Tag Archive | Fiqih Madzhab

Puasa; Syarat Sahnya I’tikaf..??

Di antara para ulama ada yang menyatakan bahwa i’tikaf harus dibarengi dengan berpuasa. Ini adalah pendapat Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullâh (wafat: 728-H) sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahullâh (wafat: 751-H) dalam Zâdul Ma’âd (2/83, Cet. Maktabatul Manâr – Kuwait 1415-H): وَلَمْ يُنْقَلْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ اعْتَكَفَ مُفْطِرًا قَطُّ، بَلْ قَدْ […]

Bahasan Ilmiah: Pendapat “Paling Pas” Tentang Tabyiitun Niyyah (Niat Puasa)

Bahasan Ilmiah: Pendapat “Paling Pas” Tentang Tabyiitun Niyyah (Niat Puasa)

Prolog Dalam masalah puasa Ramadhan, para ulama berbeda pendapat terkait kewajiban niat puasa. Setidaknya pendapat mereka terbagi menjadi dua pendapat. Saya (dengan segala keterbatasan ilmu dan kerdilnya amal) mencoba melakukan penelitian  “kecil-kecilan” tentang tema ini demi mencari pendapat yang paling dekat dengan kebenaran. Alhasil, penelitian “kecil-kecilan” tersebut mengantarkan saya pada kesimpulan sementara bahwa pendapat yang […]

Puasa Syawwal: 5 Pelajaran Berharga dari Imam Malik

Puasa Syawwal: 5 Pelajaran Berharga dari Imam Malik

Ada sebuah ungkapan yang—bagi saya pribadi sebagai orang yang awam dalam fiqih madzhab—cukup “mengherankan” dari Imam Malik bin Anas rahimahullaah (wafat: 179-H) tentang sunnah puasa 6 hari di bulan Syawwal. Dalam al-Muwaththa’ Imam Malik[1] disebutkan: قَالَ يَحْيَى: وسَمِعْتُ مَالِكًا يَقُولُ: فِي صِيَامِ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ، «إِنَّهُ لَمْ يَرَ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ […]