradisi keagamaan dan kisah-kisah Yahudi, Nasrani, dan Zoroaster[28].

Tentu saja apa yang disimpulkan oleh para orientalis ini sangat jauh dari fakta dan kebenaran. Karena al-Qur’an yang dibawa oleh Rasul terakhir, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah risalah ilahi yang memang membenarkan apa-apa yang dibawa oleh Rasul-Rasul sebelumnya, dan sekaligus menyempurnakan ajaran yang mereka bawa. Justru kitab-kitab suci terdahululah yang telah mengalami distorsi sehingga isinya sarat akan kontradiksi. Maka kisah atau riwayat yang bertentangan dengan al-Qur’an, bisa dipastikan telah mengalami distorsi, dan kisah-kisah al-Qur’an yang bersesuaian dengan kitab-kitab suci terdahulu justru menjadi bukti akan kebenaran al-Qur’an.

Orientalis kondang Yahudi asal Hungaria, Goldziher, menuduh Ibnu ‘Abbäs radhiallähu’anhu—yang dijuluki Turjumänul Qur’an di kalangan Sahabat Nabi—banyak bertanya dan mengambil penafsirannya terhadap al-Qur’an dari seorang Ahli Kitab Yahudi bernama Abu al-Jald Ghailän bin Farwah al-Azdy[29]. Goldziher lantas memberikan contoh sebuah riwayat yang terdapat dalam Tafsïr ath-Thabari[30] yang menyebutkan bahwa Ibnu ‘Abbäs radhiallähu’anhu pernah menulis surat kepada Abu al-Jald Ghailän yang berisi pertanyaan makna kata “al-barq” dan “tho’äman” pada ayat:

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا

“Dialah Alläh yang memperlihatkan kepada kalian kilat (dari sela-sela awan), hingga kalian takut ia menyambar, dan kalian pun berharap (awan itu membawa air hujan).” [QS. Ar-Ra’d: 12]

Kritik Atas Tuduhan Goldziher

Namun setelah diteliti sanadnya, riwayat yang dicontohkan oleh Goldziher di atas ternyata munqathi’ (terputus, tidak bersambung sampai Ibnu ‘Abbäs). Karena dalam sanadnya terdapat sosok bernama Abu Jahdhom Müsa bin Sälim yang disebut meriwayatkan langsung dari Ibnu ‘Abbäs, namun faktanya dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Ibnu ‘Abbäs[31]. Ini kritik dari segi sanad terhadap Goldziher atas contoh yang dibawakannya.

Kalaupun kita menganggap riwayat tersebut shahïh, maka secara matan (redaksi) riwayat, kandungan riwayat yang dibawakan Goldziher sama sekali tidak memiliki substansi bahwa ajaran-ajaran pokok Islam bersumber dari Taurat. Karena apa yang ditanyakan oleh Ibnu ‘Abbäs tersebut tidak menyangkut hal-hal fundamental dalam agama semisal rukun iman. Pertanyaan Ibnu ‘Abbäs kepada Ahli Kitab dalam masalah ini, masuk dalam keumuman sabda Nabi (وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ) yang membolehkan periwayatan dari Bani Isräil pada perkara-perkara yang bersesuaian dengan Islam atau perkara yang tidak menentang ranah aqidah dan pengamalan Islam yang bersifat qaht’i[32].

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, bisa dipetik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Israiliyyat adalah riwayat atau kisah yang bersumber dari Bani Isräil baik Yahudi maupun Nasrani. Istilah Israiliyyat kemudian berkembang cakupan maknanya, sehingga digunakan juga pada riwayat-riwayat non-Bani Isräil dari kalangan ummat terdahulu yang masuk ke dalam khasanah ilmu periwayatan dalam Islam.
  2. Banyak riwayat Israiliyyat yang mengandung kedustaan, tidak jelas asal usulnya karena tidak bersanad, mengandung susupan asing, kisah khayal, khurafat, dan tertolak oleh akal sehat. Namun ada juga Israiliyyat yang benar dan dibenarkan oleh al-Qur’an dan al-Hadïts. Di sisi lain, ada jenis Israiliyyat yang tidak bisa dipastikan benar tidaknya.
  3. Israiliyyat yang dibenarkan oleh al-Qur’an dan al-Hadits yang shahïh wajib diterima dan diriwayatkan. Sedangkan Israiliyyat yang telah terbukti kedustaannya maka tidak boleh diriwayatkan kecuali dalam rangka untuk dijelaskan sisi kedustaannya. Adapun Israiliyyat yang tidak bisa dipastikan benar tidaknya, maka tidak boleh dipercaya juga tidak boleh didustakan. Namun boleh diriwayatkan sebagai tambahan ibroh dengan syarat ia tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadïts yang shahïh atau akal yang sehat.
  4. Keberadaan Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir yang bercampur antara yang shahih dan tidak, menjadi celah kaum orientalis yang membenci Islam untuk menanamkan keraguan akan sumber ajaran Islam. Namun itu sudah terbantahkan oleh para ulama.
  5. Terlalu bebas dalam meriwayatkan Israiliyyat tanpa batasan-batasan ilmiah yang jelas, bisa menghantarkan pada distorsi penafsiran terhadap al-Qur’an. Namun menolak Israiliyyat secara total tanpa mempertimbangkan sanad dan matan juga bisa menghantarkan pada penolakan atas apa yang dibenarkan oleh al-Qur’an dan al-Hadits yang shahïh.

***

والله أعلم بالصواب

Ditulis oleh:
Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

[1] Abu Syuhbah, Muhammad, Al-Israiliyyat wal Maudhu’at fii Kutubit Tafsir, hal. 12.

[2] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 13.

[3] Israiliyyat Mu’ashiroh.

[4] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 13.

[5] Ibnu Katsir, Tafsïr al-Quränil ‘Azhïm, juz 3, hal. 229, at-Tijariyyah.

[6] Tafsïr al-Alüsy, juz 17, hal. 160-161, al-Muniriyyah.

[7] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 14.

[8] Ali, Jawwad, Tärïkhul ‘Arob Qoblal Isläm, juz 6, hal. 24, via al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 15.

[9] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 16.

[10] Khaldün, Ibnu, Muqoddimatu Ibni Khaldün, hal. 490-491, Cet. Asy-Syarqiyyah. Via al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 25.

[11] Al-‘Utsaimïn, Muhammad Shälih, Ushül fï at-Tafsïr, hal. 53, al-Maktabah al-Islämiyyah, 2001.

[12] Ini juga yang dipaparkan oleh Ibnu Taimiyyah (w: 728-H) dalam Muqaddimah Ushül Tafsir-nya, hal. 26-27.

[13] Shahïh al-Bukhäri no. 4811, Shahïh Muslim no. 2786.

[14] Shahïh Muslim no. 1435.

[15] Shahïh al-Bukhäri no. 4528, Shahïh Muslim no. 1435.

[16] Shahïh al-Bukhäri no. 4485.

[17] Musnad al-Imäm Ahmad: 3/387.

[18] Shahïh al-Bukhäri: 3/181, Cet. Al-Khairiyyah.

[19] Shahïh al-Bukhäri: 4/170, no. 3461.

[20] Al-‘Asqaläni, Ibnu Hajar, Fathul Bäri: 6/575.

[21] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 49.

[22] Humaisah, Dr. Abdul Hamid, al-Israiliyyat wa Hukmu Riwäyatiha, https://saaid.net/Doat/hamesabadr/185.htm.

[23] Ibid.

[24] Ibid.

[25] Ibid.

[26] https://en.wikipedia.org

[27] https://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Warraq

[28] https://en.wikipedia.org/wiki/The_Origins_of_the_Koran:_Classic_Essays_on_Islam’s_Holy_Book

[29] Goldziher, al-Madzähib al-Islämiyyah fï Tafsïr al-Qur’än, hal. 65-67, terjemah Dr. Ali Hasan Abdulqadir, Cet. Al-‘Ulüm.

[30] Ath-Thabari, Ibnu Jarïr, Jämi’ul Bayän fï Tafsïr al-Qur’än, 13/82, Cet. Al-Amïriyyah.

[31] Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husein, al-Israiliyyat fil Kitab wal Hadits, hal. 64.

[32] Ibid.

Tinggalkan komentar

BEBERAPA PRINSIP MENDASAR dalam MENDAKWAHKAN TAUHID

Di antara problematika dakwah yang kerap kali menjadi perdebatan di kalangan aktivis dakwah adalah; masalah prioritas dalam dakwah dan bagaimana metode memulai dakwah [Majallah al-Buhüts al-‘Ilmiyyah: 43/229-234, al-Lajnah ad-Dä-imah][1]. Perdebatan dan silang pendapat pada ranah ini tentu saja sangat-sangat merugikan dan memalukan, sebab jauh sebelum terjadinya khilaf dalam masalah ini, di hadapan kita sudah ada al-Qur’an dan Sunnah yang telah jauh-jauh hari menggariskan jalan dakwah yang jelas dan gamblang dari para Nabi dan Rasul. Dan sudah semestinya kita bergandengan tangan bersama, bahu membahu dan saling sokong dalam meniti jalan tersebut.

Di saat para da’i ahlussunnah sepakat bahwa tauhid adalah prioritas dalam dakwah, yang pertama dan utama, muncul kembali silang pendapat terkait uslüb (cara) atau metode dalam mendakwahkan tauhid tersebut. Memang ada perkara-perkara yang bisa berbeda terkait uslüb mendakwahkan tauhid pada ranah ijtihädy seiring perbedaan keadaan objek dakwah dan ragam tingkatan maslahat di lapangan dakwah yang berbeda pula, tentunya selama uslüb tersebut tetap mengacu pada pemahaman yang benar terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Namun pada ranah prinsip-prinsip mendasar metode dakwah yang dilandasi oleh nash dan dicontohkan oleh para Imam ahlussunnah, setiap da’i haruslah menggambungkan dirinya dan menyamakan gerak langkah dakwahnya bersama para Imam dakwah ahlussunnah di atas prinsip-prinsip tersebut.

Berikut ini adalah beberapa prinsip mendasar terkait metode mendakwahkan tauhid agar menjadi pegangan ahlussunnah dalam berdakwah. Boleh dikata, prinsip-prinsip ini adalah derivasi (turunan) dari prinsip besar “tauhid sebagai prioritas utama dalam dakwah”.

Prinsip Pertama:

“Dakwah tauhid tidak boleh ditunda, tidak boleh dinomorduakan setelah dakwah yang lain, apalagi diakhirkan atau disembunyikan.”

Pada kisah Yusuf ‘alaihissalam yang dipaparkan oleh al-Qur’an, terdapat pelajaran berharga tentang urgensi dakwah tauhid sekaligus penyegeraan dalam penyampaiannya tanpa ada penundaan. Jika kita renungkan, Yusuf ‘alaihissalam ketika itu telah mengalami beragam kezaliman manusia terhadapnya; berawal dari kezaliman hasad dari saudara-saudaranya, lalu kezaliman tamaknya orang yang mejadikannya budak yang murah, ditambah lagi kezaliman syahwat tuan wanitanya, lalu kezaliman kekuasaan yang menjadikannya hidup dalam penjara.

Namun apakah al-Qur’an mengabarkan bahwa Yusuf ‘alaihissalam memulai dakwahnya di penjara dengan memaparkan dosa-dosa kezaliman manusia terhadapnya…?? Tidak…!! Yusuf ‘alaihissalam tidak memulai dakwahnya dengan pembelaan terhadap dirinya atas segenap kezaliman yang pernah dialaminya, namun Yusuf ‘alaihissalam justru memulai dakwahnya dengan pembelaan terhadap hak Allah dari kezaliman syirik, karena inilah hakikat kezaliman terbesar di muka bumi.

Lalu apakah al-Qur’an mengabarkan bahwa Yusuf ‘alaihissalam memulai dakwahnya dengan menafsirkan mimpi-mimpi sebagaimana yang diminta oleh dua orang sahabatnya dalam penjara…?? Tidak…!! Al-Qur’an (baca QS. Yusuf: 36-40) justru menyebutkan bagaimana Yusuf ‘alaihissalam memulai dakwahnya dengan tauhid dan menjelaskan hakikat kesyirikan. Yusuf ‘alaihissalam bahkan berpaling dari pertanyaan tentang ta’bir mimpi dari dua temannya dalam penjara, beliau justru mengalihkan pembicaraan dengan menjelaskan tauhid dan syirik terlebih dahulu sebelum memberitahukan ta’bir mimpi keduanya. Dan inilah yang dijelaskan oeh para mufassir:

Al-Imâm al-Baghawi rahimahullâh (wafat: 510-H) mengatakan:

فَأَعْرَضَ عَنْ سُؤَالِهِمَا وَأَخَذَ فِي غَيْرِهِ فِي إِظْهَارِ الْمُعْجِزَةِ وَالدُّعَاءِ إِلَى التَّوْحِيدِ

“Yusuf berpaling dari pertanyaan keduanya, dan justru melakukan hal lain; menampakkan mukjizat dan mengajak kepada tauhid.” [Tafsïr al-Baghawi: 4/243, Cet. Dâr ath-Thayyibah]

Senada dengan itu, Al-Imâm al-Qurthubi rahimahullâh (wafat: 671-H) mengatakan:

لَمْ يُعَبِّرْ لَهُمَا حَتَّى دَعَاهُمَا إِلَى الْإِسْلَامِ

“Yusuf tidak menafsirkan mimpi keduanya, hingga beliau mengajak keduanya pada Islam (tauhid).” [Tafsïr al-Qurthubi: 9/191, Cet. Dâr al-Kutub al-Mishriyyah]

Prinsip Kedua:

“Belum ada kepastian diraihnya simpati objek dakwah, bukanlah alasan untuk menunda atau menomorduakan dakwah tauhid.”

Al-Imäm al-Albäni rahimahulläh pernah ditanya tentang uslüb dakwah yang memfokuskan perhatian pada usaha menarik simpati objek dakwah terlebih dahulu, melalui kebiasaan-kebiasaan mereka, baru kemudian mendakwahi mereka kepada tauhid dan sunnah. Maka beliau rahimahulläh memberikan jawaban yang indah berikut ini[2]:

“Metode seperti itu tidaklah benar. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallähu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallähu ‘alaihi wasallam tidaklah mengajak kaumnya kepada Islam dengan cara menarik simpati (keridhoan) mereka melalui tradisi yang biasa mereka kerjakan. Beliau shallallähu ‘alaihi wasallam langsung mengajak mereka kepada Tauhid. Merupakan sebuah kesalahan yang sangat-sangat buruk, manakala seorang da’i memulai (dakwahnya) dengan perkara-perkara yang sepele (tidak urgen), atau memulainya dengan perkara-perkara yang disunnahkan sekalipun, sementara da’i tersebut mengetahui keadaan objek dakwahnya bahwa pemahaman mereka masih sangat jauh dari apa yang difirmankan oleh Allah:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada Iläh yang berhak diibadahi dengan haq kecuali hanya Alläh semata.” [QS. Muhammad: 19]

Kami meyakini apa yang diucapkan oleh seorang da’i bahwanya Nabi shallallähu ‘alaihi wasallam adalah contoh dan teladan bagi kita dalam segala hal. Maka wajib bagi kita untuk mengikuti dakwah beliau shallallähu ‘alaihi wasallam dan juga metode beliau dalam dakwah. Kita tidak layak untuk menggunakan cara-cara kita sendiri demi meraih simpati dan ridha manusia di sekitar kita.

Sebagai contoh: Rasul shallallähu ‘alaihi wasallam di awal-awal dakwah beliau tidaklah memulai dakwahnya dengan menyambungkan antara fakir miskin dengan orang-orang kaya, agar mereka mau menginfakkan sebagian harta mereka kepada fakir miskin. Nabi shallallähu ‘alaihi wasallam tidak memusatkan perhatian dakwahnya (pada urusan infak) demi meraih hati manusia dan para fuqara, yang ketika itu mereka secara kuantitas banyak sekali.

Namun Nabi mendakwahi mereka semua—baik para fakir miskin maupun orang-orang kaya— agar mereka hanya mengibadahi Alläh semata dan agar mereka menjauhi kesyirikan (thäghüt). Maka metode dakwah (seperti yang diutarakan di awal paragraf dan yang semisal dengannya) bukanlah metode atau cara-cara dakwah para Nabi dan Rasul. Kita semua mengetahui bahwa segenap Rasul, kalimat yang pertama kali keluar dari mereka adalah:

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ

“Sesungguhnya kamu, dan apa yang kamu sembah selain Alläh adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. [QS. Al-Anbiyaa: 98]

(Intinya agar mereka) hanya beribadah kepada Alläh semata, dan agar mereka menjauhi Thäghüt (syirik).

Banyak pemuda hari ini meninggalkan jalannya para Nabi dalam berdakwah, lantas berkreasi dan mengada-adakan sendiri metode dakwah (yang baru). Maka yang demikian ini selama-lamanya tidaklah dibolehkan.” [Sumber: https://youtu.be/NsrjZP3LWZU]

Demikianlah nukilan fatwa dari al-Imäm al-Albäni rahimahulläh yang menegaskan betapa mendesaknya dakwah tauhid untuk diawalkan dan disegerakan.

***

Simpati objek dakwah adalah penting, namun bukanlah tujuan. Tujuan sejati adalah memahamkan tauhid kepada mereka. Saat simpati objek dakwah dijadikan sebagai tujuan dan menjelma menjadi fokus dakwah, maka yang terjadi adalah pengebirian dakwah tauhid dan pengalihan substansi dakwah kepada apa yang disenangi oleh objek dakwah, bukan kepada apa yang mendesak mereka butuhkan (yaitu tauhid).

Alasan meraih simpati objek dakwah tidak boleh menunda tersampaikannya tauhid. Jika meraih simpati mereka diposisikan sebagai sesuatu yang harus dicapai, maka yang menjadi pertanyaan adalah “sampai kapan…??” dan “apa batasannya…??”, “apakah harus menunggu semua objek dakwah simpati terlebih dahulu, baru memulai dakwah tauhid..??” Jawabannya tentu saja tidak..!! Tidak terbayangkan jika objek dakwah lebih dulu wafat sementara masih ada kesyirikan dalam kesehariannya, atau masih keliru dalam memahami tauhid dan aqidah yang benar. Maka dalam hal ini, da’i yang menunda dakwah tauhid tentu saja akan bertanggungjawab di hadapan Alläh gara-gara penundaannya tersebut. Hal sebaliknya juga tidak kalah berbahaya, manakala sang sa’i ternyata lebih dulu wafat dan belum sempat menyampaikan tauhid kepada objek dakwahnya.

Jadi, penyimpangan yang sangat-sangat fatal dalam metode dakwah adalah manakala dakwah tauhid sengaja dipinggirkan atau ditunda, karena simpati objek dakwah dirasa belum diraih. Tidak memulai dengan dakwah tauhid dan tidak memprioritaskannya adalah kejahatan da’i terhadap objek dakwahnya. Betapa tidak..!! Tauhid adalah syarat utama diterimanya segenap amal shalih. Percuma mendakwahkan shalat, puasa, adab dan akhlak yang mulia, sementara objek dakwah masih berbuat syirik (baik yang besar maupun kecil, yang nampak ataupun tersembunyi). Objek dakwah tidak akan mendapatkan manfaat sedikitpun dari dakwah da’i yang sampai kepadanya, jika mereka tidak memahami tauhid dan mengamalkannya.

Asy-Syaikh Dr. Shälih al-Fauzän hafizhahulläh mengatakan:

الدعوة بلا توحيد كلَا دعوة. بل إن الدعوة بلا توحيد عدمها أحسن من وجودها، لأنها تضلل الناس يظنون أنها حق

“Dakwah tanpa dakwah tauhid, sama saja bukan dakwah. Bahkan ketiadaan dakwah tanpa tauhid masih lebih baik daripada keberadaannya. Karena dakwah (dengan model) seperti itu menyesatkan manusia, mereka menyangkanya sebagai suatu yang haq.” [Sumber: https://youtu.be/gJn8nWg8wrU]

Prinsip Ketiga:

Dakwah tauhid harus diiringi dengan sikap penuh rahmah, didasari keinginan yang kuat dan tulus agar objek dakwah mau menerima dakwah, juga harus dibarengi cara-cara yang hikmah, dengan akhlak yang mulia, dan tidak sembrono memvonis objek dakwah.”

Tidak menunda-nunda penjelasan tentang tauhid dan syirik bukan berarti mengharuskan seorang da’i untuk memvonis “kafir”, “musyrik”, atau “sesat” objek dakwah yang terjatuh dalam penyimpangan. Cara-cara yang penuh rahmah, hikmah dan beradab sesuai yang dicontohkan Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam tetap harus dikedepankan.

Karena sebelum diperintah untuk menyampaikan risalah Alläh, Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam sendiri telah dikenal sebagai orang yang amanah, jujur, dan berhias dengan akhlak-akhlak yang mulia. Bahkan Alläh memuji akhlak beliau dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sungguh engkau (wahai Muhammad), benar-benar di atas akhlak pekerti yang agung.” [al-Qolam: 4]

Akhlak beliau yang agung tentu saja—di satu sisi—memiliki pengaruh yang besar dalam penerimaan objek dakwah beliau terhadap Islam, maka itu wajib diteladani oleh setiap da’i. Namun di sisi yang lain, Rasülulläh tidak menunda-nunda dakwah tauhid yang menjadi tugas pokok kerasulan beliau. Beliau bahkan menolak “peluang emas” menjadi Raja di Makkah, hanya karena kedudukan tersebut harus ditukar dengan di-stopnya dakwah tauhid. Padahal logika kita bisa saja menganjurkan “agar beliau mengambil peluang emas tersebut, lalu membangun strategi untuk melunakkan hati-hati orang musyrik agar mau menerima dakwah tauhid”. Tapi toh, strategi khayalan logika tersebut tidak beliau tempuh, karena memang dakwah tauhid tidak bisa ditunda dengan alasan apapun.

Prinsip Keempat:

“Diawalkannya dakwah tauhid tidaklah bertentangan dengan upaya-upaya pendekatan yang mubäh di mata Syari’at demi terwujudnya penerimaan dakwah tauhid oleh objek dakwah. Namun harus dicamkan bahwa upaya pendekatan tersebut hanyalah wasilah, sementara yang menjadi tujuan tetaplah tauhid.”

Seratus (100) unta yang dihadiahkan Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam kepada Mälik bin ‘Auf (salah satu pembesar Tsaqïf) adalah contoh upaya beliau dalam men-ta’lïf atau memikat hati objek dakwah, itupun dilakukan dengan tujuan agar Mälik bin ‘Auf dan kaumnya mau menerima dakwah tauhid. Demikian pula ketika Nabi membesuk tetangga Yahudi beliau yang tengah sekarat. Di sini beliau hendak menunjukkan akhlak seorang muslim yang tinggi nan mulia. Dengan harapan hati Si Yahudi dan keluarganya akan luluh. namun beliau tidak berhenti sampai di situ sementara yang menjadi tujuan utama adalah mendakwahkan kalimat “lä-iläha illalläh” kepada Yahudi yang berada diambang kematian tersebut. Maka dalam hal ini, merupakan ketergelinciran yang sangat fatal bagi seorang da’i, manakala ia memperlakukan wasilah layaknya tujuan, dan tujuan seolah hanya wasilah. Inilah yang kemudian melahirkan ragam-model dakwah yang jauh dari substansi tauhid, namun terasa begitu tunduk dalam memuaskan selera “konsumen” (baca: objek dakwah). Tidak heran jika banyak majelis-majelis taklim kini beralih fungsi menjadi “taman-taman hiburan” ketimbang taman-taman ilmu yang akan menyuburkan pohon iman dan ketakwaan.

Alhasil, memprioritaskan dan mengawalkan dakwah tauhid secara langsung bukan berarti harus meninggalkan upaya-upaya mubah untuk meraih simpati objek dakwah. Keduanya tidaklah bertentangan, bahkan bisa jalan berdampingan. Mengadakan bakti sosial, menghadiahkan kurban bagi objek dakwah, adalah sebagian kecil contoh upaya yang dianjurkan untuk meraih hati objek dakwah, dan upaya-upaya tersebut tidak harus menunda apalagi menyetop dakwah tauhid untuk kemudian tergantikan prioritasnya dengan model dakwah lain yang dianggap lebih bersahabat dengan selera objek dakwah.

Prinsip Kelima:

Tema dakwah tauhid tidaklah berbenturan dengan tema-tema dakwah yang lain. Semuanya bisa berjalan bersama dengan tetap memprioritaskan dakwah tauhid.”

Di periode-periode awal dakwahnya, Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam juga mendakwahkan tema-tema seputar keagungan akhlak yang mulia. Dan itu tidak menghalangi atau mengurangi fokus dakwah beliau pada masalah tauhid. Terbukti dari apa yang diungkapkan oleh Abu Sufyan, saat Kaisar Romawi, Heraklius, menanyakan kepada beliau; “Apa saja (ajaran) yang diperintahkan oleh Muhammad kepada kalian..??”. Abu Sufyan—yang ketika itu belum memeluk Islam—menjawab:

يقولُ : اعبُدوا اللهَ وحدَه ولا تُشرِكوا به شيئًا، واترُكوا ما يقولُ آباؤكم، ويأمُرُنا بالصلاةِ والصِّدقِ والعَفافِ والصِّلةِ

“Dia (Muhammad) mengatakan: ‘Sembah dan ibadahilah hanya Alläh semata. Jangan berbuat syirik pada-Nya sedikitpun. Tinggalkan ucapan-ucapan (mengandung kesyirikan dan kemaksiatan) yang diucapkan oleh nenek moyang kalian. Dan dia juga menyuruh kami untuk shalat, berlaku jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung silaturahmi.” [Shahïh al-Bukhäri: 7]

Dari pemaparan Abu Sufyan radhiallähu’anhu tersebut, jelas sekali bahwa Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam juga mendakwahkan pilar-pilar akhlak dan adab, namun tetap yang menjadi fokus dan prioritas dakwah beliau yang pertama dan utama adalah dakwah tauhid.

Kalau toh seorang da’i harus memulai dakwahnya dengan tema-tema seputar akhlak mulia dan penyucian jiwa, substansi-substansi tauhid masih bisa menjadi bahasan utama dalam tema-tema tersebut. Karena mustahil seorang muslim akan suci jiwanya, dan akan mulia akhlaknya secara lahir dan batin, tanpa dilandasi tauhid yang benar.

Prinsip Keenam:

“Dakwah tauhid juga harus tetap mendapat porsi yang cukup pada objek dakwah yang sudah memahami dan menerima tauhid.”

Karena sampai menjelang wafat pun, Nabi tetap mengingatkan akan tauhid dan mewanti-wanti bahaya kesyirikan. Jundub bin ‘Abdilläh al-Bäjili radhiallähu’anhu meriwayatkan bahwa lima hari sebelum wafatnya, Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam sempat bersabda:

ألا وإن من كان قبلَكم كانوا يتخذون قبورَ أنبيائِهم وصالحيهم مساجدَ، ألا فلا تتخذوا القبورَ مساجدَ، إني أنهاكم عن ذلك

“Sungguh orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan-kuburan para Nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah, jangan sampai kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, sungguh aku benar-benar melarang kalian dari hal tersebut.” [Shahïh Muslim: 532]

Bahkan Usämah bin Zaid radhiallähu’anhu meriwayatkan bahwasanya Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam di saat beliau tengah sakit (di akhir-akhir hayatnya), beliau meminta agar para sahabatnya masuk. Setelah para Sahabat masuk, beliau pun bersabda:

“Laknat Alläh atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” [Ahmad: 5/214, lih. Manhajul Anbiyä fid Da’wati Ilalläh: 104, Syaikh Rabï’ bin Hadi al-Madkhali].

Tidak hanya dijauhkan semasa hidup beliau, Khalïlulläh Ibrähïm ‘alaihissaläm bahkan menginginkan anak turunannya senantiasa dijauhkan dari kesyirikan sepeninggalnya. Ini pelajaran berharga bagi para da’i. Itu sebabnya do’a beliau berikut ini terabadikan dalam al-Qur’än:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Yä Rabb, jadikanlah negeri Makkah ini aman, dan jauhkanlah aku berikut anak keturunanku dari penyembahan pada berhala-berhala.” [QS. Ibrähïm: 35]

Dalil-dalil di atas menunjukkan betapa tauhid senantiasa mendapatkan perhatian yang besar oleh para Nabi dan Rasul, tidak hanya sepanjang hidup mereka, tapi juga setelah kehidupan mereka berakhir di dunia.

Prinsip Ketujuh:

“Dakwah tentang tauhid, berkonsekuensi pada dakwah tentang syirik dan cabang-cabangnya. Penjelasan tentang tauhid dan syirik, tidak bisa dipisahkan.”

Sebagaimana cahaya bisa diketahui manfaatnya saat kita memahami apa itu kegelapan, maka demikian pula halnya dengan tauhid. Tidak mungkin seseorang sampai pada pemahaman yang sempurna dan benar tentang tauhid tanpa memahami hakikat kesyirikan dan cabang-cabangnya yang mendetail. Bahkan, itulah esensi dari kalimat “läiläha-illalläh” jika kita renungkan. Dalam kalimat tersebut ada tauhid, yaitu penetapan (itsbät) bahwa hanya Alläh yang berhak diibadahi dengan haq. Dalam kalimat tersebut juga ada ikrar penolakan terhadap syirik, yaitu peniadaan (nafy) adanya sesuatu yang berhak untuk diibadahi selain Alläh. Jadi, tauhid dan syirik adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam dakwah.

Adalah keliru jika seorang da’i hanya menjelaskan tauhid semata, melulu menjelaskan hakikat ma’rifatulläh, mahabbatulläh, khosyatulläh, tawakkal, dll., namun tidak pernah atau bahkan sengaja tidak mau menjelaskan kesyirikan berikut contoh-contohnya yang tumbuh dalam realita masyarakat. Model dakwah seperti ini—jika boleh kita simplikasikan dengan sebuah analogi—, mirip dengan dakwah yang hanya mengajarkan fadhilah shalat, hikmah shalat, kekhusyuan dalam shalat, namun tidak pernah mengajarkan pembatal-pembatal shalat. Ini sama saja nol besar.

Renungkanlah bagaimana Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan men-tahdzïr keras sahabat-sahabat beliau yang baru masuk Islam, gara-gara mereka mengatakan:

يَا رَسُولَ اللهِ, اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ: اللهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“Wahai Rasülulläh, buatkan untuk kami (pohon keramat semacam) Dzätu Anwäth, sebagaimana orang-orang (musyrik) itu punya Dzätu Anwäth”. Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wasallam lantas menjawab: “Allähu Akbar…!! Inilah tradisi-tradisi (umat terdahulu). Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kalian telah mengucapkan apa yang pernah diucapkan oleh Bani Isrä-ïl: “Buatkan kami tuhan-tuhan seperti mereka memilki tuhan-tuhan. Musa berkata: “sungguh, kalian adalah orang-orang yang jahil. (QS. Al-A’räf: 138).” [at-Tirmidzi: 2180, Ahmad: 21390, dishahihkan al-Albäni, lih. Jilbäb al-Mar’ah al-Muslimah: 202]

Namun perlu dicatat, bahwa menjelaskan apa itu syirik, apa itu kekafiran, dan detail pembatal-pembatal tauhid, tidaklah harus dengan cara-cara yang provokatif, dengan pilihan kata yang kasar dan keras, dengan mata yang melotot, atau urat leher sampai tampak, yang bisa saja kemudian menimbulkan kesan di mata awam bahwa sang da’i tengah mengkafirkan orang-orang.

***

Akhir kata, Semoga tulisan ringkas ini bisa memberikan manfaat bagi penulisnya sebelum memberi manfaat bagi orang lain. Semoga prinsip-prinsip dalam tulisan ini bisa menyatukan gerak langkah dakwah kita di jalan Alläh, Dialah satu-satunya tempat bersandar segenap do’a dan harapan.

***

Ditulis oleh:
Abu Ziyan Johan Saputra Halim
(Pengasuh alhujjah.com dan kristaliman.wordpress.com)

Catatan: artikel ini telah dibaca dan ditelaah oleh beberapa Asätïdz senior di Pulau Lombok, dan mereka—alhamdulilläh—menasehatkan untuk menyebarkan tulisan ini.

[1] Hal ini diungkapkan oleh asy-Syaikh Dr. Zaid bin Abdilkarïm az-Zaid dalam makalahnya yang berjudul “Aulawiyyät ad-Da’wah fï Manhajil Anbiyä ‘Alaihim as-Saläm”, dimuat di Majallah al-Buhüts al-‘Ilmiyyah: 43/229-234, al-Lajnah ad-Dä-imah, via: alifta.net.

[2] Diterjemahkan dari rekaman penjelasan beliau. Sumber: https://youtu.be/NsrjZP3LWZU

Tinggalkan komentar

Menunda Dakwah Tauhid Sampai Meraih Simpati Masyarakat…?? (Fatwa al-Imam al-Albani)

Seorang da’i di awal-awal dakwahnya berusaha menarik simpati objek dakwahnya dengan cara mengikuti kebiasaan dan tradisi mereka, baru kemudian mendakwahkan sunnah kepada mereka. Benarkah metode seperti ini…??

Jawaban al-Imam al-Albani rahimahullähäh:


Metode seperti itu tidaklah benar. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mengajak kaumnya kepada Islam dengan cara menarik simpati (keridhoan) mereka melalui tradisi yang biasa mereka kerjakan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam langsung mengajak mereka kepada Tauhid. Merupakan sebuah kesalahan yang sangat-sangat buruk, manakala seorang da’i memulai (dakwahnya) dengan perkara-perkara yang sepele (tidak urgen), atau memulainya dengan perkara-perkara yang disunnahkan sekalipun, atau dengan perkara-perkara yang <suara rekaman kurang jelas>, sementara da’i tersebut mengetahui keadaan objek dakwahnya bahwa pemahaman mereka masih sangat jauh dari apa yang difirmankan oleh Allah:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada Iläh yang berhak diibadahi dengan haq kecuali hanya Alläh semata.” [QS. Muhammad: 19]

Kami meyakini apa yang diucapkan oleh seorang da’i bahwanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah contoh dan teladan bagi kita dalam segala hal. Maka wajib bagi kita untuk mengikuti dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga metode beliau dalam dakwah. Kita tidak layak untuk menggunakan cara-cara kita sendiri demi meraih simpati dan ridha manusia di sekitar kita.

Sebagai contoh: Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di awal-awal dakwah beliau tidaklah memulai dakwahnya dengan menyambungkan antara fakir miskin dengan orang-orang kaya, agar mereka mau menginfakkan sebagian harta mereka kepada fakir miskin, padahal orang-orang kaya (ketika itu) <suara rekaman kurang jelas>[1] harta-harta mereka (fakir miskin), dan mereka adalah orang-orang yang <suara rekaman kurang jelas>[2], sementara ada orang-orang fakir miskin di sana waktu itu. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memusatkan perhatian dakwahnya (pada urusan infak) demi meraih hati manusia dan para fuqara, yang ketika itu mereka secara kuantitas banyak sekali.

Namun Nabi mendakwahi mereka semua—baik para fakir miskin maupun orang-orang kaya—, agar mereka hanya mengibadahi Alläh semata dan agar mereka menjauhi kesyirikan (thäghüt). Maka metode dakwah (seperti yang diutarakan di awal paragraf dan yang semisal dengannya) bukanlah metode atau cara-cara dakwah para Nabi dan Rasul. Kita semua mengetahui bahwa segenap Rasul, kalimat yang pertama kali keluar dari mereka adalah:

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ

“Sesungguhnya kamu, dan apa yang kamu sembah selain Alläh adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” [QS. Al-Anbiyaa: 98]

(Agar mereka) hanya beribadah kepada Alläh semata, dan agar mereka menjauhi Thäghüt (syirik).

Banyak pemuda hari ini meninggalkan jalannya para Nabi dalam berdakwah, lantas berkreasi dan mengada-adakan sendiri metode dakwah. Maka yang demikian ini selama-lamanya tidaklah pantas.

***

Penerjemah:
Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Sumber:
rekaman
suara asli Syaikh al-Albani rahimahulläh
(https://youtu.be/NsrjZP3LWZU)

Catatan kaki:

[1] Wallähu’alam, mungkin Syaikh mengatakan “mengambil

[2] Wallähu’alam, mungkin Syaikh mengatakan “mubadzdzirïn (para penghambur harta)”

Tinggalkan komentar

Jangan Pernah Bosan Ngaji Tauhid

Sungguh hati kita harus senantiasa diingatkan akan tauhid. Coba renungkan kisah Musa ‘alaihissaläm dalam membebaskan Bani Isräil dari penindasan Fir’aun. Setidaknya ada sembilan mukjizat besar yang disaksikan langsung oleh Bani Isräil dalam menghadapi Fir’aun. Yang terakhir—saat Fir’aun binasa—, mereka melihat laut terbelah dengan mata kepala mereka. Namun apa yang terjadi setelah mereka diselamatkan Alläh…?? Begitu cepat tauhid mereka lupakan. [lih. Tafsïr as-Sa’di: 302]

al-Qur’än mengabarkan:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَامُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Dan Kami seberangkan Bani Isräil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsräil berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang jahil”. [QS. Al-A’räf: 138]

Jika demikian cepat suatu kaum bisa melupakan tauhid, padahal mereka telah melihat langsung mukjizat terbesar, maka bagaimana lagi dengan keadaan kita yang belum pernah melihat mukjizat, dan belum pernah menemani dan melihat Nabi. Apakah kita bisa terjamin dari melupakan tauhid…?? Tentu kita lebih beresiko untuk meninggalkan tauhid. Untuk itulah kajian tauhid harus selalu digalakkan.

***

Di antara manusia, tidak sedikit yang senang mendengarkan ceramah-ceramah motivasi, yang menggugah jiwa, dan menginspirasi untuk beramal. Ini tentu saja baik, namun perlu dicatat bahwa segenap amal yang tidak berdiri di atas tauhid dan akidah yang benar, hanyalah sia-sia. Sedikitpun tidak akan mendatangkan manfaat yang berarti bagi pelakunya. Tidak di dunia, tidak pula di akhirat.

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami hadapkan segala amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan musnah seperti debu yang berterbangan.” [QS. Al-Furqän: 23]

Dalam ayat tersebut, Alläh tidak menafikan keberadaan amal kebaikan yang pernah mereka lakukan di dunia. Amalan mereka ada, dan dihitung oleh Alläh. Namun semua itu tidaklah berarti, bahkan hanya jadi penyesalan terbesar. Gara-gara amal kebaikan tersebut tidak dilandasi oleh tauhid, tidak dipersembahkan sebagai ketaatan hanya untuk Alläh semata-mata. [lih. Mukhtashar Tafsïr Ibn. Katsïr: 2/629]

Itulah sebabnya mengapa seluruh Rasul utusan Alläh memfokuskan dakwahnya pada perkara tauhid, yang menyangkut keesaan Alläh dalam Uluhiyyah-Nya, bahwa hanya Dia seorang yang berhak untuk diibadahi dengan segenap macam ibadah yang haq. Seseorang belumlah dikatakan bertauhid jika hanya shalat untuk Alläh, puasa, zakat, dan haji karena Alläh, namun di saat yang sama dia masih menyembelih kurban untuk selain Alläh (kepada jin, makhluk halus, dukun, dll).

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap ummat, yang menyerukan; ‘Sembahlah hanya Alläh semata, dan jauhi thagüt (yaitu kesyirikan, segala sesuatu yang diibadahi selain Alläh).” [QS. An-Nahl: 36]

Tidak harus dua, tiga, atau sepuluh ibadah, cukup satu saja ibadah yang ditujukan kepada selain Alläh (dalam konteks syirik akbar) sudah cukup membatalkan tauhid seseorang. Menjadikan amal shalatnya, amal puasanya, zakat, dan hajinya, kelak di akhirat seperti debu yang musnah berterbangan. Ancaman musnahnya amalan ini, bukan hanya tertuju kepada kita, hamba biasa di mata Alläh. Bahkan Alläh mengarahkan ancaman ini kepada kekasih-kekasih-Nya yang Dia cintai, tidak terkecuali kekasih-Nya yang paling istimewa, Muhammad shallallähu ‘alaihi wasallam:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu berbuat syirik (dengan beribadah kepada selain Alläh di samping juga kepada Alläh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [QS. Az-Zumar: 65]

Jika hamba-hamba pilihan semisal Nabi dan Rasul masih diingatkan dan diwanti-wanti oleh Alläh dari kesyirikan (sebagai pambatal tauhid), maka manusia selain mereka tentu lebih butuh mendapat peringatan akan pentingnya tauhid dan bahayanya syirik. Maka di saat kita mulai merasa jenuh dengan kajian tauhid, ingatlah ancaman Alläh dalam ayat tersebut.

***

Begitu takutnya Nabi kita yang mulia dari kesyirikan yang bisa menimpa ummatnya, hingga sampai menjelang wafat pun, Nabi tetap mengingatkan akan tauhid dan mewanti-wanti bahaya kesyirikan. Jundub bin ‘Abdilläh al-Bäjili radhiallähu’anhu meriwayatkan bahwa lima hari sebelum wafatnya, Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam sempat bersabda:

ألا وإن من كان قبلَكم كانوا يتخذون قبورَ أنبيائِهم وصالحيهم مساجدَ، ألا فلا تتخذوا القبورَ مساجدَ، إني أنهاكم عن ذلك

“Sungguh orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan-kuburan para Nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah, jangan sampai kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, sungguh aku benar-benar melarang kalian dari hal tersebut.” [Shahïh Muslim: 532]

Bahkan Usämah bin Zaid radhiallähu’anhu meriwayatkan bahwasanya Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam di saat beliau tengah sakit (di akhir-akhir hayatnya), beliau meminta agar para sahabatnya masuk. Setelah para Sahabat masuk, beliau pun bersabda:

“Laknat Alläh atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” [Ahmad: 5/214, lih. Manhajul Anbiyä fid Da’wati Ilalläh: 104, Syaikh Rabï’ bin Hadi al-Madkhali].

Tidak hanya dijauhkan semasa hidup beliau, Khalïlulläh Ibrähïm ‘alaihissaläm bahkan menginginkan anak turunannya senantiasa dijauhkan dari kesyirikan sepeninggalnya. Do’a beliau berikut ini terabadikan dalam al-Qur’än:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Yä Rabb, jadikanlah negeri Makkah ini aman, dan jauhkanlah aku berikut anak keturunanku dari penyembahan pada berhala-berhala.” [QS. Ibrähïm: 35]

Dalil-dalil di atas menunjukkan betapa tauhid senantiasa mendapatkan perhatian yang besar oleh para Nabi dan Rasul, tidak hanya sepanjang hidup mereka, tapi juga setelah kehidupan mereka berakhir di dunia.

***

Di sisi lain, ceramah-ceramah yang hanya menyodorkan kalimat-kalimat motivasi, kalimat-kalimat indah yang menggugah untuk bangkit beramal, namun kosong dari nilai-nilai tauhid dan penghambaan pada Alläh, cenderung melahirkan amalan musiman dari kaum egois; yang hanya bangkit beramal jika melihat ada manfaat duniawinya semata, jika tidak, amalannya pun akan terhenti, dan tak lagi berkesinambungan.

Di sinilah pentingnya kita selalu mengkaji tauhid. Karena dengan tauhid, hati akan selalu tentram dalam keyakinan bahwa setiap amalan yang dilakukan karena Alläh (sepahit apapun hasilnya di dunia), pada akhirnya akan senantiasa membuahkan manfaat yang besar. Inilah yang menjadikan mereka—yang tak pernah lekang mengkaji tauhid—selalu istiqomah. Amalan mereka selalu ada dan berkesinambungan, sekalipun sedikit. Maka saat kita merasa tak lagi istiqomah dalam suatu amalan, besar kemungkinan hati kita sudah lama kering dari siraman-siraman kajian bertema tauhid.

Ibnul Qayyim (wafat: 751-H) rahimahulläh dalam kitabnya Madärij as-Sälikïn, memaparkan bahwa istiqomah itu mencakup 5 unsur. Dan unsur yang pertama dan utama adalah tauhid. Beliau mengatakan:

الأول: إفراد المعبود سبحانه وتعالى بالإرادة، من الأفعال والأقوال والنيات وهو الإخلاص

“Unsur pertama istiqomah adalah; mengesakan Alläh subhänahu wa ta’äla dalam kehendak, perbuatan, ucapan, dan niat. Itulah keikhlasan.”

Intinya, keistiqomahan akan kokoh dengan kokohnya tauhid, dan akan melemah seiring melemahnya tauhid. Untuk itulah tauhid harus senantiasa dikaji.

***

Saat kita merasa bahwa kajian-kajian tentang tauhid dan akidah sudah mulai membosankan, maka di saat itulah kita harus menuduh hati kita. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya. Karena hati, ibarat pepohonan, butuh mutlak pada akar dan pokok batang yang sehat untuk bisa tumbuh, lalu berkembang, lantas merekahkan buah-buahan yang bermanfaat. Kedudukan tauhid dan akidah pada hati, seperti kedudukan akar dan pokok batang pada pepohonan. Tauhid dan akidah yang rusak, ibarat akar dan pokok batang yang rusak. Tauhid dan akidah yang terlupakan, laksana akar dan pokok batang pohon yang terlupakan pula. Bayangkan jika akar dan pokok batang tersebut mati, bisakah pohon berdiri tegak dan hidup…?? Justru kematian yang menghampiri. Demikian pula yang bakal terjadi pada hati dengan tauhid dan akidah yang tak lagi segar terpelihara. Untuk itulah tauhid dan akidah harus senantiasa kita kaji dan kita amalkan, tanpa ada batas akhir.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ** تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik [yakni: kalimat tauhid] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit ** pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” [QS. Ibrähïm: 24-25]

***

Lombok, Shafar 1436
Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Artikel: alhujjah.com

Tinggalkan komentar

Mengapa Para Nabi Menyukai Poligami…??

Mengapa para Nabi menyukai Poligami…??
——————-

☜ قال القرطبي – رحمه الله – :
يقال : إن كل من كان أتقى فشهوته أشد ؛ لأن الذي لا يكون تقيا فإنما يتفرج بالنظر والمس ، ألا ترى ما روي في الخبر : “العينان تزنيان واليد ان تزنيان” .
◈ فإذا كان في النظر والمس نوع من قضاء الشهوة قل الجماع ، والمتقي لا ينظر ولا يمس فتكون الشهوة مجتمعة في نفسه فيكون أكثر جماعا .
▣ وقال أبو بكر الوراق : كل شهوة تقسي القلب إلا الجماع فإنه يصفي القلب ، ولهذا كان الأنبياء يفعلون ذلك ) .
■☜[ تفسير القرطبي (٢٥٣/٥) ]

al-Imam al-Qurthubi rahimahullah (w: 671-H) mengatakan: “Sesungguhnya siapa yang lebih bertakwa maka dialah pemilik libido yang lebih kuat dan dahsyat. Karena orang yang tidak bertakwa, menyalurkan libidonya lewat zina tangan dan zina mata.

Tidakkah engkau membaca hadits yang menyebutkan: “(bahwa) kedua mata bisa berzina, kedua tangan pun bisa berzina.”

Jika pandangan mata dan sentuhan tangan telah (lebih dulu) menyalurkan stok libido yang ada, maka intensitas jima’ pun menjadi sedikit dan lesu.

Beda dengan orang-orang bertakwa. Mereka tidak melakukan zina mata dan tangan. Hingga libido pun berkumpul dan menumpuk dalam diri mereka. Inilah yang kemudian menjadikan intensitas dan gairah jima’ mereka (dengan para istri) begitu tinggi (saking tingginya, tiga istri belumlah mencukupi-pent).

Abu Bakr al-Warraq mengatakan: “Seluruh jenis syahwat, bisa mengeraskan hati. Kecuali syahwat jima’, ia justru melembutkan hati (jika disalurkan pada yang halal-pent). Itulah mengapa para Nabi mengamalkannya (baca: Poligami-pent).”

*Tafsir al-Qurthubi: 5/253.

Penerjemah:
Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Artikel:
kristaliman.wordpress.com

Tinggalkan komentar

Di Balik Teror Paris

Menanggapi opini miring yang mengait-ngaitkan Islam atas teror ledakan dan pembunuhan yang terjadi di Paris, 14-Nov-2015 lalu, seorang ulama besar membuka pidatonya:

“Wahai para pengikut Muhammad shallallahu alaihi wasallam…!! Sesungguhnya (ajaran) Islam, seluruhnya adalah keadilan, setia di atas janji. Segala doktrin yang mengubah keadilan menjadi kezaliman dan kesetiaan menjadi pengkhianatan (sekalipun terhadap orang-orang kafir), maka sedikitpun itu bukan bagian dari Islam. Itu adalah kemungkaran besar dan wajib diingkari. Seperti apa yang terjadi di Paris (beberapa hari yang lalu) berupa teror peledakan.”

Demikian Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily, guru besar University of Islam – Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi, membuka pidatonya.

Apa yang beliau ucapkan tidaklah berlebihan. Betapa tidak, wajah Islam seakan dilumuri lumpur hitam gara-gara kejadian tersebut. Gara-gara sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab, mengaitkannya dengan ajaran Islam yang mereka gambarkan sarat akan doktrin barbarian. Belum lagi kaum muslimin di Eropa yang semakin terpojokkan dengan kejadian tersebut, di saat mereka belum juga lepas dari tekanan diskriminasi, intimidasi, dan perlakuan yang buruk. Tentu saja keadaan mereka akan semakin terjepit. Padahal saat ini benua biru tengah menggeliat untuk bangkit dan kembali mengenal Islam. Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily memaparkan betapa kejadian di Paris tersebut begitu buruk dampaknya bagi Islam dan kaum muslimin di sana, juga bagi citra Islam di mata dunia.

Tidak hanya sekali Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily dalam pidatonya menekankan wajibnya mengingkari kejadian di Paris tersebut. Bahwa itu adalah kezaliman yang sangat nista, kendati menimpa orang-orang kafir. Karena Islam mengajarkan keadilan, menolak kezaliman, baik terhadap mereka yang kita cintai dan kita benci sekalipun. Syaikh juga membacakan ayat al-Qur’an:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ

“…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah…” [QS. al-Maidah: 8]

Manakala seseorang masuk ke negeri tersebut dengan paspor, maka dalam perspektif Islam itu sudah cukup menjadi ikatan perjanjian untuk menjaga keamanan di negeri tersebut, sekalipun ia adalah negeri kafir. Kesetiaan dan komitmen atas perjanjian adalah harga mutlak di mata Islam. Maka haram hukumnya melakukan pengkhianatan di negeri tersebut, dengan membunuh warganya, dengan menebar teror di sana. Atas alasan apapun, aksi-aksi semacam itu tidak bisa dikait-kaitkan apalagi dianggap sebagai jihad dalam konsep Islam.

Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily lanjut memaparkan; bahwa dalam etika jihad Islam berdasarkan tuntunan Rasülulläh shallallähu ‘alaihi wasallam; membunuh wanita, anak-anak, atau mereka para lansia yang lemah tak berdaya, adalah keharaman yang nyata jika terjadi di medan perang sekalipun. Maka bagaimana lagi jika pembunuhan tersebut dilakukan bukan di medan perang..?? Tidak diragukan lagi betapa besar keharamannya.

Apa yang terjadi di Paris—jikapun benar didalangi sekelompok muslim—tidak diragukan lagi merupakan bentuk khianat (ghadr) yang nyata. Islam berlepas diri dari aksi konyol dan tidak kesatria tersebut. Adapun jika dalang utamanya adalah mereka yang dengki terhadap Islam, Syi’ah Rafidhah dan sekutu-sekutunya dari kalangan kuffar yang kemudian menunggangi radikalis-radikalis Khawarij ISIS—dan tampaknya memang demikian—, maka sungguh:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

 “…mereka telah membuat makar dan tipu daya. Allah akan membalas tipu daya mereka, dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” [QS. Ali Imran: 54]

***

Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily juga mengkritik keras anggapan bahwa apa yang terjadi di Paris kemarin; adalah balasan setimpal atas pembunuhan muslimin di Suria oleh aliansi kafir, ada yang mengatakan “biarkan saja mereka (aliansi kafir vs ISIS) saling bunuh, keduanya sama-sama zalim”. Anggapan seperti ini harus diluruskan. Pembunuhan atas mereka yang tidak berhak dibunuh, tidak layak disebut pembalasan yang setimpal di mata Islam. Bahwa apa yang menimpa muslimin Suriah adalah wujud kezaliman terbesar, tidak ada seorangpun pemilik akal sehat yang menolaknya, apalagi orang-orang berilmu. Namun apa yang terjadi di Paris juga tidak bisa dibenarkan. Sekali lagi jika memang benar dalangnya adalah ISIS yang mengatasnamakan Islam tanpa rasa malu sedikitpun.

Di mana ada Khawarij, di situ ada Syi’ah sebagai antitesisnya. Demikian pula sebaliknya, saat taring-taring Syi’ah mulai mencengkram, di situlah Khawarij mengambil kesempatan dalam debu-debu fitnah yang tengah bergejolak. Sementara Yahudi dan negara-negara kuffar dengan senyum lebar menyediakan lahan perang dan amunisi untuk keduanya, demi membasmi ahlussunnah. Cepat atau lambat, Alläh akan membongkar perselingkuhan mereka, fahasbunallähu wani’mal wakïl.*

————-

 

*Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Artikel: kristaliman.wordpress.com

Tinggalkan komentar

Dialog Menggelikan dengan Seorang Penganut Syi’ah

Dalam video ini;

Asy-Syaikh Dr. Utsman al-Khumais, pakar sejarah dan peneliti tentang Syi’ah (yang pernah berkunjung dan memberikan materi Dauroh di Ponpes Abu Hurairah Mataram ini) mengisahkan tentang sebuah dialog menggelikan antara kawan beliau (seorang Sunni) dengan seorang penganut Syi’ah. Berikut ini saya (admin kristaliman) narasikan ulang dialognya dengan sedikit penyesuaian tanpa merubah makna dan esensi:

***

SUNNI: Allah berfirman:

(الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ ٌ)

Wanita-wanita bejat pantasnya untuk pria-pria bejat pula, dan pria-pria bejat sepadannya buat wanita-wanita bejat pula. (Sementara) wanita baik-baik, pantasnya buat pria baik-baik pula, dan pria baik-baik sepadannya buat wanita baik-baik juga. [Surat An-Noor : 26]

Nah, bertolak dari ayat ini, saya punya pertanyaan untukmu: “Asma’ binti Umais, istri Ali bin Abi Thalib, apakah dia khobitsah (wanita bejat) ataukah thoyyibah (wanita baik-baik)…??

SYI’AH: [Sambil tertawa] Tentu saja dia thoyyibah. Dia kan istri Ali bin Abi Thalib…?! Ali mustahil khobiits (pria bejat), maka istrinya sudah pasti bukan khobiitsah (wanita bejat).

SUNNI: Kalau Asma binti Umais itu wanita baik-baik, maka Abu Bakr ash-Shiddiq juga pria baik-baik.

SYI’AH: Ya nggak laah…!! Abu Bakr itu sudah jelas bejat.

SUNNI: Berarti Asma binti Umais wanita bejat kalau begitu.

SYI’AH: Kok bisa…?!! 

SUNNI: Ya iyalah… kan berdasarkan firman Allah (di atas)…!!. Yang bejat, ya pantesnya pasangan dengan yang bejat juga donk…!! Karena sebelum menikah dengan Ali bin Abi Thalib, Asma binti Umais bersuamikan Abu Bakr ash-Shiddiq.

SYI’AH: Owwwhh…. Hmmmm…. Eeeh….¿¿!!!¿??”#*€ 😨😧😤😷 (kaget, mendadak diam)…

SYI’AH: Ga bisa, Abu Bakr tetap bejat. Titik.

SUNNI: Oke..oke. Jika Abu Bakr bejat, maka Asma binti Umais juga bejat, koensekuensinya Ali juga bejat (begitu…??).

SYI’AH: Ga bisa, Ali pria baik-baik.

SUNNI: Nah loh, terus gimana dengan firman Allah (di atas)..??

SYI’AH: (Mulai mikir. Akhirnya nemu jawaban). Dulunya, Asma binti Umais itu bejat ketika bersama Abu Bakr. Namun setelah Abu Bakr gak ada, dia taubat dan beriman pada Wilayah-Imamiyyah, jadilah ia wanita baik-baik, barulah Ali menikahinya.

SUNNI: Kalau begitu, Ja’far bin Abi Thalib (saudara kandung Ali bin Abi Thalib) adalah pria bejat juga…

SYI’AH: (Tambah bingung) 😴😴😴… Lho kok bisa…??

SUNNI: Karena sebelum dinikahi Abu Bakr ash-Shiddiq, Asma binti Umais adalah istri dari Ja’far bin Abi Thalib.

SYI’AH: (Mulai mikir…, mikir lagi…, belum nemu jawaban. Mikir lagi…, ga nemu-nemu jawaban)

Dialogue End. Titik…

***

CATATAN:
—-

.: Asma binti Umais adalah istri dari Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, dan melahirkan anak untuk beliau. Ja’far bin Abi Thalib meraih syahid dalam Perang Mu’tah. Setelah habis masa iddahnya, Asma dinikahi oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu’anhu, dan mendapatkan anak darinya. Sepeninggal Abu Bakr ash-Shiddiq, Asma dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, juga mendapatkan anak darinya.

.: Andai si penganut Syi’ah di atas mengambil prinsip ahlussunnah dalam sikap mereka terhadap Abu Bakr, Umar, dan sahabat lainnya, niscaya ia tidak akan terjebak dalam labirin logika yang tak berujung lagi kontradiktif seperti di atas. Andai ia mau mengatakan, “Abu Bakr adalah pria baik-baik”, maka ending dialog di atas tidak harus berakhir memalukan untuknya. 

***
Lombok, 22 Dzulhijjah 1436 – 06102015
Abu Ziyan Johan Saputra Halim
-semoga Allah memaafkannya-

Artikel:
kristaliman.wordpress.com
Page:
fb.com/kristaliman

Tinggalkan komentar

BIARKAN SEJARAH BERSAKSI

Siapakah yang telah menaklukkan negeri Syam, Iraq, dan Persia untuk Islam? Umar bin al-Khaththab radhiallahu’anhu (dia seorang Sunni, musuh Syi’ah nomor wahid)

Siapakah yang telah menaklukkan negeri Sindu dan India untuk Islam? Muhammad bin al-Qasim (dia Sunni, anti Syi’ah)

Siapakah yang telah menaklukkan Afrika Utara untuk Islam? Qutaibah bin Muslim al-Bahily (dia Sunni, anti Syi’ah)

Siapakah yang telah menaklukkan Spanyol untuk Islam? Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nashir (keduanya Sunni, anti Syi’ah)

Siapakah yang telah menaklukkan Konstantinopel untuk Islam? Muhammad al-Fatih (dia Sunni, anti Syi’ah)

Siapakah yang telah menaklukkan negeri Shoqliyah untuk Islam? Asad Ibnul Furot (dia Sunni, anti Syi’ah)

Siapakah yang telah membangun peradaban Andalusia (Spanyol) lalu menjadikannya sebagai menara ilmu? Para penguasa dan ulama dari kalangan ahlussunnah (anti Syi’ah)

Siapakah yang memimpin pasukan muslim menaklukkan tentara Salib di Hiththin? Shalahuddin al-Ayyubi (dia Sunni, anti Syi’ah)

Siapakah yang memimpin pasukan muslimin menghancurkan kekuatan Tartar? Saifuddin Qatz dan Ruknuddin Bibris (keduanya Sunni, anti Syi’ah)

SEBALIKNYA…

Siapakah yang berkhianat pada al-Husein radhiallahu’anhu? al-Mukhtar ats-Tsaqofi (dia seorang Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah berkhianat pada Khalifah Abbasy ar-Raadhi Billaah? Al-Buhiyun (dia seorang Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah berkhianat dan membantu Tartar memasuki Baghdad? Ibnul ‘Alqomi (dia seorang Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah menghiasi perbuatan keji Holago Khan sehingga terkesan baik? Nashir ath-Thusi (dia seorang Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah menolong Tartar dalam penyerangannya terhadap Syam? Kaum Syi’ah Alawiyyun (Rafidhah)

Siapakah yang menjadi sekutu tentara Salib dalam melawan kaum muslimin? ath-Thowasyi dan Fathimiyyun (mereka semua Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah mengkhianati Sultan as-Saljuqi? al-Basasiriy (dia seorang Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah menolong tentara Salib dalam menduduki Baitul Maqdis di Palestin? Ahmad bin ‘Atho (dia seorang Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah merencanakan pembunuhan terhadap Shalahuddin al-Ayyubi? Seorang Syi’ah-Rafidhah.

Siapakah yang telah menemui Holagho Khan di Syam? Kamaluddin ‘Umar bin Badr at-Tiflisiy (dia seorang Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah mencongkel dan mencuri Hajar Aswad dari Ka’bah dan membunuh para jama’ah haji? Abu Thahir al-Qaramithiy (dia seorang Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah membantu Napoleon ketika menyerang Syam? Darwiz (dia seorang Syi’ah-Rafidhah)

DAN BARU-BARU INI…

Siapakah yang telah membunuh warga Palestina di perkemahan Shobro dan Wasyatila? Harokah Amal (gerakan beraliran Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah menyokong penyerangan Zionis terhadap Lebanon Selatan? Harokah Amal (Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah menyerang pusat-pusat sunnah di Yaman? Kelompok Haothi (mereka Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang menyebut perang Amerika menginvasi Iraq sebagai keberkahan? As-Siistaaniy dan al-Hakiim (mereka Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah menyebut perang tentara Salib menginvasi Afganistan sebagai keberkahan? Iran (negeri Syi’ah-Rafidhah)

Siapakah yang telah memerangi dan menindas rakyat muslim di Suriah? Rezim Bassar an-Nushairiy (rezim Syi’ah ultra-ekstrim)

Khawarij juga demikian. Hanya saja mereka berada di kutub seberang jika dibandingkan dengan Syi’ah. Di mana ada Khawarij, di situ ada Syi’ah. Dan di mana ada Syi’ah, di situ muncul Khawarij. Mereka semua adalah para pelaku kerusakan terbesar di muka bumi.

***

Sebagian besar tulisan di atas adalah terjemahan-dengan sedikit perubahan-dari sebuah postingan berbahasa Arab di grup “Tholabatul ‘Ilmi Lombok” (Forum Asatidz dan Thullab Lombok). Wallahua’lam siapa penulis aslinya.

___

Lombok, 14 Dzulhijjah 1436 – 28092015
Abu Ziyan Johan Saputra Halim
kristaliman.wordpress.com
fb.com/kristaliman

Tinggalkan komentar

Kejahatan Syi’ah-Rafidhah di Tanah Haram dari Masa ke Masa

ada tahun 312-H, al-Husein bin Abi Sa’id al-Jinabi, seorang gembong Syi’ah Qaramithah melakukan pembantaian besar-besaran terhadap tamu-tamu Allah di tanah haram. Peristiwa ini dituliskan oleh Ibnu Katsir (wafat: 774-H) dalam bukunya Al-Bidayah wa an-Nihayah (11/149).
Pada tahun 817-H lagi-lagi sekte Syi’ah Qaramithah melakukan pembantaian terhadap ribuan tamu-tamu Allah yang sedang melakukan manasik. Kali ini mayat-mayat mereka dilempar ke sumur zam-zam. Syi’ah Qaramithah juga berusaha menghancurkan Ka’bah, mengoyak-ngoyak kain kiswahnya, mencongkel sekaligus mencuri Hajar Aswad yang tidak kembali kecuali setelah 22 tahun lamanya sejak peristiwa pembantaian tersebut. Tragedi ini juga dikisahkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah-nya.
Di tahun 1406-H, beberapa calon haji beraqidah Syi’ah-Rafidhah tertangkap membawa bahan-bahan peledak  berdaya ledak tinggi, yang (jumlahnya diperkirakan) mampu menghancurkan seisi kota.
Setahun berikutnya pada 1407-H, jama’ah haji Syi’ah Rafidhah melakukan demo besar-besaran di tanah haram. Mereka membuat kekacauan dan keonaran. Membakar api, meneriakkan yel-yel pengkafiran terhadap Daulah Saudi, seraya mengusung-usung poster al-Khomaeni (tokoh Syi’ah Iran). Lantas mereka membunuh ratusan jama’ah haji yang lain.
Pada tahun 1419-H, terjadi peledakan di dekat Masjidil Haram yang dilakukan oleh ekstrimis Syi’ah Rafidhah. Ledakan tersebut telah merenggut jiwa sejumlah besar jama’ah haji. Atas dasar pengakuan para pelaku, Daulah Saudi memberlakukan hukuman mati kepada mereka. Dan Iran justru menamakan mereka sebagai para Syuhada dan bahkan menjuluki mereka -para pembunuh itu- dengan sebutan Auliya-ullah (Wali-Wali Allah).
Pada tahun 1410-H, jama’ah haji Syi’ah Rafidhah (asal Iran) melepaskan gas beracun di distrik al-Mu’aishim yang menewaskan ribuan jama’ah haji. Atas kejadian tersebut, pemerintah Saudi menutup kuota haji untuk Iran sejak tahun 1411-H sampai dengan tahun 1418-H.*

***

*Diterjemahkan dan diringkas dari postingan Ustadzuna Mukti Ali Abdulkarim, Lc. hafizhahullah di salah satu grup WA.

13 Dzulhijjah 1436-H | 27092015
Abu Ziyan Johan Saputra Halim
kristaliman.wordpress.com
fb.com/kristaliman

Tinggalkan komentar

Menakar Analogi “Makam Nabi di Masjid Nabawi”

Lebih dari 60 tahun yg lalu, al-Imam al-Albani rahimahullah telah menulis kitab pertama beliau yang berjudul “Tahdziiru as-Saajid”. Dalam kitab tersebut, beliau memaparkan dalil-dalil dan pendapat Imam Madzhab yang Empat perihal tidak bolehnya sholat di Masjid yang ada kuburannya. Lantas bagaimana dengan Masjid Nabawi dengan makam Nabi yang kini ada di dalamnya…?? Akankah kita mengatakan bahwa sholat di Masjid Nabawi tidak dibolehkan…?? Masih dalam kitab yang sama, al-Imam al-Albani rahimahullah membahas permasalahan ini. Di situ beliau menegaskan bahwa Masjid Nabawi adalah masjid yang berbeda dari keumuman, sehingga ia pun memiliki pengecualian dari keumuman hukum yang berlaku. Dalam artian, sholat di Masjid Nabawi tetap boleh kendati di dalamnya ada makam Nabi kita yang mulia. Mengapa ada pengecualian…?? Karena memang Masjid Nabawi berbeda dengan keumuman masjid lainnya, jika ditilik dari tiga sisi berikut ini: .: Jika masjid lain punya dua kemungkinan terkait kuburan yang ada, maka tidak demikian halnya dengan Masjid Nabawi. Pada keumuman masjid lain, boleh jadi kuburan lebih dulu ada sebelum masjid, atau sebaliknya. Namun keadaan seperti ini, tidak terjadi pada Masjid Nabawi. Karena pada mulanya, Masjid Nabi dengan makam beliau, adalah dua lokasi yang terpisah. Hanya saja belakangan, makam Nabi terpaksa masuk ke dalam masjid karena daruratnya perluasan masjid. .: Dari sisi keutamaan, Masjid Nabawi memiliki kekhususan tersendiri berdasarkan nash yang sharih. Satu raka’at di Masjid Nabawi setara dengan 1.000 raka’at di Masjid yang lain selain Masjidil Haram di Makkah. .: Kemudian dari sisi siapa yang dikuburkan, makam seorang Nabi–terlebih itu Rasulullah–, jelas tidak sama dengan kuburan manusia lainnya. Dari tiga sisi perbedaan di atas, bisa disimpulkan bahwa Masjid Nabawi memiliki kekhususan dari sisi hukum. Sehingga tidak bisa dianalogikan (di-qiyas) ke masjid lain yang ada kuburannya. Alhasil, sholat di Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat makam Rasulullah tetap dibolehkan, namun tidak demikian pada masjid lain yang di dalamnya terdapat kubur. Demikian kesimpulan dari apa yang dipaparkan oleh al-‘Allaamah Ali Hasan al-Halabi hafizhahullah. Wallahua’lam *** Ma’had Abu Hurairah, Lombok-NTB 08 Syawwal 1436 –  24072015 Abu Ziyan Johan Saputra Halim Artikel: kristaliman.wordpress.com Page: fb.com/kristaliman

Tinggalkan komentar

Seluruh Ayat al-Qur’an Bermuara pada Tauhid

Ibnul Qayyim rahimahullah (691-751 H) berkata:

كل آية في القرآن فهي متضمنة للتوحيد شاهدة به داعية إليه، فإن القرآن إمَّا خبر عن الله وأسمائه وصفاته وأفعاله فهو التوحيد العلمي الخبري، و إمَّا دعوة إلى عبادته وحده لا شريك له وخلع كل ما يعبد من دونه فهو التوحيد الإرادي الطلبي، و إمَّا أمر ونهي وإلزام بطاعته في نهيه وأمره فهي حقوق التوحيد ومكملاته، و إمَّا خبر عن كرامة الله لأهل توحيده وطاعته وما فعل بهم في الدنيا وما يكرمهم به في الآخرة فهو جزاء توحيده، و إمَّا خبر عن أهل الشرك وما فعل بهم في الدنيا من النكال وما يحل بهم في العقبى من العذاب فهو خبر عمن خرج عن حكم التوحيد، فالقرآن كله في التوحيد وحقوقه وجزائه وفي شأن الشرك و أهله وجزائه
(مدارج السالكين:450/3)

Intisari dari ucapan Imam Besar berjuluk Syaikhul Islam ats-Tsani di atas adalah, bahwasanya:

Setiap ayat dalam al-Qur’an mengandung esensi ajaran Tauhid. Menjadi saksi bagi Tauhid, dan mengajak kepada Tauhid. Karena kandungan al-Qur’an itu berkisar pada beberapa hal;

  • al-Qur’an berisi kabar tentang Allah, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya (yang Mahasempurna). Ini adalah ajaran Tauhid, yang diistilahkan dengan “at-Tauhiid al-‘Ilmi al-Khobari”.
  • al-Qur’an berisi seruan untuk memurnikan ibadah hanya bagi Allah semata, yang suci dari sekutu dan tandingan. Juga berisi ajakan untuk meninggalkan segala sesuatu yang diibadahi selain Allah. Ini pun ajaran Tauhid, yang diistilahkan “at-Tauhiid al-Iroodiy ath-Tholabiy”
  • al-Qur’an berisi perintah dan larangan, juga perintah untuk kukuh dalam mematuhi Allah pada perintah dan larangan-Nya. Maka ini sejatinya adalah hak-hak Tauhid dan penyempurna Tauhid.
  • al-Qur’an terkadang berbicara tentang pemuliaan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertauhid dan bertakwa, betapa lembut sikap Allah terhadap mereka di dunia dan pemuliaan bagi mereka di akhirat. Maka ini adalah ganjaran atas Tauhid.
  • al-Qur’an terkadang berbicara tentang melapetaka yang menimpa orang-orang musyrik di dunia dan siksaan yang akan mereka rasakan di akhirat kelak. Ini adalah kabar tentang orang-orang yang keluar dari hukum Tauhid.

Maka simpulannya, al-Qur’an secara menyeluruh berisi tentang Tauhid, berisi tentang hak-hak Tauhid, ganjaran atas Tauhid, dan berbicara juga tentang lawan dari Tauhid yaitu kesyirikan, orang-orang musyrik, dan balasan bagi mereka. [Madaarij as-Saalikiin: 3/450]

***

Lombok, 06052015 – 17 Rajab 1436

Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)
-semoga Allah memaafkannya-

Facebook: fb.com/jo.saputra.halim
Twitter: @jsaputrahalim
Page: fb.com/kristaliman

Tinggalkan komentar

Berharap Berjumpa Musuh…??

Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan kepada asy-Syaikh Muqbil bin Hädi rahimahulläh: “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berdo’a, ‘Ya Allah, bukakanlah pintu jihad untukku.” Maka asy-Syaikh Muqbil rahimahulläh menjawab:

الرسول – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – يقول : ” لا تمنوا لقاء العدو وسلوا الله العافية فإذا لقيتموهم فاثبتوا ” ، والرسول – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – يقول كما في حديث سهل بن حنيف : ” من سأل الشهادة بصدق بلغه الله منازل الشهداء وإن مات على فراشه ” فأنت تعمل بكل شيء في موضعه لا تتمنى لقاء العدو ، وتسأل الله الشهادة

“Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jangan kalian berangan-angan untuk bertemu dengan musuh. Mintalah kepada Allah keselamatan. Namun jika kalian (ditakdirkan) bertemu dengan musuh, maka hendaknya kalian kokoh (bersabar dan jangan mundur)’.

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, sebagaimana dalam hadits Sahl bin Hanïf:

“Barangsiapa tulus dan jujur memohon kesyahidan, maka Allah akan menyampaikannya pada derajat para syuhada sekalipun ia wafat di atas ranjangnya.”

Maka engkau—kata Syaikh—hendaknya beramal dengan—amal shalih—apa saja sesuai pada ktempat dan kondisinya, dan jangan berharap untuk berjumpa musuh. Namun mintalah kesyahidan pada Allah.

Catatan: Audio fatwa beliau ini bisa diunduh di sini
http://www.muqbel.net/files/fatwa/muqbel-fatwa3248.mp3

Sumber: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3248

***

Lombok, 04052015 – Rajab 1436
Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)
fb.com/jo.saputra.halim
~semoga Allah memaafkannya~

Tinggalkan komentar

Grafik: Tingkatan Iman pada Takdir Allah

Tingkatan Iman pada Takdir

Tinggalkan komentar

Grafik: Tauhid itu Tujuan Hidupmu

IB-Tauhid tujuan hidup